Merintis Budidaya Bawang Merah di Lahan Kering

KELEMAHAN, NUSA PENIDA POST

Kondisi geografis Nusa Penida didominasi pegunungan kapur dengan curah hujan minim, praktis lahannya tandus dan kering. Ketiadaan air irigasi membuat masyarakat hanya mengandalkan air tadah hujan untuk kegiatan pertanian. Dampaknya, tidak banyak pilihan tanaman pangan atau sayur yang bisa dibudidayakan, hanya tanaman tertentu yang memerlukan sedikit air. Meski dirasa tidak mungkin bahkan dianggap kurang kerjaan, seorang petani, Made Merta asal Dusun Kelemahan, Desa Suana mencoba budidaya bawang merah di tegalan miliknya yang masuk wilayah Subak Abian Semara Jaya.

Made Merta menunjukkan hasil budidaya bawang merah di lahan kering milknya, Senin (14/1)

Dikonfirmasi Senin siang (14/1) usai panen, Made mengakui hasil panen kali ini cukup bagus meski sempat dilanda kekeringan. Ia juga mengaku tidak belajar khusus tentang budidaya bawang merah hanya otodidak dan kebetulan istrinya dari Kintamani yang dulunya juga membudidayakan bawang merah dan aneka sayuran.

Maan panes mekelo (red; sempat dilanda panas cukup lama) tetapi hasilnya lumayan. Total bibit yang kami datangkan dari Kintamani 100 kilogram. Saya tanam di tegalan seluas lebih dari 2 are. Setelah umur 2 bulan, hari ini dipanen dengan hasil bersih 300-an kilogram. Memang kalau cuaca bagus, pemupukan tepat bisa satu ton hasilnya, nah kita disini lahan kering minim air dan masih tahap uji coba,” tuturnya dengan optimis.

Setidaknya ada tiga jenis bawang yang coba dibudidaya yakni bawang Bali, bawang bombai dan bawang Bali karet. Lahan yang dipilih sengaja bagian ‘abian asah’ lembah yang cenderung lebih lembab dengan ketinggian di atas 350 meter di atas permukaan laut. Menurut Made, tidak ada perlakuan khusus, diawal penanaman hanya dikasi potongan rumput dan dedaunan di atas bibit. Untuk pupuk hanya mengandalkan pupuk kandang dari kotoran ayam.

“Tidak ada perlakukan khusus. Diawal tanam saya taruh rumput di atas tanah usai tanam bibit biar tanah lembab lebih lama. Untuk pupuk hanya dari kotoran ayam, bukan kotoran sapi karena biasanya ada ‘gayas’. Kedepan kalau ada sumber air pasti hasilnya lebih baik,” imbuh Made.

Ketika disinggung masalah harga bawang di pasaran, Made mengaku optimis bisa balik modal. Harga bawang merah diperkirakan berkisar Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per kilogram. Apa yang dilakukan dan dirintas Made Merta setidaknya bisa memberi gambaran bahwa peluang budidaya sejenis meski di lahan kering sekalipun tetap bisa menghasilkan dengan kerja keras.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta