Menyambut Tahun Baru Saka 1937, Warga Turun Gunung Gelar Melasti

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Pagi ini, Rabu (18/3) sejumlah pantai kawasan pesisir Nusa Penida mendadak ramai dengan aliran ribuan umat yang melaksanakan upacara melasti. Ada beberapa titik yang menjadi pusat konsentrasi antara lain, Penida, Bias Mentig, sebelah timur Pura Ped, dan Pantai Suana dekat Pura Batu Medawu, sisanya tersebar merata di sepanjang pantai sesuai dengan wilayah pekraman masing-masing. Iring-iringan  warga tampak mengular dan masing-masing menyertakan gong bale ganjur. Beberapa banjar sudah ada yang melaksanakan melasti Selasa (17/3) kemarin. Upacara melasti merupakan rangkaian Hari Raya Nyepi yang bertujuan untuk menyucikan alam semesta beserta isinya sebelum pelaksanaan brata penyepian.

Warga beriringan menuju pantai untuk melakukan upacara Melasti

Warga beriringan menuju pantai untuk melakukan upacara Melasti

“Pemelastian sendiri dipusatkan di pantai masing-masing Desa Pakraman sementara wilayah Nusa Penida barat dan sekitarnya berpusat di Pura Penataran Ped,” ujar I Wayan Supartawan selaku Majelis Alit Desa Pakraman Kecamatan Nusa Penida, Senin (16/3).

“Pelaksanaan upacara tawur kesanga Kecamatan Nusa Penida dipusatkan di lapangan umum Sampalan sementara untuk dimasing-masing Desa Pakraman pelaksanaannya setelah selesainya upacara tawur kesanga di lapangan,” imbuh Supartawan.

Supartawan juga menghimbau agar pengarakan ogoh-ogoh sesuai dengan aturan yang ada guna meminimalisasi terjadinya konflik.

“Kami menghimbau kepada sekaa teruna yang akan mengarak ogoh-ogoh memenuhi aturan atau awig-awig yang berlaku di Desa Pakraman masing-masing agar berjalan lancar. Pecalang dan warga diharapkan turut andil mengamankan jalannya pengrupukan serta pihak keamanan juga berperan aktif,” pintanya lagi.

Sementara Kapolsek Nusa Penida,  Kompol I Nyoman Suastika saat dikomfirmasi mengatakan kesiapan personilnya untuk mengamankan prosesi pengrupukan. “Kami siap terjunkan personilnya di lapangan. Kami berharap semua lapisan warga berkordinasi agar berjalan lancar,” cetus Suarsika.

Polres Klungkung Siaga Amankan Perayaan Nyepi

Polres Klungkung yang dikonfirmasi Selasa kemarin terkait pengamanan Nyepi dipastikan menerjukkan 2/3 personilnya. Ritual pengarakan ogoh-ogoh yang rentan memicu gesekan juga menjadi fokus pengamanan.

“Yang paling kita harus waspadai saat melakukan pengamanan adalah pada malam pengerupukan. Dimana saat itu masing-masing banjar yang ada di Klungkung akan mengeluarkan ogoh-ogoh dan mengaraknya keliling desa,” kata Kapolres Klungkung AKBP Dra. Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati SiK, di Mapolsek Klungkung.

Menurutnya kerawanan kerap terjadi dengan adanya gesekan antar warga akan semakin nyata saat para pengarak ogoh-ogoh melintasi daerah perbatasan desa dan saling berpapasan. Sangat disayangkan pula bahwa sebelum mengarak ogoh-ogoh, banyak peserta yang mengkonsumsi minuman keras. Data yang diperoleh dari sejumlah sumber, setidaknya ada 382 ogoh-ogoh di Kabupaten Klungkung. Masyarakat di Kecamatan Klungkung sendiri membuat sekitar 112, berikutnya Banjarangkan dengan 135 ogoh-ogoh, Dawan 96 buah, dan Nusa Penida sebanyak 39 ogoh-ogoh.

Personil yang diturunkan akan disebar ke semua titik pengarakan ogoh-ogoh, Polres dalah hal ini juga berkoordinasi dengan pecalang Desa Adat setempat. Sejauh ini, Polres Klungkung sudah menggelar Operasi Cipta Kondisi yang menyasar peredaran minuman keras, narkoba dan senjata tajam. Hingga detik ini sebanyak 125 liter arak berhasil disita.

Pada perayaan Nyepi nanti semua warga tidak terkecuali Polres Klungkung tidak bisa bebas melakukan patroli kecuali berkoordinasi dengan pihak adat dan pecalang setempat. Segala aktivitas akan berhenti total selama 24 jam mulai pukul 06.00 wita s/d 06.00 wita keesokan harinya, terkecuali orang-orang yang memerlukan pertolongan sangat darurat, seperti orang sakit dan yang mau melahirkan.

Pada kesempatan tersebut Kapolres menghimbau kepada seluruh masyarakat agar sebelum dan sesaat mengarak ogoh-ogoh tidak meminum minuman beralkohol terlebih dahulu dan tidak mabuk-mabukan, sehingga tidak mengundang kerawanan yang berujung konflik. Warga yang bepergian atau yang mempunyai aktivitas di luar rumah juga diminta tidak menggunakan perhiasan yang berlebihan yang dapat memancing niat seseorang untuk melakukan kejahatan.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi