Warning: Use of undefined constant ‘DISALLOW_FILE_EDIT’ - assumed '‘DISALLOW_FILE_EDIT’' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Menilik Kiprah Petani Jeruk Di Desa Batumadeg
 

Menilik Kiprah Petani Jeruk Di Desa Batumadeg

BATUMADEG, NUSA PENIDA POST

Ketika berbicara tentang komoditi jeruk, secara otomatis pikiran langsung merujuk ke kawasan Kintamani yang memang menjadi sentra produksi jeruk di Bali. Namun siapa sangka, kawasan perbukitan bagian barat Nusa Penida, tepatnya di Desa Batumadeg kini disulap menjadi perkebunan jeruk. Secara geografis Desa Batumadeg berada di kawasan barat dengan ketinggian di atas 500 meter di atas permukaan laut. Idealnya setiap kenaikan 100 meter suhu turun 0.6 derajat sehingga suhunya lebih dingin dari kawasan pesisir dengan suhu rata-rata 27 derajat celsius.

Area kebun jeruk di Desa Batumadeg

Area kebun jeruk di Desa Batumadeg

Upaya kreatif petani jeruk sejak sepuluh tahun belakangan sudah membuahkan hasil. Stigma sebagai daerah kepulauan kering yang minim produktivitas kini berganti menjadi area produktif bahkan diharapkan bisa menjadi destinasi wisata organik. Sepanjang Juni hingga Juli merupakan musim panen raya dengan tiga tahap pemetikan buah. Rasa buahnya lebih manis meski ukurannya lebih kecil dari jeruk umumnya.

“Masyarakat Batumadeg telah membudidayakan jeruk cukup lama. Areal tanaman jeruk lebih dari 5 hektar bahkan semakin bertambah. Ada sekitar 40 warga menanam jeruk,” ujar I Kadek Yuni Suhendra tokoh muda Batumadeg disela pendampingan menuju objek wisata Temeling, Sabtu (20/6)

“Kalau tiang baru mulai menanam jeruk lima tahun lalu tetapi rekan-rekan petani lain sudah mulai sekitar tujuh bahkan sepuluh tahun lalu,” terang petani jeruk, Jero Mangku Kadek Santia yang dikonfirmasi sore kemarin (22/6).

“Produksi jeruknya cukup bagus dengan rata-rata 10 kilogram per pohon. Untuk harga berada di kisaran Rp 7.500 hingga Rp 8.000 per kilo dan kita tidak susah menjual karena ada pengepul yang langsung datang ke kebun,” imbuh Mangku Kadek.

Ketika ditanya peran dari instansi terkait, Mangku Kadek mengakui awalnya memang diinisiasi oleh dins namun akses bantuan untuk bibit, penyuluhan dan pupuk sangat terbatas terutama bagi petani baru yang belum punya kelompok tani. Diakuinya, bibit jeruk dibeli sendiri dari Singaraja.

“Sebagai petani kami berharap perhatian pemerintah dalam bentuk penyuluhan ataupun bibit termasuk pupuk. Peluang ini cukup menjanjikan dengan memberdayakan petani, kalau di Bedugul ada petik strawberi langsung bagi wisatawan, siapa tahu kita juga bisa mengembangkan potensi petik jeruk langsung,” harapnya.

Selama ini hampir seluruh hasil panen jeruk petani bisa terserap sepenuhnya di pasaran. Salah satu pengepul, Ni Made Selim mengakui peluang pemasaran jeruk sangat terbuka terutama untuk pasar lokal dan mensuplai kebutuhan buah daerah wisata Lembongan dan Jungut Batu.

“Buah yang dibeli dari petani langsung tiang kirim ke Pasar Mentigi terutama pas rainan (red; hari raya) untuk masyarakat lokal selebihnya dikirim ke wilayah Lembongan dan Jungut Batu. Untuk sekali angkut biasanya saya kirim 60 hingga 80 kilo,” papar Made (22/6).

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta