Mengolah Sampah Upakara Yadnya Menjadi Pakan Ternak

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST
Busung (red: daun kelapa yang masih muda) merupakan bahan dasar upakara dalam kegiatan yadnya agama Hindu. Canang sari, daksina, penjor dan upakara banten lainnya adalah sarana yang berbahan dasar busung. Setelah upacara selesai misalnya pada kegiatan di pura, di rumah maupun di perempatan akan menyisakan banyak sampah busung. Selama ini sampah-sampah tersebut dibuang ke laut, dibakar dan ada pula yang menanamnya dalam tanah.

Sampah-sampah sisa kegiatan  yadnya ini merupakan sampah organik. Apabila dibuang kelaut maupun ditanam akan terurai dengan sendirinya. Tetapi dengan skala lebih kecil dari sampah anorganik semisal plastik tetap saja mencemari lingkungan. Untuk mengurangi dampak pencemaran sampah yang berasal dari sisa  upakara yadnya khususnya busung, bunga, pelepah kelapa, sisa kelapa gading dan sejenisnya dibutuhkan kreatifitas  untuk mengolah  sehingga menjadi bermanfaat. Sisa sampah upakara bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak yakni pakan sapi, babi ataupun sebagai pupuk kompos.

Pengolahan sampah upakara Yadnya menjadi pakan ternak  ini diungkapkan Bayu Wirayudha (46 th)  direktur FNPF Kamis 2/10/2013. Lelaki yang getol melestarikan satwa dan lingkungan Nusa Penida ini mengatakan bahwa Ia pernah mencoba hal itu di lingkungan Pura Dalem Ped pada tahun 2011. “Melihat sampah yang menumpuk cukup banyak di areal pura, terlebih pada saat hari raya besar agama Hindu dan piodalan sehingga Saya terpikir untuk memanfaatkannya,” ujar Bayu lirih.

“Dengan metode penghancuran dengan mesin blender, busung, pelepah kelapa dan bunga bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak. Tetapi terlebih dahulu difermentasi dengan effective microorganism (EM4) yang ditambahkan pada sampah yang telah diblender kemudian ditutup dalam drum atau tempat kedap udara sekitar  5 sampai 7 hari,” terang pemimpin yayasan FNPF yang sedang aktif mengembangkan pertanian organic di Nusa Penida ini.

Apabila sampah organic bersumber dari sisa upakara yadnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, maka akan bermanfaat ganda yaitu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus  berguna bagi peternak sapi maupun babi. Namun kendala yang Ia hadapi selama ini adalah penggunaan staples sebagai perekat canang, penjor dan banten lainnya. Padahal staples apabila  termakan oleh ternak akan mengganggu pencernaan ternak itu sendiri. “Harus ada upaya pencabutan staples yang berbahan dasar stainless sebelum diblender untuk menghindari ini dikonsumsi ternak dan membahayakan pencernaannya,” ungkap Bayu dengan mimik serius.

SAMPAH

Tumpukan Sampah sisa upacara Yadnya

Ketika dikonfirmasi Jumat, 4/10/2013 ke pengayah Pura Dalem Ped I Wayan Tirah (60 th) mengungkapkan bahwa volume sampah sangat banyak hingga  1 mobil pick up perhari. Volume ini akan drastis meningkat ketika hari-hari besar Agama Hindu sampai 10 pickup bahkan lebih, khususnya pujawali Buda Cemeng Klawu. Biasanya sampah-sampah di Pura Dalem Ped ini akan dikumpulkan kemudian dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA)  terdekat di Biaung yang jaraknya kurang lebih 500 meter. “Kami para pengayah Pura Dalem Ped yang bertugas membersihkan  areal pura paling mengumpulkan bunga kamboja yang akan dikeringkan kemudian Kami jual. Selebihnya sampah-sampah sisa upacara yadnya akan dibuang,” ujar pria yang sehari-harinya sebagai pengayah tetap di Pura Dalem Ped ini.

Ketika ditanya tentang pemanfaatan sampah upakara yadnya untuk pakan ternak, I Wayan Tirah yang akrab dipanggil Pak Narmin ini mengungkapkan dengan Bahasa Nusa Penida “Bagus to, gel ibe yen nyidang hento, luhu te ilang, sampi te aluh ngaliang amane” (red: gagasan bagus itu, kita bisa menghilangkan sampah dan mencari pakan sapi menjadi gampang).
Reporter & Editor : I Wayan Sukadana