Menggelikan, Prilaku Nyleneh Caleg Gagal

SUANA, NUSA PENIDA POST

Pemilu legislatif, 9 April 2014 menyisakan berbagai cerita miring mengenai tingkah nyleneh (red; aneh) terutama para caleg yang gagal naik tahta. Ada 55 calon legislatif untuk DPRD Tingkat II dapil Nusa Penida, namun dari jumlah tersebut, hanya 8 kandidat yang berhak duduk di lembaga dewan. Sekitar 85,6% calon dipastikan tidak lolos dan mesti menunggu pemilu lima tahun lagi. Ketatnya persaingan perebutan kursi dewan membuat puluhan caleg mengalami depresi dan terkadang berbuat diluar akal sehat. Mahalnya ongkos politik yang harus dikeluarkan diduga memicu tekanan psikologis ditambah jumlah suara yang diraup tidak sesuai harapan yang berujung pada gagalnya sang calon

Prilaku mengggelikan dilakukan salah satu kandidat legislatif yang berinisial KR. Akibat minimnya dukungan yang diperoleh, KR yang berasal dari parpol besar itu memblokir sejumlah lokasi yang menjadi akses warga di sekitar tempat tinggalnya, tepatnya di Banjar Suana, Desa Suana, Nusa Penida. Prilaku kurang etisnya ini mengundang cibiran dan cercaan dari masyarakat.

Akses warga yang diblokir oleh KR dengan batako

Akses warga yang diblokir oleh KR dengan batako

“Ini caleg buduh, tidak siap kalah, hanya siap menang saja. Seharusnya ia bersikap ksatria dan legowo menerima apapun hasilnya. Tindakannya ini sudah jauh menyimpang dan tidak mencerminkan kedewasaan dalam berpolitik, kayaknya masih labil,”  gerutu I Ketut Dana yang dimintai pendapatnya, Senin, (14/4).

Menurut warga sekitar, pemblokiran dilakukan setelah pelaksaan pileg. KR tidak terima dengan tindakan warga yang tidak mendukung sepenuhnya.

“Sepertinya dia kecewa karena tidak mendapat suara sesuai keinginan dan sedikit dukungan. Pemilu sebelumnya dia juga tidak lolos,” kata warga setempat dengan nada agak ketus sembari meminta namanya tidak disebutkan.

Dikonfrimasi terpisah, Perbekel Desa Suana, I Putu Rai Sudarta sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh KR. Putu berharap, permasalahan ini cepat diselesaikan agar tidak merugikan masyarakat.

Reporter: Santana Ja Dewa & I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi