Mengenal Bunga Gamal ‘Sakura’ Nusa Penida

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Sebagai daerah kepulauan kecil, topografi kepulauan yang berada di Tenggara Bali ini didominasi perbukitan kapur dengan lapisan tanah yang sangat tipis. Minimnya curah hujan juga membuat hanya tanaman yang memiliki adaptasi tinggi bisa tumbuh dengan baik. Gamal merupakan satu dari sekian tanaman yang tersebar merata hampir di seluruh wilayah. Pohon yang masuk polong-polongan ini mudah tumbuh di lahan tandus dan minim air. Gamal secara akronim berarti ganyang mati alang-alang pada awalnya ditanam sebagai herbisida alami alang-alang dan penghijaun.

Tidak hanya daunnya yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bunga gamal juga indah menawan

Tidak hanya daunnya yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bunga gamal juga indah menawan

Menurut I Ketut Pesta, tanaman dengan nama Latin Gliricidia Sepidium atau disebut kelor laut mulai dikenalkan pada 1974 dalam bentuk demplot. Pada tahun berikutnya, tanaman ini mulai ditanam secara massal oleh masyarakat termasuk lamtoro dan kaliandra. Menurutnya motif utama penaman gamal bukan untuk penghijaun tetapi sebagai pakan ternak.

“Tanaman gamal ditanam di Nusa Penida untuk pertama kalinya pada tahun 1974 pada sebuah kebun denplot percontohan di Penggong, Mentigi di belakang kantor kehewanan. Masyarakat menanam gamal secara massal mulai sekitar tahun 1980 bersama lamtoro gung dan kaliandra. Motifnya sebenarnya bukan untuk penghijauan seperti yang diharapkan oleh pemerintah tetapi sebagai makanan ternak sapi,” terang Ketut

“Gamal dalam bahasa Bali disebut brere dan karena bunganya yang indah, bersemi dimusim panas, orang asing menyebutnya sebagai ‘cherry blossom’ dan malah ada yang mengidentikkan dengan sakura no hana seperti yang tumbuh di Jepang,” lanjutnya.

Hingga kini program penanaman gamal menjadi proyek yang paling berhasil sebagai pakan ternak sapi. Berbahan pakan alami ini, sapi lokal terkenal memiliki kualitas unggul yang bebas penyakit. Tidak hanya daunnya yang menjadi sumber pakan utama ternak, bunga gamal pun kini mulai dilirik berkat warna indahnya. Bunga gamal mulai mekar awal Agustus hingga Nopember seiring rontoknya daun di musim panas. Bunga akan tumbuh mekar pada ranting yang tidak potong minimal dalam satu tahun, bahasa lokalnya ‘tanek’ (red; tidak dipotong). Seluruh kawasan hutan, lembah dan perbukitan pun berubah menjadi ungu mirip musim bunga sakura di negeri matahari terbit. Selain pemanfaatan menjadi pakan ternak dan bunga pink-nya, daun gamal muda dan irisan kulit rantingnya dijadikan bahan obat luka. Caranya sederhana, cukup dengan meremas daun hingga keluar cairan da dioleskan pada bagian luka.

Tidak disangka bunga gamal yang hanya dianggap makanan sapi dan obat metatu (red; luka) ternyata memiliki pesona lain, bunganya pun bisa menjadi daya tarik wisata yang tentunya harus impor, cukup berkunjung ke Nusa Penida. Pada perhelatan festival kemarin, bunga gamal mendadak terkenal meski daunnya gugur ketika berbunga. Para peserta touring dari ASITA Bali dan Program Ayo Jalan-jalan Radio Phoenix disambut dengan pemberian bunga gamal yang dilakukan langsung Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta. “Ini adalah bunga gamal yang tumbuh di Nusa Penida. Warnanya pink dan indah, tidak kalah dengan bunga sakura di Jepang,” ucap Suwirta pada peserta, Jumat pagi (8/10).

Peserta touring kaget dan tak menyangka bunga pink itu adalah bunga gamal. “Saya tidak menyangka itu bunga tamal, tetapi ketika kami melewati beberapa perbukitan ternyata benar banyak bunga gamal yang menghiasi bukit-bukit di Nusa Penida. Indah sekali,” ujar.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi & I Komang Budiarta