Warning: Use of undefined constant DISALLOW_FILE_EDIT - assumed 'DISALLOW_FILE_EDIT' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Menengok Taksu Nusa Penida di Pesta Kesenian Bali ke-35
 

Menengok Taksu Nusa Penida di Pesta Kesenian Bali ke-35

Nusa Penida Post vol 25

Download Nusa PenidaPost Vol 25 Klik Gambar di atas!!!

DENPASAR, NUSA PENIDA POST
Pesta kesenian Bali (Bali Art Festival) merupakan ajang membangkitkan sekaligus promosi berbagai kebudayaan dan kesenian baik untuk Bali sendiri maupun daerah luar, termasuk mancanegara. Tema yang diangkat pada perhelatan budaya kali ini adalah taksu, sebagai spirit yang menjadi roh budaya Bali.

Festival yang digagas oleh mantan Gubernur Bali, almarhum Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada 35 tahun yang lalu ini, masih menjadi ruang terbesar bagi para seniman Bali untuk mengekpresikan diri. Pentas akbar budaya menjadi bukti betapa kayanya khasanah seni dan budaya yang ada di Pulau Dewata.

Secara khusus, setiap kabupaten diwajibkan untuk menampilkan keistimewaan budaya dan seni masing-masing. Merujuk ke stand Kabupaten Klungkung, berbagai hasil karya dipamerkan seperti kerajinan perak, tenun maupun kerajinan tangan lainnya. Dalam kesempatan yang berharga ini Nusa Penida diberi kesempatan untuk mewakili Kabupaten Klungkung dalam mengisi stand. Berdasarkan penelusuran tim Nusa Penida Post (24/6), terdapat berbagai hasil karya khas Nusa Penida “Ne ada tenun rangrang, cepuk, tapih ajak agal” (red; ini ada kain rangrang, cepuk, tapih dan agal), tutur Nusantari sembari menunjukkan kerajinan yang  dimaksud.

Ni Wayan Luh Nusantari (39 tahun) mengakui kegiatan menenun sudah dilakoni sejak puluhan tahun dan menjadi pekerjaan utama. Ia pun menambahkan bahwa untuk pembuatan 1 lembar kain tenun memakan waktu ratarata 3 minggu. “Lamen ye seleg, telung minggu nyidang ye mragatang, tergantung penenun jani, nak ada penenun lemah peteng pragat nenun dwang ye ne,” (red; kalau penenunnya ulet, dalam tiga minggu bisa menghasilkan satu karya tetapi tergantung keterampilan penenun itu sendiri), imbuh ibu dua anak yang berasal dari Banjar Karang, Desa Pejukutan.

Cepuk rangrang

Ni Wayan Luh Nusantari menunjukkan salah satu hasil karya asli Nusa Penida, yaitu kain Rangrang, Agal dan Tapih

Berdasarkan penuturannya, rata-rata harga kain tenun khas Nusa Penida Rp. 500.000,- ke atas. Pada kesempatan itu juga, ia memperlihatkan kain agal jaman dulu yang bahannya 100% alami. Untuk saat ini, kain tersebut dibandrol Rp. 2.500.000,- Sayangnya, kain tersebut jarang diproduksi lagi karena sangat rumit dalam teknik motif dan bahan.

Selain kerajinan di atas, sebenarnya masih ada hal lain yang bisa dipamerkan antara lain miniatur jukung maupun makanan olahan rumput laut dari Banjar Batumulapan tetapi diakuinya kesempatan sangat terbatas. “Kita memang diundang oleh pemkab untuk mewakili, tetapi sebelumnya dicek untuk bukti nyata bahwa kita memang mampu” papar I Wayan Sukerta selaku Bendesa Desa Pekraman Karang yang ikut mendampingi. Sukerta pun berencana menjalin kerja sama dengan mall-mall dalam pemasaran sehingga pengrajin bisa langsung memasarkan hasil karyanya tanpa pengepul. (Puyung)