Menelusuri Jejak Kasus Kematian Angeline, Siapa Dalangnya?

DENPASAR, NUSA PENIDA POST

Publik Bali bahkan masyarakat Indonesia dalam satu bulan belakangan dihebohkan oleh kasus hilangnya anak kecil bernama Angeline. Bocah umur 8 tahun yang tercatat sebagai siswa kelas dua di SD N 12 Sanur dilaporkan hilang dari rumah ibu angkatnya Margareith Megawe, Jalan Sedap Malam No. 26 Sanur, Denpasar sejak 16 Mei 2015. Aksi pencarian besar-besar pun dilakukan, baik dari aparat kepolisian, LSM, KPAI bahkan pencarian berjejaring di media sosial juga muncul berupa fanpage di facebook “Find Angeline – Bali’s Missing Child”.

Dalam akun yang diunggah kakak tiri Angeline, Christin dan Ivon juga menyertakan sayembara bagi yang menemukan Angeline akan diberikan uang sebesar Rp 40.000.000. Selama dalam proses penyelidikan, sikap tertutup keluarga terutama Margareith Megawe, wanita asal Kalimantan yang menjadi ibu angkat Angeline membuat publik ragu. Keterangan yang diberikan dinilai bertolak belakang dengan kondisi kesehariannya setelah dikonfrontir sejumlah saksi termasuk wawancara dengan awak media.

Kunjungan sejumlah pejabat negara baik Menteri Yohana Yambesi dan Yuddi Chrisnandi juga tidak memberi ruang. Tidak seperti keluarga lain yang kehilangan keluarga pasti akan terbuka menerima bantuan namun pihak Margareith Megawe justru bungkam. Dari sinilah kemudian prilaku buruknya terhadap Angelina kecil pelan-pelan mulai terkuak.

Angeline diketahui hilang dari rumahnya, 16 Mei lalu dan ditemukan terkubur di dekat kadang ayam (10/6)

Angeline diketahui hilang dari rumahnya, 16 Mei lalu dan ditemukan terkubur di dekat kadang ayam (10/6)

Berdasarkan penelusuran ke sejumlah sumber, Angeline diadopsi oleh Margareith Megawe sekitar 8 tahun lalu dari Amidah (28), ibu kandung Angeline yang berasal asal Banyuwangi. Angelina merupakan anak kedua dari pasangan Amidah dan Rosidik. Menurut keterangan. Amidah merelakan anaknya diadopsi karena pihak Margareith Megawe memberi bantuan biaya persalinan sebesar Rp 800.000 dan biaya kesehatan sebanyak Rp 1.000.000. Dalam perjanjian yang dibuat di salah satu notaris juga menyepakati bahwa pihak pengadopsi wajib menyayangi dan memperlakukan Angeline seperti keluarga sendiri termasuk pemberian warisan. Disinilah masyarakat menaruh curiga atas kematian Angeline. Meski belum pasti, informasi menyebutkan bahwa almarhum suami Margareith Megawe yangmerupakan warga asing menyisakan sejumlah warisan baik rumah, toko maupun vila. Motif inilah yang dianggap menjadi latar belakang kasus tragis yang menimpa bocah malang, Angelina.

Dalam kesehariannya, Angeline kerap kali diperlakukan kasar oleh ibu angkatnya. Gadis kecil ini sering terlambat datang ke sekolah dan dalam kondisi yang tidak sehat dan kotor. Para tetangga yang ada di sekitar tempat tinggal Angeline juga menyatakan prilaku Margareith Megawe sangat tempramental dan tertutup. Kesaksian dari wali kelas Angeline, Putu Sri Wijayanti yang menyebut bocah malang itu sering terlambat tiba di sekolahnya, SDN 12 Sanur dengan alasan harus memberi makan ayam yang jumlahnya ratusan. Pada beberapa kesempatan, para guru juga sempat memandikan Angeline di sekolah mengingat kondisinya memprihatinkan.

“Rekan guru juga sempat memandikan Angelina karena anaknya sering terlihat kotor,” terang I Kadek Sumawa, guru SD N 12 Sanur yang juga kontributor Nusa Penida Post.

Kronologis Hilangnya Angeline Hingga Ditemukan Terkubur Dekat Kandang Ayam

Sabtu, 16 Mei 2015

Angeline diketahui hilang di depan rumahnya kawasan Sedap Malam No. 26 Denpasar, Sabtu sore (16/5). Kasus ini baru dilaporkan tiga hari setelah kejadian ke Polsek Denpasar Timur. Berbagai instansi terlibat langsung melakukan pencarian tetapi hasil nihil. Satu hari setelah kejadian, kakak Angeline membuat akun di media facebook untuk meinta bantuan mencari Anglina. Dalam akun juga diunggah foto manis dan ceria Angeline. Namun masyarakat menganggap ini rekayasa semata mengingat sejumlah saksi mengetahui bagaimana perlakuan buruk terhadap Angelina.

Senin, 18 Mei 2015

Setelah merima laporan, polisi langsung melakukan pencarian terhadap Angeline. Sejumlah saksi juga diperiksa termasuk pembantu rumah tanggga bernama Agus yang belakangan setelah kasus ini terungkap dijadikan tersangka. Dalam proses pencarian, LSM juga menyebar pamflet berisi foto Angeline. Awak media juga tiada henti mendatangi rumah keluarga di Jalan Sedap Malam No. 26 termasuk ke sekolah Angeline, SD N 12 Sanur.

“Dia itu anak angkat, diadopsi waktu berumur 3 hari. Ada surat-surat angkatnya,” kata Kapolsek Denpasar Timur Kompol Gede Redastra seperti dilansir dari detikcom, Selasa (19/5/2015).

Pada hari yang sama, Agus dipecat dan diusir dari kediaman Margareith pada tanggal 18 Mei 2015. Agus dianggap lalai dalam mengurus rumah.

“Diusir dari pekerjaannya. Pada tanggal 18, banyak tamu, rumah dalam keadaan kotor. Agus dimarahi oleh Margareith, lalu diusir,” tutur Kapolresta Denpasar, Anak Agung Made Sudana.

Sikap Margareith yang temperamental kembali ditunjukannya ketika Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mendatangi rumahnya Minggu lalu (24/5).

“Kita berkunjung bukan ke rumah, tetapi ke kandang ayam, ibu dari Angeline juga terlihat temperamental dengan mengancam seperti itu, mungkin juga karena luapan emosi seseorang yang tidak bisa dia bendung setelah anaknya hilang,” ujar Arist saat menyampaikan hasil kunjungannya di Mapolresta Denpasar, Senin (25/5).

Jumat, 5 Juni dan Sabtu dan 6 Juni 2015

Menteri MenPAN RB Yuddy Chrisnandi dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengunjungi rumah korban namun tidak ada pihak yang membuka pintu pekarangan rumah. Menurut keterangan Kapolda Bali, Irjen Ronny F. Sompie pihak kelurga membutuhkan ketenangan. Ulah keluarga semakin membuat publik membuat penghakiman sendiri yang justru memojokkan keluarga korban.

Rabu, 10 Juni 2015

Menjadi titik akhir pencarian Angelina. Kasus ini terungkap berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan security di rumah korban, Dewa Ketut Raka dari perusahaan jasa keamanan PT Surya Patriot Mandiri. Oleh Cristina, Raka hanya diminta untuk menjaga bagian depan rumah saja. Saat malam pun untuk sekedar buang air besar, Raka harus ke tempat lain. Raka akhirnya melaporkan ketidaknyaman itu kepada perusahaannya dan meminta kelonggaran.

Keganjilan inilah yang semakin membuatnya curiga, Pada beberapa kesempatan, Raka yang masuk ke rumah melihat Margareith berdiri dan memantau lubang. Kejadian in akhirnya dilaporkan. Pihak kepolisian akhirnya pun berhadil mengendus lokasi lubang tempat tubuh Angelina dikuburkan. Kecurigaan menguat karena Margareith meninggalkan rumah dengan alasan pergi makan ketika tim gabungan tiba. Tepat di belakang kandang ayam, di bawah pohon pisang, tubuh Angelin kecil dikubur dan ditutupi sampah dan daun pisang.

“Jenazah tersebut tidak lain adalah Angeline yang selama hampir sebulan kami cari. Pada tubuh jenazah terlihat bekas jeratan tali di leher, yakni empat lilitan,’’ jelas Sudana.

Tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) juga mengamankan sebuah sekop dan cangkul di dekat tempat Angeline dikubur serta kain seprai dan baju yang ditemukan di kamar Margareith untuk dibawa ke Labfor.

Sejumlah orang terdekat penghuni rumah diangkut ke Mapolresta guna dimintai keterangan. Polisi juga menemukan rerajahan di bawah bantal Margareith Magawe. Berdasarkan hasil fisum, ditemukan sejumlah luka di tubuh Angelina. Kepolisian bergerak cepat dengan memerikas sejumlah saksi dan hasil sementara, pelaku adalah Agus, mantan pembantu korban. Pembuhan keji ini dilakukan untuk menutupi prilaku Agus yang sempat melakukan kekerasan seksual kepada korban. Agus pun dijerat pasal 35 UU Perlindungan Anak juncto pasal 80 ayat 3 KUHP, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Berdasarkan keterangan, Angeline dibunuh di lantai dua rumah ibu angkatnya saat kondisi rumah dalam keadaan sepi. Meski demikian, Margareth, ibu angkat Angeline tengah di dalam rumah saat kejadian.

“Ibu Margareth ada di dalam rumah,” kata Sudana di Mapolresta Denpasar, Rabu 10 Juni 2015.

Agus membunuh Angeline persis di depan kamar Margareth. Anehnya, saat diperiksa polisi, Margareth mengaku tak tahu kejadian pembunuhan anak angkatnya tersebut. hingga saat ini polisi belum menyimpulkan keterlibatan Margareth dalam kasus ini.

Siti Sapurah dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar justru meyakini bahwa ibu angkatnya menjadi dalang dibalik kasus ini. Ipung bahkan percaya pembunuhan terhadap Angeline adalah soal warisan. Dalam pembagian warisan

“Yang membunuh ibu angkatnya, yang menguburkan Agus. Agus memang sempat memperkosa Angeline,” kata Ipung, usai mendengarkan Agus diinterogasi penyidik Polresta Denpasar.

“Foto yang disebar juga sangat baik. Angeline terlihat bersih. Padahal, kenyataannya Angeline sangat kurus dan terkesan dekil. Foto itu saya yakini didesain orang profesional. Skenario sudah disiapkan soal pembunuhan Angeline ini,” tutur Ipung panggilan Siti Sapurah.

Beberapa pihak meyakini ada skenarion yang sudah dibangun namun penyidik dituntut lebih bekerja ekstra untuk mengungkap kasus ini secara gamblang. Kasus ini begitu terang, terlepas dari ada tidaknya konspirasi atau persekongkolan. Keterangan tidak sinkron dari pihak keluarga ditambah keterangan saksi dan bukti yang ada bisa menjadi celah bagi penyidik. Hingga hari ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan intensif meski hanya baru satu tersangka yang ditetapkan.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta