Menelisik Kearifan ‘Ulu Apad’ Budaya Bali Mula di Desa Bayung Gede

DENPASAR, NUSA PENIDA POST

Sejumlah desa kuno di Bali atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bali Mula memiliki berbagai keunikan budaya dan tradisi. Desa Bali kuno tersebar di wilayah Karangasem, Singaraja dan khusus di Kabupaten Bangli terdapat beberapa desa Bali Aga yakni Trunyan yang dikenal dengan pola pemakaman tradidionalnya, Penglipuran dengan gapura khasnya dan juga Desa Bayung Gede yang memiliki pola kepemimpinan khusus yang disebut ‘Ulu Apad’. Peninggalan ini setidaknya menjadi gambaran kehidupan masa lampau, jauh sebelum kedatangan orang-orang majapahit.

Keunikan sistem Ulu Apad di Desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Bangli dibedah dalam seminar sastra dan budaya di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana yang berlangsung Jumat kemarin (29/7). Seminar dengan tema ‘Sistem Politik Lokal Masyarakat Bali Mula di Bayung Gede pada Era Modern’ menghadirkan sejumlah pakar yakni Ni Ketut Nugrahaningari, I Dewa Gede Adi Praman, Zainal Mukhsen dan Heri Purwanto. Acara dimoderatori langsung oleh Dr. Ketut Darmana, M.Hum. Sistem politik dan kebijakan lokal menjadi sangat menarik ditengah isu politik modern yang cenderung liar dan tidak stabil.

Seminar Sistem Politik Lokal Masyarakat Bali Mula di Bayung Gede pada Era Modern di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Seminar Sistem Politik Lokal Masyarakat Bali Mula di Bayung Gede pada Era Modern di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Desa Bayung Gede hingga kini masih memegang teguh sistem kepemimpinan yang mengedepankan posisi pemimpin yang diurut sesuai senioritas pernikahan. Keistimewaan lain,masyarakat menganut sistem monogami, jika ada yang memilik dua istri maka statusnya sebagai krama ngarep (red; utama) akan dihilangkan termasuk hak-haknya untuk mendapatkan tanah desa. Secara adat kepemimpinan Ulu Apad dikendalikan oleh 16 orang yang disebut Paduluan Saih Nem Belas dengan pemimpin utama Jero Kubayan Mucuk. Masih ada tiga keluarga senior di bawah pemimpin utama yang dibebaskan dari berbagai kewajiban. Pemimpin Ulu Apad tidak hanya menangani masalah adat namun juga persoalan lain baik politik, budaya, ekonomi dan hukum yang disesuaikan dengan aturan yang ada. Hingga kini masyarakat Bayung Gede masih menjalankan tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Menurut Nugrahaningari dan Heri Purwanto, penelitian terhadap sistem adat Ulu Apad bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami pola strategi sistem tersebut dalam menghadapi pola modern yang jauh berbeda. Penelitian ini juga diharapkan mampu menggali dan memperkaya khasanah budaya nasional.

“Persoalannya adalah penggunaan sistem administrasi yang sering kali berbeda atau bahkan bertentangan dengan sistem pengaturan adat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan sistem politik lokal Ulu Apad masyarakat Bali Mula di Desa Bayung Gede, serta memahami strategi yang dikembangkan dalam politik lokal Ulu Apad dalam menghadapi modernisasi,” papar Purwanto yang diamini Nugrahaningsari.

Penelitian ini juga menunjukkan sistem kepemimipinan Ulu Apad yang dianut warga Bayung Gede bersifat komunal dalam satu kelompok besar dan mengedepankan demokrasi terpimpin namun tetap dengan prinsip profesionalitas. Hampir sebagian persoalan diselesaikan oleh pejabat Ulu Apad secara lisan dengan mengedepankan adat.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi