Mencegah Penyakit Jantung Koroner pada Penderita Diabetes Melitus

DENPASAR, NUSA PENIDA POST

Salah satu komplikasi dari penyakit diabetes melitus (DM) adalah penyakit jantung koroner yang menjadi salah satu penyebab kesakitan dan kematian utama pada penderita DM. Penelitian menunjukkan bahwa penderita DM memiliki resiko terkena penyakit jantung koroner 4 hingga 5 kali lebih besar dibandingkan bukan penderita DM.

Ilustrasi jantung: Penderita diabetes militus memiliki resiko lebih rentan terkena penyakit jantung koroner

Ilustrasi jantung: Penderita diabetes militus memiliki resiko lebih rentan terkena penyakit jantung koroner

“Penderita diabetes militus lebih rentan terkena jantung koroner karena tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah cukup atau tubuh tidak mampu merespon insulin yang diproduksi akibatnya kadar gula menjadi tinggi. Kadar gula tinggi dalam darah menyebabkan arteri menyempit termasuk salah satunya arteri koroner yang mensuplai nutrisi ke jantung sehingga terjadi penyakit jantung koroner,” jelas dr. Ni Made Anggreni Yudhawati, S.Ked, Kamis siang (7/1)

“Salah satu upaya yang bisa kita lakukan adalah mengenali sejak dini faktor-faktor pemicunya sekaligus pencegahannya,” imbuh Anggreni.

Dokter yang kini praktek di RS BaliMéd Denpasar ini memaparkan sejumlah strategi pencegahan resiko jantung koroner pada penderita diabetes militus. Berikut ini adalah strategi pencegahan terjadinya penyakit jantung koroner pada penderita DM:

  1. Mendeteksi penyakit DM sejak dini

Fase awal penyakit DM sering tidak terdeteksi dan biasanya baru diketahui ketika sudah mengalami berbagai komplikasi. Semua orang yang berumur lebih dari 45 tahun perlu melakukan pemeriksaan skrining gula darah setiap 3 tahun. Orang-orang yang mengalami kegemukan, ada anggota keluarga kandungnya menderita DM, wanita dengan riwayat DM saat hamil, pernah melahirkan bayi dengan ukuran >4000 gram, atau riwayat lahir dengan berat badan rendah kurang dari 2,5 kg merupakan orang-orang dengan risiko tinggi menderita DM sehingga perlu dilakukan pemeriksaan skrining gula darah lebih awal yaitu pada usia 25 tahun dengan pengulangan pemeriksaan yang lebih sering.

  1. Menurunkan berat badan dan pola diet yang sehat

Kegemukan diketahui memperburuk keadaan resistensi insulin yang merupakan awal terjadinya DM. Pendekatan awal pada penderita DM yang mengalami kegemukan adalah dengan menurunkan berat badan. Bila penurunan berat badan tidak tercapai, mempertahankan berat badan lebih baik daripada mengalami kenaikan berat badan.

Prinsip pengaturan makanan pada penderita DM adalah makanan dengan gizi seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Sepuluh hingga dua puluh persen kalori harus terdiri dari protein. Pemilihan sumber protein harus yang mengandung rendah lemak. Rekomendasi persentase kalori total dari lemak bervariasi tergantung kadar gula darah, kolesterol, dan berat badan yang ditargetkan. Bila berat badan dan kolesterol dalam batas yang masih bisa diterima, kalori dari lemak yang direkomendasikan adalah 30% dari kalori total dengan membatasi konsumsi lemak jenuh. Bila ada masalah pada berat badan, kalori dari lemak dibatasi hingga 20%.

  1. Olahraga

Olahraga merupakan cara paling tepat untuk menurunkan berat badan. Melalui olahraga, kadar kolesterol baik yaitu HDL akan meningkat serta menurunkan tekanan darah dan kadar gula darah. Menurut penelitian olahraga memiliki efek pencegahan pada orang dengan riwayat keluarga menderita DM dibandingkan dengan orang dengan risiko tinggi yang tidak melakukan olahraga.

  1. Mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal

Kadar gula darah yang tinggi menyebabkan dinding pembuluh darah rapuh sehingga zat-zat yang mengandung lemak akan menempel di dinding pembuluh darah. Semakin lama lemak yang menempel ini akan menjadi plak yang akan mempersempit pembuluh darah. Mengontrol gula darah dalam batas normal akan membantu meminimalisir pembentukan plak. Mengontrol gula darah dapat dilakukan dengan melakukan perubahan pola hidup lebih sehat dan pemberian obat-obatan anti DM maupun suntikan insulin.

  1. Menurunkan “kolesterol jahat”

Ada dua jenis kolesterol yaitu LDL yang dikenal sbagai kolesterol jahat dan HDL yang dikenal sebagai kolesterol baik. LDL mudah menempel pada dinding pembuluh darah dan membentuk plak yang akan menyumbat dinding pembuluh darah. HDL mengangkut kolesterol bebas dari pembuluh darah dan jaringan lain menuju hati lalu dikeluarkan lewat empedu. Selain itu ada trigliserida yang merupakan salah satu lemak yang beredar dalam darah. Kalori yang didapatkan tubuh yang tidak digunakan langsung akan disimpan dalam bentuk trigliserida. Tingginya kadar LDL dan trigliserida serta rendahnya kadar HDL, yang disebut sebagai dislipidemia, sangat berisiko menimbulkan penyakit jantung koroner. Pengecekan kadar kolesterol penting dilakukan sehingga bila ditemukan kadar yang tidak normal bisa segera ditangani.

  1. Menurunkan tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi (hipertensi) muncul pada >50% penderita DM. Penelitian menunjukkan peningkatan tekanan darah akan meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah pada penderta DM yang berarti akan meningkatkan kejadian penyakit jantung juga. Pemberian obat antihipertensi pada penderita DM dimulai bila tekanan darah mencapai 135/85 mmHg.

  1. Stop merokok

Kebiasaan merokok meningkatkan terjadinya penyakit kardiovaskular sebanyak 4 kali lipat. Merokok dapat merusak pembuluh darah, mempercepat proses pembentukan plak, meningkatkan tekanan darah, dan mengurangi aliran darah ke jantung. Oleh karena itu jika anda memiliki kebiasaan merokok, hentikan sekarang juga sebelum terlambat.

  1. Mengendalikan stres

Hidup bersama DM bisa menyebabkan stres. Kondisi stres menyebabkan tekanan darah dan kadar gula darah meningkat sehingga risiko penyakit jantung pada penderita DM menjadi semakin tinggi. Mengelola stres dengan baik membantu mengurangi risiko terjadinya penyakit jantung. Dukungan terhadap penderita DM sangat diperlukan untuk membantu penderita DM mengatasi stresnya dan menghadapi penyakitnya.

“Semua orang memang memiliki resiko dengan berbagai dominasi faktor yang berbeda tetapi kita juga bisa cegah sedini mungkin,” ulas Anggreni diakhir konfirmasi.

Penulis: dr. Ni Made Anggreni Yudhawati, S.Ked, Dokter umum di RS BaliMéd Denpasar

Editor: I Gede Sumadi