Warning: Use of undefined constant ‘DISALLOW_FILE_EDIT’ - assumed '‘DISALLOW_FILE_EDIT’' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | “Mencak” Seni Beladiri Tradisional Nusa Penida
 

“Mencak” Seni Beladiri Tradisional Nusa Penida

Terkuaknya sebuah peradaban budaya sederhana. Budaya bela diri yang berbasis tarian. Mencak sebutan familiar budaya tradisional itu. Bela diri jenis ini sudah ada sejak pertengahan abad terakhir. Tersebutlah sebuah Nama I Wayan Miter penekun bela diri ini. Beliau tinggal di gubug sederhana di daerah Teba, Desa Tanglad. Sekitar tahun 1960-an saat beliau Remaja, merupakan awal ketertarikannya mempelajari bela diri ini. Trand lingkungan sekitar yang menjadi awal untuk mau menekuninya. Suatu ketika Kak Miter Remaja plesiran ke Melaya, Kabupaten Jembrana. Disana dia melihat sela rehat aktivitas warga disiang hari. Kebanyakan sela-sela itu dimanfaatkan warga untuk berlatih bela diri mencak. Sungguh ironis disaat itu. Bela diri yang umumnya ditekuni oleh para pria perkasa, kini kalangan perempuanpun giat berlatih. Warga yang berniat menekuni bela diri ini membentuk kelompok untuk melakukan latihan. Ki Rengkug terpanggil untuk melatih warga yang berbakat itu. Sebutan Guru pun kental menyelimuti aura Ki Rengkug. Disanalah seorang murid yang bernama I Wayan Miter berlatih selama 1 bulan lamanya. Dia mendapat banyak pengalaman dan latihan bersama sang guru. Guru Rengkugpun iklas menurunkan ilmu bela dirinya tanpa dipungut biaya sesen pun.

Rindu akan kampung halaman dirasa oleh Kak Miter Remaja. Dia meninggalkan Melaya dan kembali ke Nusa Penida tercinta. Kepulangannya tidak mengurungkan niat untuk berhenti belajar mencak. Dia semakin percaya diri dan terus belajar. Banyak remaja seusianya ikut tertarik menekuni bela diri mencak. Mereka membentuk kelompok yang beranggota kurang lebih 15 orang. Mereka belajar bersama seorang Guru yang bernama Guru Sidi. Siang dan malam adalah waktu efektif untuk berlatih. Gerakan demi gerakan terus ditempa untuk memperoleh akselerasi gerakan yang handal. Layaknya latihan prajurit dizaman kerajaan, arena berlatih tertutup anyaman daun kelapa. Tujuannya jelas agar gerakan yang diajarkan oleh guru tidak ditiru oleh kelompok perguruan yang lain. Lampu petromaks merupakan satu-satunya alat penerangan yang modern saat itu. Dua sampai tiga lampu tergantung untuk menerangi suasana latihan saat malam hari. “Riuhnya hentakan dari setiap gerakan menjadi semangat latihan”, ucap Kak Miter saat ditanya pengalamannya.

Proses latihan yang lama, menjadikan beliau hafal benar pada setiap gerakan. Kemampuan bela diri yang dikuasainya terkesan jauh dari urak-urakan, berkelahi atau hal yang bersifat negatif. Bela diri ini sering diperagakan pada saat ngibing Tarian Joged (tari Balih-balihan Bali). Pertunjukan joged digunakan ajang promosi diri untuk berkreasi gerakan mencak. Secara umum mencak bertujuan untuk mencipatakan rasa confidence terhadap diri seseorang. Rasa seperti itu diyakini mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan tenang jiwa. Selain itu juga, gerakan mencak mampu melatih daya tahan jiwa jiwa yang sehat dan berkarakter.