Menanti Investasi yang ‘Tak’ Mencaplok Alam

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Laju investasi menjadi salah satu komponen untuk mengukur tingkat kemajuan ekonomi sebuah wilayah. Kegiatan penanaman modal ini terbukti mampu menggerakkan sektor ekonomi paling mendasar sebagai multiflier effects meskipun bukan tujuan utama dari investasi itu sendiri. Investasi ibaratnya pelumas dalam roda perekonomian dengan syarat harus ada potensi yang menjadi daya tarik investor untuk menanamkan modal. Ketika berbicara potensi yang merujuk pada kawasan Kepulauan Nusa Penida, secara spontan kita akan berteriak lantang bahwa potensi itu ada dan nyata, namun apa jadinya jika semua investasi yang dilakukan harus mengorbankan alam demi meraup pundi-pundi rupiah hanya untuk segelintir orang?

Secara geografis, luas Kepulaun Nusa Penida tak lebih dari 202.840 hektar dengan topografi perbukitan bergelombang dan bentangan garis pantai hampir 70 kilometer yang menyimpan berbagai kekayaan alam dan potensi. Tidak hanya potensi budaya, spiritual, alam, plasma nutfah berupa sapi asli, sarang burung walet, dan rumput laut tetapi juga potensi pariwisata terutama wisata bahari. Kekayaan hayati berupa sapi asli menjadi penopang ekonomi utama masyarakat dengan total populasi sapi mencapai 23.000 ekor yang tersebar di seluruh wilayah. Produktivitas sarang burung walet di Batu Melawang, Nusa Ceningan juga memberi peluang investasi yang tak sedikit, nilainya sekitar 5 miliar. Dibalik peluang investasi tersebut, kisah miris juga turut menyertai. Akibat exploitasi berlebihan, populasi burung walet di Batu Melawang menurun drastis dalam kurun waktu lima tahun. Apakah investasi yang bersifat pengerukan dan mengancam keseimbangan alam ini layak diteruskan?

Sejumlah lahan di lokasi strategis sudah dikapling untuk pembangunan akomodasi pariwisata

Sejumlah lahan di lokasi strategis sudah dikapling untuk pembangunan akomodasi pariwisata

Aset investasi terbesar Nusa Penida ternyata ada di sisi perairan. Keistimewaan pesona bawah laut memunculkan puluhan spot penyelaman sebagai destinasi favorit dengan kuantitas kunjungan hampir 250.000 wisatawan per tahun. Produksi rumput laut (spinosium dan cottoni)  juga tidak kalah mencengangkan, dengan luas area tanam produktif  ± 310 hektar, produksi rumput laut kering mencapai 500 ton per tahun dan menjadi komoditi ekspor andalan Kabupaten Klungkung. Berkaca dari potensi yang ada, tidak berlebihan kiranya kalau peluang kesejahteraan itu sudah di depan mata tetapi semua potensi yang ada akan tetap sekedar wacana tanpa makna tanpa adanya realisasi jika ruang investasi masih terkunci rapat.

Dalam sepuluh tahun belakangan ini, nyaris tidak ada perkembangan pembangunan yang signifikan dan lebih cenderung stagnan. Pemerintah daerah selalu berdalih rendahnya PAD menjadi pemicu lambannya pertumbuhan ekonomi dan laju pembangunan tetapi pemerintah tidak pernah berupaya mengembangkan potensi yang ada dengan membuka kran investasi. Padahal berdasarkan perda Bali No. 16 tahun 2009 tentang RTRW, Nusa Penida merupakan salah satu target kawasan strategis pengembangan perekonomian (blue economy zone). Memang tidak cukup hanya menanti PAD untuk membangun daerah, aliran investasi adalah salah satu upaya untuk menggerakkan dan menumbuhkan perekonomian dengan menggandeng pihak swasta.

Beberapa kalangan menilai, proses penanaman modal terlalu berbelit-belit dan terbelenggu rantai birokrasi yang panjang dan lemahnya kepastian hukum, ibarat menegakkan benang basah. Ujungnya, para investor yang sudah membeli lahan mengubah haluan menjadi calo tanah. Investor seolah dipaksa berpikir ratusan kali untuk meninjau ulang penananam modalnya ketika dihadapkan pada buruknya infrastruktur yang ada. Kondisi semacam ini diyakini akan menyebabkan pembengkakan modal investasi. Investasi juga dihadapkan pada minimnya ketersediaan pasokan listrik dan air. Investasi apapun terutama bidang pariwisata tidak mungkin bisa berjalan tanpa dukungan sarana listrik dan air. Harus diakui kondisi kelistrikan di Nusa Penida belum sepenuhnya optimal meskipun sudah memanfaatkan jaringan kabel listrik bawah laut. Situasi byar pet (red; hidup dan mati listrik) masih sering terjadi bahkan beberapa wilayah masih gelap gulita tanpa aliran listrik sama sekali sementara keberadaan aliran air bersih masih sangat terbatas alias kecrat-kecrit.

Jangankan untuk mendukung investasi, masyarakat saja selalu dibuat menjerit di setiap musim kemarau akibat sulitnya pasokan air bersih padahal pulau ini memiliki puluhan sumber mata air yang mengalir sepanjang tahun. Masalah klasik ini memang tidak cukup hanya diselesaikan dengan wacana, apalagi faktor penghambat investasi telah mengakar dan menumpuk lantaran sudah berkarat  bertahun-tahun, bukan saatnya lagi saling tuding dan lempar tanggung jawab. Pemerintah Daerah Klungkung perlu membuat rekayasa usaha yang luar biasa untuk menghantam hambatan tersebut. Masalah buruknya infrastruktur yang kronis harus segera dibenahi seoptimal mungkin. Lemahnya kepastian hukum mesti diperbaiki untuk memastikan kondusifnya iklim investasi. Mental mata duitan oknum birokrasi yang terkesan mencari untung sendiri juga harus ditindak tegas.

Ketika rezim berganti, harapan untuk membuka kran investasi yang sempat macet kembali muncul ke permukaan. Peluang masuknya dana investasi terbuka lebar dengan harapan bisa meningkatkan produktivitas masyarakat secara ekonomi meskipun secara tidak langsung. Perbaikan berbagai sarana dasar juga mulai tampak sebagai pendorong masuknya investasi. Pengelolaan potensi untuk kesejahteraan memang tidak salah tetapi prosesnya harus tetap diawasi  serta wajib memperhatikan faktor lingkungan sebagai syarat utama.

Kita bisa berkaca dari kerusakan alam yang terjadi di Bali daratan. Ribuan hektar hutan dan lahan produktif beralih fungsi akibat rendahnya pengawasan terhadap investasi yang masuk. Alam pun bereaksi secara keras yang berakibat pada munculnya bencana di sana-sini. Sungguh ironis, kesejahteraan yang diimpikan didapat dengan merusakan dan mengorbankan lingkungan. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya alam dan laut Nusa Penida dengan segala biotanya akan musnah akibat pengelolaan yang serakah.

Kita semua sadar, mengubah potensi dengan jalan investasi bukan perkara mudah. Namun, ketika perubahan di depan mata, tidak serta merta investasi dilakukan membabi buta. Mesti ada aturan yang jelas dengan segala konsekuensinya. Tanpa adanya regulasi, kehancuran alam akibat investasi yang salah kaprahdikhawatirkan mempercepat kehancuran lingkungan. Investasi hendaknya tidak selalu mengabaikan hak alam, kepatuhan terhadap adat-istiadat, kearifan lokal, budaya, dan RTRW harus tegak. Pulau ini memang masih membutuhkan investor tetapi investasi yang ‘tak’ mencaplok alam dengan rakus, keperpihakan terhadap alam dan lingkungan mutlak diperlukan.

Penulis: I Gede Sumadi (Sekretaris Forum Krama Muda Nusa Penida)

Editor: Redaksi