Men Seprog, Potret Wanita Sejati. Bagaimana dengan Wanita Anda?

BATUNUNGGUL, NUSA PENIDA POST

Wanita Bali dikenal memiliki pribadi dan karakter yang luar biasa. Dia adalah pribadi yang ramah, sederhana, pekerja keras dan peduli sesama dengan etos kerja yang mumpuni. Perempuan Bali memilik peran multifungsi dengan berbagai aktivitas ekonomi, sosial hingga praktek keagamaan. Pernahkan anda melihat bagaimana wanita Bali menyiapkan ritual agama yang begitu rumit ditambah mengurus keluarga, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga plus aktivitas di kebun atau sawah bahkan merawat hewan peliharaan?

Seprog yang sudah memasuki usia senja masih tetap berjualan

Seprog yang sudah memasuki usia senja masih tetap berjualan

Men Seprog, pedagang kecil di Pasar Mentigi bisa menjadi bukti nyata potret wanita Bali sejati. Diusianya yang sudah senja, Seprog tetap berjualan mengais rejeki meski pihak keluarga sudah melarang dan sanggup membiayai kebutuhannya. Seprog tetap bersikukuh melakoni profesi yang sudah lama digeluti. Nenek tua yang sudah berusia 60-an tahun ini masih aktif berjualan buah dan sarana upakara di salah satu sudut pasar. Seprog yang berasal dari Karanganco, Desa Kutampi tetap sumringah menyapa pembeli.

Mriki metumbasan, (red; sini belanja),” sapa Seprog kepada pembeli yang melintas di depannnya (21/11).

Guratan keriput di wajahnya seolah menjadi penanda perjuangan sosok wanita yang rela bekerja keras dan nyaris tanpa keluhan. Senyum tipis mengembang tatkala barang dagangannya laku sambil sesekali menyeka keringat dengan sunan (red; kain penutup kepala sekaligus alas ketika menaruh barang di atas kepala). Suasana pasar dengan beragam kegiatan menjadi hiburan tersendiri bagi Seprog di tengah usia yang semakin menepi.

Ini menjadi gambaran jelas ketika wanita sejati mencari hiburan dengan bekerja sementara wanita sekarang justru sibuk dengan gadget dan ber-selfie ria di media sosial. Sedikit miris juga ketika kita melihat seorang gadis muda menawar dagangan pedagang kecil dengan nilai termurah namun sebaliknya dengan muda merogoh kantong untuk membeli barang mahal tanpa menawar di pasar modern. Ada fenomena besar dengan wanita kekinian yang dinilai lebih pasif dan ketergantungan. Media sosial dianggap memberi pengaruh besar terhadap perubahan pola prilaku.

Slogan sederhana yang masih sering kita dengar dari tetua, ’sakit awake yen tare megae, (red; sakit badan kalau tidak bekerja) kemungkinan tinggal slogan semata. Men Seprog adalah Kartini masa kini. Ia memberi pembelajaran besar agar kita tidak hanya berpangku tangan dan mengharap belas kasihan. Jika ditelisik lebih jauh, Seprog sudah jauh sebelumnya menjalankan revolusi mental, kerja, kerja, kerja, bagaimana dengan wanita anda?

Penulis: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi