Mata Air Guyangan, Meniti Keindahan di Bibir Tebing

BATU KANDIK, NUSA PENIDA POST

Banyak orang yang masih meragukan Kepulauan Nusa Penida memiliki sejumlah mata air besar mengingat wilayah seluas hampir 202 kilometer persegi ini nyaris tidak ada kawasan hutan. Dalam beberapa script kuno disebutkan setidaknya ada 8 mata air yang dikenal dengan istilah asta gangga namun semua berada di sisi tebing dan langsung jatuh ke laut. Satu dari sekian mata air besar yang cukup menyedot perhatian adalah Mata Air Guyangan. Debit airnya pun cukup besar rata-rata 120 liter per detik. Hingga kini, Mata Air Guyangan menjadi sumber air baku masyarakat meski tidak seluruhnya bisa dimanfaatkan akibat keterbatasan mesin pompa.

Mata Air Guyangan menawarkan pemandangan alam menawan namun penuh tantangan

Mata Air Guyangan menawarkan pemandangan alam menawan namun penuh tantangan

Secara wilayah, Mata Air Guyangan berada di sisi barat pulau tepatnya Banjar Guyangan, Desa Batu Kandik. Jika dihitung dari pusat kota kecamatan, jaraknya sekitar 25 kilometer dengan waktu tempuh berkisar 40 menit dengan kondisi jalan yang sedikit bergelombang dan rusak di sana-sini. Tidak hanya menjadi sumber air, Mata Air Guyangan kini menjadi destinasi luar biasa yang memacu adrenalin termasuk wisata spiritual. Begitu tiba di bibir tebing, pemandangan gugusan tebing tinggi menjulang membentuk tanjung dan teluk kecil serta pulau-pulau kecil menciptakan panorama luar biasa dengan hamparan laut biru Samudera Hindia. Titik ini juga berada tepat di depan Manta Point yang menjadi lokasi diving dan snorkeling terbaik bertemu pari manta.

Gerbang besar yang berdiri di atas tebing menjadi titik awal menuju pusat sumber air. Untuk turun ke bawah tebing diperlukan stamina prima dan tidak direkomendasikan bagi pengunjung yang phobia akan ketingggian. Banyak yang nyalinya langsung mengkerut begitu melongok ke bawah tebing dan urung turun. Lokasinya sangat menantang, berada 200 meter lebih di bawah tebing curam dengan kemiringan hampir 85 derajat bahkan di beberapa rute nyaris vertikal. Hasil perhitungan kasar setidaknya ada 700 lebih anak tangga terbuat dari besi, kayu dan beton di beberapa titik tebing datar. Jalur yang dilewati sengaja dibuat berkelok-kelok untuk mengurangi sudut kemiringan sehingga panjang rute mencapai 1 kilometer dengan durasi perjalanan 30 menit.

Meski anak tangga dilengkapi dengan ring pembatas namun tetap saja membuat jantung berdetak lebih kencang ketika menuruni tebing. Dentuman gelombang yang menerjang sisi tebing menciptakan tantangan tersendiri. Bagian tangga terbawah setelah tikungan terakhir merupakan tantangan terberat. Posisi pengunjung benar-benar menggantung vertikal di atas laut dengan hanya satu satu sisi tangga yang menempel ke tebing. Cukup menegangkan dan menguras energi namun begitu sampai di bawah, semua impas. Sajian pemandangan alam berupa tebing, mata air dan bentangan laut biru menjadi perpaduan eksotik. Suara aliran air dan deburan ombak menjadi musik alam yang mendamaikan. Pengunjung bisa bersantai dan mandi di pancuran bawah tetapi tidak disarankan berenang ke kolam penampungan. Kesegaran mata air alami ini sanggup menghilangkan lelah dan ketegangan selama meniti ratusan anak tangga. Selain mata air utama, ada puluhan rembesan air yang keluar dari celah-celah tebing. Puas menikmati keindahan mata air, tantangan berikutnya meniti kembali ratusan anak tangga agar bisa naik ke puncan tebing.

Tidak hanya menawakan wisata alam yang menantang, tepat di depan sumber mata air utama terdapat pelinggih yang dipercaya stana Kanjeng Ratu Kidul dan menjadi tujuan wisata spiritual. Menurut warga setempat, I Nyoman Latra yang dikonfirmasi Kamis pagi, (15/9), pura dibangun sekitar tahun lalu dengan bantuan donatur dan pengerjaannya dilakukan oleh masyarakat setempat.

“Untuk pembangungan pura disumbang oleh para donatur, dana sudah diterima sama panitia. Rencananya biaya mlaspas pun akan ditanggung. Cuma jalur menuju kesini yang mesti mendapat perhatian termasuk jalannya harus diperbaiki,” ujar Latra.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi & I Komang Budiarta