Warning: Use of undefined constant ĎDISALLOW_FILE_EDITí - assumed 'ĎDISALLOW_FILE_EDITí' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Masalah Sampah di Nusa Penida Perlu Penanganan Terpadu
 

Masalah Sampah di Nusa Penida Perlu Penanganan Terpadu

Nusa Penida Post Vol 17

Hampir semua kegiatan menghasilkan sampah sebagai sisa dari kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi. Bisa berupa plastik, besi, kaleng, maupun kaca seolah menjadi pemandangan  lazim. Sampah dibedakan menjadi dua yaitu organik dan non organik. Sampah organik adalah semua sisa-sisa pembuangan yang berasal dari mahluk hidup berupa sisa dari  tumbuh-tumbuhan, binatang maupun manusia. Sedangkan sampah non organik adalah sampah yang tidak berasal dari organisme seperti plastik, kaleng, kaca, besi maupun bahan-bahan sintetis lainnya. Sampah organik dapat terurai oleh mikroorganisme semisal dedaunan, kotoran sapi maupun jasad-jasad renik lainnya. Hasil uraian sampah organik biasanya dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang dikenal pupuk kompos. Meskipun bisa terurai oleh mikroorganisme, kalau tidak  mendapat penanganan secara tepat maka sampah jenis ini akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan bisa menyebarkan penyakit.  Ini harus mendapat perhatian dan penanganan yang serius dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah

sebagai eksekutif, legislatif pembuat¬†kebijakan, pengusaha dan tentunya¬†masyarakat. Penanganan masalah sampah¬†ini harus terpadu satu sama lain dari semua¬†stake holder tersebut.¬†Sampah non organik susah terurai oleh mikroorganisme¬†dan bila menumpuk secara kolektif di tanah, laut dan sungai¬†akan menjadi masalah yang serius. Terlebih lagi sampah jenis¬†ini memerlukan waktu puluhan tahun untuk terurai. Masalah¬†sampah organik maupun non organik menjadi permasalahan¬†yang pelik sehingga perlu penanganan yang serius dan terpadu¬†agar kita tidak seperti pepatah ‚ÄúMenggali kuburan sendiri.‚Ä̬†Hal ini bisa terjadi apabila sampah tidak tertangani dengan¬†baik akan dapat mengancam kelangsungan hidup kita. Alasan¬†logisnya yaitu sampah menyebabkan penyakit, mengurangi¬†kesuburan tanah, mencemari air laut dan sungai.

Nusa Penida Post Vol 17 sampah

Problematika dan Dampak Sampah di Nusa Penida 

Di Nusa Penida, problematika sampah tak jauh beda dengan  daerah lain bahkan cenderung lebih parah. Ini dapat kita jumpai di Pasar Mentigi yang merupakan penyumbang sampah terbesar sebagai sentra ekonomi dan bisnis yang terkesan tak terurus. Demikian pula di pantai sampah plastik, kaleng dan organik  menjadi pemandangan lumrah. Sampah-sampah tersebut merusak struktur tanah secara jangka panjang, mencemari laut yang jelas akan mengancam biota laut seperti ikan dan terumbu karang. Ikan mola-mola dan penyu yang biasa makanan uburubur pun sering terkecoh memakan plastik sehingga spesies laut langka yang dilindungi ini mati dan terancam punah.  Sampah yang mencemari laut apabila mengenai balingbaling kapal maupun boat akan menyebabkan mesin rusak dan mengancam keselamatan transportasi laut. Terlebih lagi bila Nusa Penida menjadi kawasan pariwisata tentunya dampak ikutannya yaitu volume sampah akan semakin banyak. Bisa dibayangkan bagaimana turis-turis mau betah tinggal di Nusa Penida apabila pulau ini kotor dan jorok. Ini harus mendapat perhatian dan penanganan yang serius dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah sebagai eksekutif, legislatif pembuat kebijakan, pengusaha dan tentunya masyarakat. Penanganan masalah sampah ini harus terpadu satu sama lain dari semua stake holder tersebut.

Penerapan Sistem 3R
Penanganan masalah sampah di masyarakat harus dimulai¬†dari kesadaran diri. Tahap awal sampah harus dipisahkan¬†antara organik dan non organik. Tentunya membuat kesadaran¬†masyarakat secara kolektif bukan pekerjaan mudah, harus ada¬†upaya yang sungguh-sungguh dan terus menerus. Selain itu¬†program penanganan sampah dengan 3R (reuse, reduce, dan¬†recycle) bisa dilakukan mulai dari setiap rumah tangga. Reuse¬†yang dimaksud adalah menggunakan kembali barang-barang¬†yang masih bisa dipakai seperti kardus dan besi yang masih¬†bisa digunakan. Reduce yaitu mereduksi atau penghancuran¬†sampah seperti membakar sehingga volumenya berkurang.¬†Sedangkan recycle adalah upaya penanggulangan sampah¬†dengan mendaur ulang sampah plastik yang biasanya berupa¬†botol-botol minuman.¬†Pemerintah sebagai pemegang kebijakan mestinya¬†membuat program penanggulangan sampah dari hulu ke hilir. ¬†Perbandingan volume sampah dengan armada pengangkut, pegawai dinas pertamanan dan luasan TPA harus sebanding. Tidak seperti sekarang jumlah truk sampah 2 buah, 1 buah engkel di Nusa Gede dan 1 buah engkel yang ada di Jungut Batu itupun kondisinya sudah rusak. Sedangkan jumlah pegawai dinas berjumlah 43 orang seluruh kecamatan termasuk yang di Lembongan, baik yang ditempatkan untuk di pasar, jalan, pegawai kantor, dan sopir. TPA luasnya lebih dari satu hektar berada di daerah Biaung sedangkan di Lembongan adanya di Jungut Batu. Untuk daerah timur Nusa Penida, fasilitas dan kuantitas sampah yang ada tidak sesuai alhasil sampah berserakan di mana-mana terlebih pada saat hari raya. Hal ini disampaikan Desak Gede Suasti Kepala UPT DKP Kecamatan Nusa Penida. Ia mengaku kewalahan dengan sarana dan prasarana yang ada, ‚ÄúSaya berharap fasilitas ini perlu ditambah baik orang maupun peralatannya. Dari legislatif yaitu DPRD Tingkat II Klungkung harus membuat suatu perda yang mengatur tentang penanganan sampah rumah tangga dan sampah industri dalam menjaga kebersihan. Tentunya harus ada pengawasan terhadap implementasinya‚ÄĚ ungkapnya.

Peluang Bisnis

Sampah harus juga dilihat sebagai peluang karena dengan mengumpulkan kaleng-kaleng sampah plastik, besi maupun botol-botol kaca bisa dijadikan uang. Hal ini dilakukan Sarman yang meraup jutaan rupiah setiap bulan dari mewwmulung sampah. Lelaki dari Jawa ini menyewa tanah yang dijadikan gudang di daerah Prapat, Nusa Penida. Sarman mengaku dapat mengirim satu sampai dua truk tiap minggunya ke Surabaya untuk dijual. Sampah diperoleh dengan memulung dan sebagian lainnya dibeli dari masyarakat. Tentunya jenis sampah dikumpulkan, dicacah dan dipilah-pilah karena mempunyai harga yang berbeda satu sama lainnya, hal ini memberikan nilai tambah dan berkah baginya. (Dana)