Warning: Use of undefined constant DISALLOW_FILE_EDIT - assumed 'DISALLOW_FILE_EDIT' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Marak, Alih Fungsi Lahan Palawija Menjadi Jati
 

Marak, Alih Fungsi Lahan Palawija Menjadi Jati

Nusa Penida, Nusa Penida Post
Fluktuasi ekonomi yang tidak menentu membuat petani Palawija beralih dengan menanam pohon jati. Alih fungsi ini dirasa sejalan dengan kondisi alam yang kurang mendukung dan orientasi investasi masa depan dengan tingkat kebutuhan yang semakin kompleks. Problematika ini begitu menggejala hampir di seluruh wilayah kepulauan Nusa Penida. Tak kurang dari 1.520 hektar lahan telah ditanami jati dari berbagai jenis.

Kondisi pertanian masyarakat akhir-akhir ini mengalami kemunduran. Perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu ditengarai menjadi penyebabnya. Masyarakat Nusa Penida yang sebagian besar adalah petani ladang cukup merasakan berkurangnya hasil panen. Puluhan tahun mereka bertani diatas lahan kering dan berbatu dengan menanam jagung, singkong dan kacang-kacangan sebagai tanaman pokok. Hampir keseluruhan hasil tanaman tersebut untuk kebutuhan konsumsi tetapi sering tidak mencukupi. “Yen ngandelang ajin mule jagung jak gayet duang tare nyidang ibe, cukup makan be aget. Ape kaling anggon ngasukang hanak” (red; kalau hanya mengandalkan menanam jagung dan ketela pohon pasti tidak mencukupi, cukup makan saja sudah bersyukur apalagi dipakai untuk biaya menyekolahkan anak), tutur I Wayan Putra (46) petani jati dari Banjar Semaya, Desa Suana (9/9).

Ratusan hektar lahan palawija beralih fungsi menjadi kebun jati

Ratusan hektar lahan palawija beralih fungsi menjadi kebun jati

”Warga harus cerdas memilih tanaman yang cocok dengan iklim dan keadaan tanah yang ada di Nusa Penida,” ujar I Wayan Sukadana (33). Jenis tanah berkapur disertai curah hujan rendah sangat cocok untuk tanaman jati. Tanaman ini memiliki sistem adaptasi dengan musim kemarau yaitu menggugurkan daunnya. Kualitas kayu yang kuat sangat cocok untuk bahan baku furniture dan bangunan rumah. Serat jati mempunyai corak yang beragam sehingga mudah dibentuk ukiran dan tahan lama.

Disisi lain, penanama jati sangat mempengaruhi hasil tanaman pangan. Akar jati yang menjalar menyebabkan petani kesulitan melakukan pertanian sistem tumpang sari. “Ape daar lakar mani ne, tanah telah pulene jati,” (red : Apa yang dimakan besok, semua lahan ditanami jati), celoteh I Wayan Senter (48) dari Banjar Senangka, Desa Sakti (8/9). Namun, Senter juga menganggap jati sebagai penyelamat ekonomi masa depan meskipun mengabaikan ketahanan pangan.

“Saya akan menjadi miliarder diumur 53 tahun hanya dengan menanam jati 12.000 pohon,” punkas I Wayan Sukadana sambil tersenyum (9/9). Asumsi ini tampaknya realistis sebagai investasi masa depan dengan hitungan sederhana. Jati yang berumur 20 tahun ditargetkan memiliki harga Rp 3.000.000 per pohon. Jika saja hanya 50% pohon yang berhasil dipanen, maka diperoleh pendapatan sebesar 18 miliar. Sebuah angka yang sangat fantastis dan menjadi langkah sederhana untuk menjadi seorang jutawan di Nusa Penida.

Reporter: I Kadek Sumawa