Mangrove Tour: Jelajahi keunikan Hutan Bakau

JUNGUT BATU, NUSA PENIDA POST

Hutan bakau (mangrove) di Pulau Lembongan, Desa Jungut Batu memiliki peran strategis secara ekologi dan ekonomi. Selain menjadi tanggul alami penahan abrasi dan habitat bagi biota laut, hutan bakau juga dimanfaatkan sebagai tempat mencari kayu bakar. Seiring dengan pesatnya perkembangan pariwisata, hutan mangrove ini bertambah fungsinya sebagai tempat rekreasi.

Mangrove Tour, begitu warga setempat menyebut paket rekreasi ini. Menyusuri lebatnya hutan mangrove menggunakan sampan (red; perahu kecil) dengan mengikuti lintasan yang sengaja dibuat oleh warga setempat. Uniknya, sampan yang dipakai tidak menggunakan mesin bermotor tetapi megolok (red; didorong dengan tongkat panjang) dengan tongkat panjang dari bambu atau kayu.

Mangrove tour menjadi salah satu tujuan wisata favorit

Mangrove tour menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Nusa Lembongan

Sebelum memasuki lintasan hutan bakau, ada banyak rute bisa dilalui, tergantung dari permintaan wisatawan. Dari atas sampan, wisatawan dapat melihat deretan sampan kecil yang digunakan para petani rumput laut untuk mengangkut hasil panen. Air laut di perairan ini sangat jernih sehingga rumput laut dan ikan-ikan kecil terlihat jelas. Ibarat menyelam sambil minum air, ungkapan itu sangat tepat didapatkan wisatawan yang mengikuti  tour ini. Selain menikmati pemandangan hutan bakau yang indah, wisatawan juga bisa menambah wawasan tentang nama-nama latin pohon mangrove. Papan kecil berukuran kira-kira 30×20 cm berisi nama dan jenis bakau tampak terpasang di sejumlah pohon.

Salah seorang warga I Wayan Sugi (16) yang ditemui, Minggu 1/12, mengatakan bahwa untuk bisa menikmati wisata hutan mangrove dan aneka ragam biota di dalamnya, wisatawan cukup membayar sewa sampan dari Rp 50.000 sampai Rp 150.000. Sugik juga menjelaskan, wisata mangrove dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat dimana setiap pemilik sampan berkesempatan untuk mengantarkan tamu sesuai giliran. Program touring dibuka dari pagi pukul 08.00 sampai 17.00 wita.

“Wisatawan hanya membayar sewa sampan mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 150.000, itu pun tergantung rute perjalanannya,” terang Sugik.

Reporter: I Komang Budiarta

Editor: I Gede Sumadi