Mandiri Art Charity, Mengungkap Komplesitas Dinamika Dunia Anak

JAKARTA, NUSA PENIDA POST

Tak kurang dari sembilan perupa Bali menggelar pameran karya seni pada peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli kemarin. Pameran amal ini bertema ‘Mandir Art Charity’ berlanggsung hingga Selasa, (26/7) di Graha Bimasena, Kemayoran Baru Jakarta Selatan. Sejumlah nama perupa papan atas Bali turut menggelar pameran seperti Made Djirna, Nyoman Sujana Kenyem, Putu Sudiana Bonuz, Ida Bagus putu Purwa, Ketut Sugantika. Tak ketinggalan pula Made Wiradana, Ketut Teja Astawa, Wayan Suastama dan Made Galung Wiratmaja.

Perupa asal Bali menggelar pameran seni pada peringatan hari anak nasional di Graha Bimasena, Jakarta Selatan

Perupa asal Bali menggelar pameran seni pada peringatan hari anak nasional di Graha Bimasena, Jakarta Selatan

Dunia anak menjadi menarik diimplementasikan dalam karya seni seiring dengan beragam kompeksitas yang kerap mewarnai. Berbagai kasus sering muncul ke permukaan dan anak-anak selalu menjadi objek yang dikorban. Kasus terbaru adalah vaksin palsu yang menggebohkan dunia kesehatan tanah air belum lagi masalah pemerkosaan anak, penjualan anak, termasuk tidak terpenuhinya hak-hak anak. Jika dicermati lebih mendalam, ekonomi menjadi faktor dominan yang menyebabkan terjadinya berbagai kasus yang membelit anak-anak.

Kurator Bayu W. asal Jogyakarta menjelaskan seni lukis menjadi pilihan bahasa visual untuk mengungkapkan fenomena sosial. Bahasa snei bisa masuk ke berbagai level kehidupan masyarakat dan bisa diterima semua kalangan.

“Program kegiatan For The Children, For A Better World; 1001 Kesempatan Pendidikan Untuk Anak Indonesia merupakan sebuah kegiatan Pameran Amal , Art For Charity Exhibition dan Art For Children yang mensinergiskan hubungan antara aktivitas kesenian dengan dunia pendidikan anak Indonesia. Sekaligus peringatan Hari Anak Nasional 2016 sengaja ditengahkan, gunanya untuk menggugah kembali kepedulian kita terhadap nasib pendidikan anak untuk saling peduli,” kata kurator Bayu.

“Daya kreativitas dalam proses penciptaan karya seni bersandar pada penjelajahan setiap seniman dalam menghadapi persoalan kehidupan untuk mendapatkan suatu makna/nilai yang bisa bersifat subyektif maupun universal. Disini dinamikanya,” imbuh Bayu.

Seniman Wayan Suastama dan I Nyoman Sujana Kenyem lewat karyanya mengingatkan hak anak sudah banyak yang dirampas secara langsung dan tidak langsung. Berbagai kasus sosial yang melibatkan anak menjadi bukti nyata yang cukup menghentak. Banyak anak-anak di luaran yang sama sekali kehilangan waktu bermain hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Disisi lain aksi eksploitasi anak secara berlebihan menjadi bukti yang tak terbantahkan telah terjadi perampasan secara masif pada anak-anak yang notabena menjadi generasi penerus bangsa.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi