Warning: Use of undefined constant ‘DISALLOW_FILE_EDIT’ - assumed '‘DISALLOW_FILE_EDIT’' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Kue Tradisional Kian Tersisih
 

Kue Tradisional Kian Tersisih

MENTIGI, NUSA PENIDA POST

Bali tidak hanya dikenal karena kekhasandan keunikan budaya yang dimiliki. Pulau Dewata juga kaya akan warisan kuliner yang masih melegenda. Berbagai variasi racikan masakan menjadi brand kuliner yang diburu oleh penikmatnya, sebut saja ayam betutu, rujak kuah pindang, lawar, sudang lepet dan juga sate. Namun, dibalik semua itu, kondisi terbalik justru dialami jaje (red; kue) tradisional, keberadaannya semakin langka dan mulai ditinggalkan masyarakat. Aneka jajan seperti bantal, pisang rai, kelepon, mangkok, sumping, abug, hingga cerorot hanya bisa didapat menjelang hari raya saja. Menjamurnya makanan kemasan modern yang merambah pasar tradidional ditengarai menjadi penyebab raibnya jajan tradisonal di pasaran. Selain itu kalangan muda juga menganggap jajan modern jauh lebih praktis.

Jro Made Sudani (37), pedagang kue tradisional di kawasan Pasar Mentigi, Minggu, 6 Oktober 2013, mengaku bahwa sebagian besar pelanggannya adalah kaum ibu-ibu rumah tangga dan orang-orang berumur yang merindukan jajanan tradisional Bali ini. “Hampir tidak pernah pembeli saya anak-anak muda. Mungkin kalah saing dengan jajan modern,” ungkapnya sembari melayani pelanggan.

Pedagang kue tradisional di Pasar Mentigi, Nusa Penida

Pedagang kue tradisional di Pasar Mentigi, Nusa Penida

“Kue atau jaje ini kebanyakan kami hidangkan bersama kelapa parut dan ditambah sedikit gule barak (red; Gula Bali). Selain rasanya lezat juga bercita rasa tinggi,” tambah Jro. Bermodal gerobak dan meja kecil, Jro menyediakan aneka jajan khas Bali seperti bantal, pisang rai, kelepon, mangkok, cerorot dan beranekaragam kue lainnya yang dibuat sendiri.

Hal senada diungkapkan Desak Gede Taran (52), yang juga penjual jajan tradisional, menurutnya jaje Bali sudah mulai tersisih meskipun masih diminati oleh kelompok masyarakat tertentu. “Jajan Bali seperti dadar, bendu, laklak dan lainnya masih diminati masyarakat tetapi jumlah peminatnya jauh berkurang,’’ ujarnya.

Taran juga mengakui bahwa dirinya hanya berjualan pada hari libur dan hari raya ketika permintaan cukup ramai. Pada hari biasa, Taran tidak berani berspekulasi untuk berjualan agar tidak merugi. Pembuatan jaje tradisonal pun cukup rumit dan hanya bisa bertahap dalam 1 hari. Hal ini berbeda jauh dengan jajan modern yang bisa tahan hampir satu tahun. Untuk harga, jaje dijual bervariasi, mulai Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per porsi, sementara kue dadar dan mangkok dipatok Rp 1.000 per biji.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi