Kisruh, Warga Sakti menolak Peralihan Dusun Sompang

DESA SAKTI
Akhir-akhir ini berbagai konflik semakin sering menghiasi berbagai pemberitaan di media, baik cetak maupun elektronik. Konflik yang terjadi seolah mewabah, tak terkecuali kasus pemekaran daerah.

Senin (10/6), sejumlah perwakilan warga dari Desa Sakti mendatangi Kantor DPRD II Klungkung untuk menyuarakan penolakan terhadap pemekaran Desa Pekraman Sompang dan peralihan administratif Dusun Sompang ke Desa Bunga Mekar. Warga menilai langkah  pemekaran ini cacat hukum dan mensinyalir ada kepentingan terselubung dibalik proses pemekaran tersebut.

“Kami tidak melakukan aksi demo, saya jamin itu dan tidak ada tindakan anarkis tetapi ini murni penyaluran aspirasi untuk menolak pemekaran desa pekraman dan pindahnya Dusun Sompang ke Desa Bunga Mekar” tegas Agus Made Alep yang juga merupakan Kepala  Desa Sakti (11/6).

Made pun merinci bahwa Dusun Sompang masuk wilayah Desa Sakti bersama tiga dusun lainnya yaitu Dusun Cemulik, Dusun Sebunibus dan Dusun Sakti berdasarkan SK Gubernur Nomor 214 tahun 1993. Hal ini terkait pemekaran Desa Sakti menjadi dua dengan sepuluh dusun. Desa Sakti dengan empat dusun, masing-masing, Cemulik, Sebunibus, Sakti dan Sompang, sementara Desa Bunga Mekar dengan enam dusun.

Warga menilai perpindahan ini hanya berdasarkan rekomendasi dari Bupati Klungkung tanpa persetujuan dari desa induk. I Made Nondrawan (45) yang juga Bendesa Adat Sakti sangat menyesalkan tindakan pendeklarasian sepihak yang dilakukan Dusun Sompang. “Jika dari segi peraturan, pemekaran Desa Pekraman tidak memenuhi ketentuan karena Dusun Sompang hanya memiliki 96 KK sedangkan syarat minimal adalah 250 KK plus 1. Persyaratan kedua adalah harus ada kahyangan tiga sedangkan di sana cuma ada pura dalem saja, kenapa ini bisa terjadi?” tandasnya yang dikonfirmasi per telepon (11/6).

Seperti diketahui, selain mendatangi DPRD Klungkung, perwakilan warga juga langsung meluncur ke Kantor Gubernur dan selanjutnya bertolak ke Gedung Dewan DPRD I Bali untuk menyampaikan aspirasi mereka. “Sejatinya ada tiga aspirasi yang kami sampaikan, pertama penolakan pemekaran desa pekraman, perpindahan administrasi Dusun Sompang ke Desa Bunga Mekar dan masalah aset tanah seluas 63 hektar milik desa yang berada di Dusun Sompang” ungkap Agus Nyoman Balik selaku perwakilan warga. Nyoman juga menyampaikan bahwa kedatangan mereka ke gedung dewan didasari oleh keputusan bersama termasuk sebelumnya penyebaran angket dimana 600 perwakilan warga menolak usulan pemindahan Dusun Sompang.

sompang

Letak geografis dan peta wilayah Desa Sakti

Dihubungi secara terpisah, salah satu warga Dusun Sompang yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan bahwa alasan pemekaran dan perpindahan adalah jarak yang cukup jauh. Mereka menilai Desa Bunga Mekar lebih dekat ketimbang pengurusan administrasi ke Desa Sakti.

Ketika dikonfirmasi perihal tersebut, Kepala Desa Sakti menganggap alasan tersebut tidak masuk akal dan terkesan dicari-cari. Dengan lugas, ia menandaskan ada skenario lain dibalik usulan pemekaran tersebut dan mengapa hal itu baru dilakukan. Tidak dipungkiri memang, aset tanah seluas 63 hektar menjadi incaran pihak tertentu, yang ditakutkan adalah ada pihak yang sengaja bermain dengan menunggangi masyarakat. Sementara dari pihak legislatif sendiri masih melakukan koordinasi untuk mencari titik temu sebagaimana yang diungkapkan oleh Ngakan Made Samudra dari Komisi I DPRD Bali. (Sum)