Warning: Use of undefined constant ĎDISALLOW_FILE_EDITí - assumed 'ĎDISALLOW_FILE_EDITí' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Kilas Balik Jejak Perantau dari Nusa Penida
 

Kilas Balik Jejak Perantau dari Nusa Penida

Download Nusa Penida Post Vol20 Klik Gambar di atas!

Download Nusa Penida Post Vol20 Klik Gambar di atas!

NUSA PENIDA
‚ÄúDi mana ada gula disana ada semut,‚Ä̬†pepatah yang pas disandang perantau.¬†Ungkapan ini bermakna bahwa dimana¬†ada sumber penghidupan maka kesanalah¬†manusia berduyun-duyun mencarinya.¬†Pepatah ini sangat cocok untuk warga¬†Nusa Penida khususnya yang pergi¬†merantau. Sejak tahun 1910-an atau satu¬†abad yang lalu, banyak warga sudah pergi¬†merantau.

Perpindahan masyarakat Nusa Penida ke tempat-tempat¬†tersebut diperkirakan sebagai ‚Äútransmigrasi‚ÄĚ swakarsa¬†angkatan pertama atas niat dan biaya sendiri yang dilandasi¬†untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Hal ini¬†disebabkan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi¬†karena belum adanya program KB, disamping rendahnya¬†pertumbuhan ekonomi dan keberadaan air yang sulit.

Sebaran dan Periode Perantauan
Jejak perantauan pertama dapat ditemukan pada masyakat Nusa Penida asli yang sekarang bermukim secara turuntemurun di Jumpai, Klungkung, sedangkan di Jembrana tersebar di daerah Nusa Sari, Yeh Embang, dan Nusa Mara serta Dangin Kerteg di Bangli. Masyarakat perantauan Nusa Penida yang tinggal di Panca Sari (Tabanan) sebagian besar  berasal dari Batumadeg. Untuk daerah Singaraja, jejak perantauan dapat ditemukan di  daerah Gobleg dan Busung Biu. Sementara di Lombok banyak kita jumpai terutama di  daerah Kuranji, Karanganyar, Pelangan, Labuan Poh dan beberapa tempat lain.

Penggunaan bahasa daerah yang masih kental, merupakan¬†identitas masyarakat yang berasal dari Nusa Penida. Dialeknya pun sedikit berbeda akibat akulturasi budaya dengan penduduk asli sekitar. Menilik dari tahun mereka meninggalkan Nusa Penida, keturunan sekarang telah mencapai generasi ke lima. Hal ini diperkuat dari beberapa sumber yang berhasil dikonfirmasi oleh Nusa Penida Post. ‚ÄúAno yen tiang hat kakite sube ngoyong dini,‚ÄĚ (red; kalau saya, sudah dari kakek tinggal di Lombok) ungkap I Nyoman Jeneng (65) ketika dihubungi via telpon (16/5). Jero Jeneng, demikian ia dipanggil adalah salah satu tokoh dari Dusun Kuranji, Kecamatan Lembar, yang notabena warga asli keturunan Banjar Jurang Batu.

Peta jejak perantau dari Nusa Penida menuju Bali daratan, Nusantara dan antar benua.

Peta jejak perantau dari Nusa Penida menuju Bali daratan, Nusantara dan antar benua.

Perantauan tahap kedua yaitu perantauan yang diprakarsai oleh pemerintah tahun 1952 seperti ke Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, maupun Sumbawa. Untuk daerah Sumatera yang menjadi tujuan utama adalah Lampung, mengingat daerah ini adalah daerah sentra transmigrasi secara nasional. Contoh daerahnya adalah Seputih Raman yang kemudian disusul daerah Dusun Napal di Kecamatan Sidomulyo dan Balinuraga yang dihuni mayoritas etnis Nusa Penida. Transmigran yang ada di Kalimantan tersebar di semua bagian dan sekarang rata-rata sudah berhasil berkat ketekunan serta kerja kerasnya. Sebagian dari mereka hidup dari berkebun sawit dan karet maupun pertanian lainnya. Demikian pula trasmigran yang ke Lampung dan Palembang keuletannya sering mendapat acungan jempol dari masyarakat Bali lainnya yang sama-sama merantau. Salah satu kelompok transmigran yang dianggap paling berhasil adalah transmigran asal Banjar Sebuluh, Desa Bunga Mekar. Menjadi cerita unik ketika bahasa Nusa Penida yang dibawa transmigran baik di Lampung maupun di Melaya mampu dibahasakan warga Bali daratan atau penduduk sekitar. Ini disebakan dominasi jumlah penduduk Nusa Penida yang cukup besar di daerah tersebut baik dari segi jumlah maupun dari sendi-sendi ekonomi masyarakat.

Patut dicatat bahwa transmigran Nusa Penida yang ada di Sumbawa merupakan perpindahan masyarakat Nusa Penida dari Lombok maupun langsung dari Nusa Penida. Demikian pula penduduk di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi juga banyak dari masyarakat Nusa Penida yang awalnya di Melaya kemudian transmigrasi ke daerah tersebut ataupun langsung dari Nusa Penida. Hal ini didasari bahwa baik di Melaya maupun di Lombok, mereka tidak memiliki tanah yang cukup untuk dikelola. Mereka harus menyewa ataupun membeli, tetapi luasnya tidak seberapa mengingat mereka awalnya adalah transmigrasi perorangan ataupun berkelompok dengan biaya pribadi.

Sejauh Burung Terbang Akhirnya Pulang Juga
Selanjutnya perantau jilid empat yaitu perantau asal Nusa Penida yang sudah melangkah lebih jauh yaitu keluar negeri bahkan migrasi antar benua. Ini dapat kita lihat dari beberapa masyarakat Nusa Penida yang bekerja di kapal pesiar maupun mereka yang pindah keluar negeri karena perkawinan. Inilah gambaran jejak-jejak perantau yang berasal dari Nusa Penida, mereka rela meninggalkan tanah leluhur demi masa depan yang lebih baik.

Salah satu warga, I Ketut Suarma (37), warga Batumadeg¬†yang bekerja di Kanada, pulang kampung untuk mengikuti¬†upacara agama. ‚ÄúKole muleh soalne ada upacara di jumah,‚Ä̬†(red; saya pulang karena ada upacara agama) ungkap Ketut¬†yang sudah tinggal di Kanada selama 10 tahun ini dengan¬†logat Nusa yang patah-patah (15/5). Demikian pula, I Kadek¬†Sutama dan I Wayan Darta menyempatkan diri pulang¬†karena ada Karya Ngenteg Linggih Nyatur Murti di Pura¬†Dalem Banjar Jurang Batu. Saat ini keduanya menetap di¬†Sampit, Kalimantan Tengah.

Tentunya sejauh burung terbang akhirnya pulang juga, ungkapan itu seharusnya diingat oleh semua perantau dari Nusa Penida, terlebih kawitan masih ada di Nusa Penida. KTP dan alamat bisa diganti tetapi leluhur tetap satu. Dengan lancarnya arus transportasi, maka saudara yang mencari rejeki di negeri seberang harus tetap menyempatkan diri menginjak kaki di tanah leluhur. (NPP)