Kerusakan Terumbu Karang Semakin Masif, Ekosistem dan Wisata Bahari Terancam

LEMBONGAN, NUSA PENIDA POST

Dibalik besarnya potensi wisata bahari yang ada wilayah Kepulauan Nusa Penida sejumlah ancaman nyata pun menanti. Tidak hanya masalah pemutihan karang di berbagai titik, aksi corat-coret karang beberapa waktu lalu tetapi juga kerusakan terumbu karang semakin masif akibat pemanfaatan kawasan secara tidak terkendali. Banyaknya sarana wisata tirta bodong ditengarai menjadi salah satu pemicu kerusakan. Para pengelola dinilai lalai dan abai terhadap dampak rusaknya ekosistem terumbu karang demi mengejar keuntungan semata termasuk lemahnya pengawasan instansi terkait.

Hasil monitoring menunjukkan kerusakan terumbu karang di kawasan Mangrove Point

Hasil monitoring menunjukkan kerusakan terumbu karang akibat bergesernya beton tambatan dan material sarana wisata terjadi di Mangrove Point. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran banyak pihak terhadap perkembangan destinasi wisata bahari. Bukan tidak mungkin, kawasan ini akan ditinggalkan wisatawan hingga redupnya potensi wisata. Masyarakat pun meminta pihak pemangku kepentingan memberi tindakan tegas para pengelola yang terbukti menimbulkan kerusakan terumbu karang.

Perbekel Lembongan, Ketut Gede Arjaya yang juga Ketua Forum Perbekel Kecamatan Nusa Penida yang dikonfirmasi Senin siang (24/7) berharap ada tindakan tegas terhadap perusahaan yang terbukti melakukan perusakan. Menurut Arjaya, perusahaan yang beroperasi juga harus memiliki komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan.

“Perlu tindakan tegas dari instansi terkait agar hal serupa tidak terjadi lagi. Masih banyak perusahaan melakukan aktivitas bahari tanpa ijin disamping saya rasa pengawasannya kurang jelas. Yang berizin pun kalau terbukti merusak harus tetap ditindak,” ucap Arjaya.

“Laut dan terumbu karang itu aset. Harus ada komitmen dari para pengusaha untuk menjaga kelestarian demi bertahannya kualitas destinasi wisata bahari agar terus berkelanjutan. Jangan dieksploitasi berlebihan demi keuntungan sesaat,” tambahnya

UPT KKP Nusa Penida bekerjasama dengan Coral Triangle Center, Lembongan Marine Association (LMA), Komunitas Penyelam Lembongan dan Perwakilan P3B melakukan reef health monitoring atau monitoring kesehatan karang di 14 lokasi di Nusa Penida. Hasil monitoring menunjukkan banyak karang yang rusak di sekitar area mangrove. Kerusakan karang terjadi akibat tergesernya beton tambatan termasuk sebagian terumbu yang rusak berada di bawah pontoon sarana wisata tirta.

“Kami melakukan monitoring di 14 lokasi dan ada kerusakan karang di Mangrove Point. Salah satunya karena ada beton penambatan yang digunakan bergeser terus sehingga karang-karang di sekitarnya rusak,” papar Dewa Wira Sanjaya dari Coral Triangle Center.

Sementara kepala UPT. KKP Nusa Penida, Nyoman Karyawan mengakui pihaknya sudah melakukan rapat yang dihadiri berbagai stake holder. Pihaknya mengaku tidak bisa melakukan tindakan apapun mengingat kewenangan ada di provinsi.

“Kita sudah menyelenggarakan rapat kemarin di Jungutbatu yang dihadiri kepala desa, Gahawisri, staff ahli bidang kelautan Klungkung, LMA, KPL dan CTC. Kita sepakat untuk bersurat ke provinsi terkait kerusakan. Kami tidak bisa mengambil tindakan karena kewenangan ada di provinsi. Kami hanya memfasilitasi,” jelas Karyawan.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: Komang Budiarta & I Gede Sumadi