Kerajinan Tenun Rangrang: Telaah dan Pengembangan Usaha Mikro

PEJUKUTAN, NUSA PENIDA POST

Yen saje ade mehang tununan, nglantas ngajahin nunun, babar sunggin le Ye, tare mekrocokan adi ye ne,” (red; Seandainya benar ada orang yang memberi alat tenun dan mengajari cara menenun, saya akan taruh dia di kepala, saya tidak main-main), celoteh warga dalam perbincangan di warung kecil awal Nopember lalu.

Ungkapan di atas adalah penggalan percakapan kami ketika singgah di warung kecil dekat pertigaan Banjar Sebuluh seusai berkunjung ke objek wisata Pasih Huug.

Secara refleks, jawaban itu mengalir lancar ketika saya bertanya tentang pekerjaan sampingan setelah pulang sekolah atau teke dimol (red; datang dari sekolah atau kebun) kepada kelompok ibu-ibu dan anak gadis yang duduk berkumpul di pos kamling. Pertanyaan ini terbersit karena membandingkan ibu-ibu, bapak-bapak, remaja di desa kami, Banjar Ampel, Desa Pejukutan dan sekitarnya yang pada jam-jam seperti itu pastilah bercanda-ria dengan alat tenunnya. Mereka bereksplorasi membuat desain baru atau berbasah peluh memintal benang yang terkadang kusut dan membuat emosi meledak-ledak.

Hasil kreatifitas tenun rangrang dengan berbagai varian motif

Hasil kreatifitas tenun rangrang dengan berbagai varian motif

Saya pun dibuat kaget, ternyata mereka sangat mendambakan kerajinan tenun yang bisa digeluti sembari tetap menjalankan pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas saat ini, kamel dan ngubuh sampi (red; ke kebun dan memelihara sapi). Mereka terlihat sangat berharap bisa menenun seperti pengrajin tenun di daerah timur atau tenggara yang hampir merata berdampingan dengan alat tenun.

Tenun rangrang yang saat ini sedang berkembang dan mampu memikat para penggiat dan penikmat mode nasional karena keunikan kainnya yang cendrung keluar dari pakem tenun pada umumnya. Keberanian penenun dalam mengkombinasikan warna untuk pola ataupun desainnya secara ‘ekstrim’ atau melanggar keserasian perpaduan warna dalam busana, justru membuat para penggila mode terkesima, kaget, tak menduga, yang pada awalnya memandang sinis kemudian berbalik mencintai bahkan menjadi “Duta Rangrang” tanpa ikatan dan bayaran. Banyak sekali artis dan para pejabat yang tampil di televisi atau di media sosial mengenakan kain Rangrang dengan membeli sendiri alias tanpa sponsor meski semestinya dibayar untuk bersedia menggunakannya di atas panggung ataupun di layar kaca.

Ditengah popularitas tenun rangrang yang sedang ‘go national’ bahkan kedepan diproyeksikan mampu ‘go internasional’ bukan berarti bebas dari persoalan terutama ditingkat pengrajin itu sendiri. Kompleksitas permasalahan dikhawatirkan akan membuat usaha mikro ini layu sebelum berkembang, antara lain; (1) Minimnya modal sebagai pendanaan usaha. Modal sebagian disuplai oleh rentenir atau para pengepul yang mengikat dan menggiring penenun untuk menjual kembali kepada pengepul dengan harga yang tak pasti. (2) Fasilitas pemasaran yang masih kacau sehingga memunculkan beragam versi harga atau jor-joran yang justru merusak nilai jual dan pasar. (3) Inovasi dan pemanfaatan teknologi yang masih sangat sederhana dengan minimnya perhatian pemerintah secara profesional baik pendampingan maupun pemberian pelatihan dan workshop. (4) Pemakaian bahan baku yang cenderung memilih bahan yang tidak berkualitas dengan alasan kemampuan dan ketersediaan modal yang sedikit. (5) Rencana pengembangan usaha yang belum terarah dengan baik dan belum mampu diakomodir secara baik oleh pemerintah berikut perencanaan yang matang, mau dikemanakan produk kreatif asli Nusa Penida ini?

Tidak dimungkiri, pembangunan dan pertumbuhan usaha kecil dan menengah merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Kinerja usaha kecil semestinya harus efisien, produktif serta memiliki tingkat daya saing yang tinggi. Pemerintah Daerah Klungkung harus responsif dalam menelurkan kebijakan-kebijakan pembangunan sektor swasta khususnya pengembangan usaha kecil. Peningkatan pertumbuhan ekonomi mesti berorientasi pada pasar dengan mengembangkan dan memperbanyak jumlah pengrajin untuk membuka kesempatan kerja seluas-luasnya kepada masyarakat, terutama penenun rangrang di seluruh Nusa Penida.

Rangrang yang merupakan salah satu produk kreatif asli Nusa Penida memerlukan penataan sebagai pondasi ekonomi kerakyatan. Ada sejumlah langkah strategis yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam pemberdayaan pengrajin tenun rangrang.

Pertama, penyebaran pengrajin ke polsok daerah. Saat ini, perajin hanya terkonsentrasi di daerah timur dan tenggara.  Perlu usaha keras untuk menambah jumlah pengrajin ke bagian barat dan selatan. Memang bukan hal yang mudah karena permodalan menjadi kendala utama tetapi bukan berati tidak mungkin. Tentu, pemerintah memiliki kewenangan untuk memprioritaskan suatu kebijakan yang disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

Berikutnya, setelah penyebaran pengrajin merata diikuti pemberian bantuan alat tenun. Pemegang kebijakan tertinggi yang memiliki kewenangan dan didukung total oleh para wakil rakyat di gedung dewan. Alat tenun disalurkan kepada kelompok pengrajin produktif di bagian barat atau selatan dengan estimasi per alat tenun lengkap Rp 7.500.000 per buah sudah termasuk modal benangnya.  Secara kalkulasi, untuk menciptakan 1.000 pengrajin secara instan dibutuhkan anggaran 7,5 miliar per tahun. Anggaran sebesar ini bukanlah jumlah yang besar untuk membentuk fundamental produk kreatif yang khas dan berkarakter ketimbang anggaran ‘bansos bocor’ yang hanya menyasar pendukung pribadi bukan masyarakat secara umum. Hasilnya pun kita bisa lihat, bansos yang mestinya hak rakyat hanya menjadi ajang jual beli suara.

Pemberdayaan pengajin rangrang bisa dilakukan dengan pemberian pelatihan dan pendampingan

Pemberdayaan pengajin rangrang bisa dilakukan dengan pemberian pelatihan dan pendampingan

Kita tentu sangat yakin bahwa pemegang dan pemangku kewenangan di bumi serombotan ini mampu mencarikan solusi baik melalui APBD Kabupaten, APBD Provinsi ataupun APBN termasuk sumber pendanaan lain. Sejatinya dengan memilihnya dalam pilkada berarti masyarakat sudah menggadaikan sebagian hajat hidupnya untuk diperjuangkan ke arah yang lebih baik. Jika rutin dianggarkan tiap tahun dalam rentang 5 tahun ke depan bukan hanya 5.000 penenun yang terlahir tetapi bisa saja 10.000 yang siap menproduksi produk kreatif maskot Nusa Penida ini. Secara tidak langsung, pengrajin yang sudah berhasil pasti menularkan pada masyarakat lain sehingga tidak perlu disusui lagi tiap tahun. Program ini bisa terwujud bila ada kesepahaman yang baik untuk satu tujuan antara pemerintah yang mengatur hajat hidup rakyatnya dan anggota dewan yang katanya membela rakyat kecil.

Saat ini, tak kurang dari 2.000 penenun tersebar di Nusa Penida, artinya tak kurang dari 1.000 lembar kain tenun rangrang yang diproduksi setiap harinya. Jumlah ini bukan jumlah yang cukup untuk mampu bersaing memenuhi kebutuhan masyarakat mode di tingkat Nasional. Pemenuhan pasar di Bali saja masih jauh dari ketercukupan. Banyak butik-butik terkenal i dan artshop di kawasan wisata yang tidak mampu mendapatkan stok rangrang, apalagi masyarakat umum yang sudah sadar fashion saat ini. Selain sedikitnya jumlah pengrajin, pola distribusi masih dikuasai oleh para tengkulak karena tidak ada regulasi dan jalur distribusi resmi yang diatur pemerintah.

Langkah ketiga, pemberian kemudahan kredit untuk mengakses modal. Modal menjadi momok dan penyebab lambannya laju perkembangan usaha kecil. Faktor modal juga menjadi salah satu sebab tidak munculnya usaha-usaha baru di luar sektor yang sudah membumi. Namun akses aspek permodalan yang diberikan haruslah tidak menimbulkan ketergantungan, misalnya dengan harus menjual dengan harga tertentu. Pemerintah harus membantu pengrajin untuk mendapatkan akses di lembaga keuangan seperti perbankan, lembaga perkreditan atau lembaga-lembaga lainnya yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat pedesaan. Jika ingin berpihak total kepada rakyat kecil tentu pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan dengan menjamin kredit pengrajin di lembaga kuangan yang ada memberi subsidi bunga atas pinjaman mereka di lembaga keuangan. Cara ini selain mendidik pengrajin untuk bertanggung jawab terhadap pengembalian kredit juga dapat menjadi wahana bagi penenun untuk terbiasa bekerjasama dengan lembaga keuangan yang ada sekaligus membuktikan kepada lembaga keuangan bahwa tidak ada alasan untuk diskriminatif dalam pemberian pinjaman terhadap masyarakat Nusa Penida.

Keempat, pemberdayaan ekonomi masyarakat lemah secara berkelompok. Pengrajin rangrang tidak bisa dilepaskan secara mandiri per individu. Harus diakui bahwa para pengrajin rangrang bukanlah golongan masyarakat yang berpendidikan, mayoritas masih buta huruf, tak lulus Sekolah Dasar, tetapi mereka berada pada usia produktif. Pengrajin ini sulit dilepas untuk bisa mandiri tanpa dikendalikan olen pemerintah atau kelompok lain yang peduli. Untuk itu pembentukan kelompok usaha atau perkumpulan pengrajin atauwadah koperasi penenun atau apapun namanya harus diinisiasi oleh pemerintah. Pemerintah bisa jemput bola dengan mengumpulkan kelompok penenun untuk bersatu dalam satu wadah agar memudahkan dalam banyak hal untuk kepentingan pengrajin.

Penenun mustahil dapat mengendalikan distribusi hasil produksi dan input produksi, secara individual. Melalui kelompok, mereka dapat membangun kekuatan untuk ikut menentukan alur distribusi. Pengelompokan atau pengorganisasian ekonomi diarahkan pada kemudahan untuk memperoleh akses modal ke lembaga keuangan yang telah ada dan untuk membangun skala usaha yang ekonomis. Aspek kelembagaan yang lain adalah dalam hal kemitraan antar skala usaha dan jenis usaha, pasar barang, dan pasar input produksi. Aspek kelembagaan ini penting untuk ditangani sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya pengrajin rangrang yang secara sosial budaya berbeda dengan masyarakat lainnya. Bukankah ini tugas wajib nan penting dan mulia Pemerintah?

Strategi kelima yakni pengembangan SDM untuk menembus pasar global. Pengembangan usaha ditentukan oleh kemampuan pelaku-pelaku itu sendiri untuk mengembangkan produk-produk usahanya sehingga tetap eksis. Kelemahan utama pengembangan usaha rangrang adalah karena kurangnya ketrampilan sumber daya manusia. Manajemen yang ada relatif masih tradisional jika tak mau disebut kuno. Pengembangan usaha kecil dalam meningkatkan kualitas SDM dilakukan melalui berbagai cara seperti pendampingan, pelatihan, pemagangan dan kerja sama usaha.

Untuk penenun pemula, pendampingan menjadi sangat prioritas, perlu dan penting. Tugas utama pendamping ini adalah memfasilitasi proses belajar atau refleksi dan menjadi mediator untuk penguatan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha besar. Yang perlu dipikirkan bersama adalah mengenai siapa yang paling efektif menjadi pendamping masyarakat pengrajin di Nusa Penida ini. Pemerintah Klungkung melalui dinas terkait pastilah sudah menemukan solusi dan cara jitunya, karena sudah lama memediasi pengrajin, namun entah kenapa sampai saat ini belum nampak jelas hasilnya alias abu-abu.

Langkah keenam, pentingnya menjaga martabat pengrajin. Apakah mewujudkan iklim bisnis yang berkesinambungan itu martabat? Ya. Martabat pengrajin harus tetap dijaga oleh semua pihak yang bersinggungan dengan dunia kerajinan dalam menghasilkan produk kreatif. Dengan menghargai kreatifitas mereka, produk yang dihasilkanpun tidak akan menjemukan. Jangan menilai pengrajin dengan patokan uang semata. Uang memang mereka butuhkan untuk berkreatifitas tetapi uang yang berkuasa dengan memodali mereka mengharuskan menjual kembali produknya kepada pemilik modal, jelas akan mematikan kreatifitas pengrajin. Pengrajin tak bisa sepenuhnya ditekan dengan uang, tak bisa dibatasi dengan uang, dan tak bisa diatur dengan uang.

Perkembangan usaha kecil rangrang akan sangat ditentukan dengan ada atau tidaknya iklim bisnis yang menunjang perkembangan usaha mereka. Persoalan yang selama ini terjadi iklim bisnis kurang kondusif dalam menunjang perkembangan usaha. Dalam hal ini perlu ada upaya untuk memfasilitasi terselenggaranaya lingkungan usaha yang efisien secara ekonomi, sehat dalam persaingan dan non diskriminatif bagi keberlangsungan dan peningkatan kinerja pengrajin. Perlu ada tindakan untuk melakukan pengawasan dan pembelaan terhadap praktek-praktek persaingan usaha yang tidak sehat dan didukung melahirkan dan penyempurnaan kebijakan serta pengembangan kelembagaan usaha kecil khususnya di Nusa Penida yang khas dan berkarakter.

Mengapa harus tenun rangrang dikembangbiakkan? Tenun rangrang dengan keunikan dan kenyelenehannya yang menyimpang dari pakem busana mampu memikat hati pencinta mode. Penggunaan warna yang ekstrim dan cara menenun yang tak lazim dengan perbandingan benang antara 0,5 : 8 yang artinya 0,5 benang serat atau lungsi diapit oleh 8 benang pakan, dimana umumnya 1:1. Selain itu ‘rangrang’ atau jarak berlubang antar benang serat atau lungsi yang dihasilkan disetiap pertemuan antar warna akan menjadikan kain rangrang semakin unik. Meskipun kain rangrang sangat tebal karena menggunakan 8 benang pakan menjadi 1, namun sesungguhnya kain rangrang adalah ramah angin, karena disetiap pertemuan warna yang menghasilkan rangrang/lobang yang cukup besar berkisar 2 mm adalah tempat sirkulasi udara yang baik untuk masuk ke badan penggunanya.

Atas dasar keunikan yang khas itulah tenun rangrang sangat layak untuk diperjuangkan sebagai produk unggulan Nusa Penida bahkan Klungkung untuk mampu menembus pasar internasional.  Terlebih untuk menghadapi MEA 2015 atau pasar bebas ASEAN yang sudah menanti di depan mata.

Profesi pengrajin rangrang tidak akan meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai petani, pagi hari masyarakat masih bisa ‘kamol’ sambil membawa ayamnya dan di sore hari tetap bisa “ngarit” untuk menghidupi hewan ternaknya yang selama ini menjadi tabungan. Menenun tidak terikat dengan waktu yang bisa dilakukan hingga malam hari. Hampir semua anggota keluarga penenun bisa berkontribusi aktif menjadi penenun. Bapak-Bapak dan anak laki-laki bisa membantu ‘ngererek, benang untuk sang istri dan anak gadisnya. Bahkan sekarang tak ada lagi pemisahan gender dalam menenun. Itulah alasan utama tenun rangrang wajib dikembangbiakkan di Nusa Penida. Menenun rangrang tidak akan menghilangkan jati diri orang Nusa Penida. Justru menjadikan karakter khas yang akan menghasilkan ikon atau simbol Nusa Penida.

Penulis: Pan Pinasti, Banjar Ample, Desa Pejukutan, Nusa Penida

Editor: I Gede Sumadi