Kenali Tuberkulosis (TBC) dan Penanganannya

NUSA PENIDA POST

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis). Hasil Survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100.000 penduduk. Khusus untuk propinsi DIY dan Bali angka prevalensi TB adalah 68 per 100.000 penduduk. Mengacu pada hasil survey prevalensi tahun 2004, diperkirakan penurunan insiden TB BTA positif secara Nasional 3-4 % setiap tahunnya.

Kebanyakan infeksi tuberkulosis terjadi melalui udara (airborne), yaitu penularan melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang-orang yang terinfeksi.Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang ditimbulkan meliputi gejala respiratori diantaranya batuk selama 2 minggu lebih, batuk darah, sesak nafas, dan nyeri dada. Sedangkan gejala sistemik yang muncul diantaranya demam (subfebril/mirip demam influenza), malaise, keringat malam, anoreksia, dan berat badan menurun. Selain itu gejala yang mungkin timbul dapat menyerang ekstraparu, namun tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosis akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening.

Saluran pernafasan menjadi salah satu media masuknya bakteri.

Saluran pernafasan menjadi salah satu media masuknya bakteri.

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis tuberkulosis adalah dengan pemeriksaan sputum. Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis  tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Selain itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang diberikan. Selanjutnya dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan radiologi yaitu pemeriksaan foto thoraks dengan gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB aktif diantaranya bayangan berawan/nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah, kaviti terutama lebih dari satu dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular, bayangan bercak milier, efusi pleura unilateral atau bilateral.

Pemeriksaan dahak mikroskopis pada pasien diklasifikasikan berdasarkan standar tertentu.  Pembagian yang pertama berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis dapat dibagi menjadi 2 yaitu, tuberkulosis paru BTA positif dengan ciri-ciri sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif, 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.

Adapun yang kedua adalah tuberkulosis paru BTA negatif dimana dalam kasus ini tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus memenuhi paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative, foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberculosis, tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT dan ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.

Klasifikasi selanjutnya adalah berdasarkan riwayat pengobatan yaitu Baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah minum OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Kambuh (relaps) adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). Pengobatan setelah putus berobat adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Selanjutnya, Gagal (failure) adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Pindahan (Transfer In) adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Dan yang terakhir Lainlain adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan di atas. Seperti kasus kronis, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulangan.

Panduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien dan untuk sediaan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.

TBC adalah salah satu penyakit berbahaya yang memerlukan penangan serius. Berdasarkan data yang diirlis oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), TBC termasuk 10 besar penyebab kematian penduduk dunia. Penting kiranya mengenali gejala TBC dan penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan efek buruk bagi kita dan orang-orang di sekitar kita.

Oleh : dr. Ida Bagus Aditya Nugraha, S.Ked