Kemarau Panjang, Bunut dan Behaha Andalan Pakan Ternak di Nusa Penida

Teba, Nusa Penida Post

Sapi di Nusa Penida diternakan hampir disetiap keluarga sebagai tabungan seperti dijual ketika biaya anak-anak mulai sekolah. Terlebih kini harga sapi melambung setelah terungkapnya isu suap impor daging sapi.

Selain itu, belakangan sapi Nusa Penida khususnya bibitnya menjadi incaran sehingga harga sapi cukup mahal, karena sapi-sapi Nusa Penida unggul dan tahan terhadap penyakit penyakit.

Budidaya sapi oleh warga Nusa Penida secara turun-temurun menjadi andalan untuk menambah penghasilan, walaupun pada musim kemarau pakan ternak sapi menjadi lanngganan  masalah yang cukup pelik.

Kemarau panjang membuat warga resah karena mereka sulit mencari pakan ternak sapi. Rerumputan yang pada musim hujan banyak tumbuh liar di ladang warga dan biasanya dijadikan makanan sapi-sapi, kini tidak nampak.

Demikian pula gamal, lamtoro dan pepohonan lain yang biasanya dijadikan pakan ternak, kini terlihat juga meranggas tak berdaun. Terlebih warga Nusa Penida yang beternak sapi lebih dari satu ekor akan sangat merasa kesulitan akan situasi ini.

"Pohon bunut & behaha yang rimbun walaupun pada musim kemarau di Nusa Penida

“Pohon bunut & behaha yang rimbun walaupun pada musim kemarau di Nusa Penida”

musim panas ne babar ngaben menek duang ngalih aman sampine, ngantyang ujan tuhun” (red; mencari makanan sapi dimusim kemarau ini melihat keatas saja, melihat apakah hujan akan turun) ungkap Wayan Tagel (35) pada Minggu, 3/11/2013.

Tagel  peternak sapi dari Teba, Desa Tanglad, Nusa Penida ini ini menegaskan selama musim kemarau ia mengandalkan pohon Bunut dan Behaha (tanaman tahunan sebutan masyarakat lokal). Karena kedua tanaman yang bergetah ini mampu bertahan tumbuh dan menghasilkan daun dimusim kemarau.

Hal senada dituturkan I Made Satu 3/11/2013,“gamal jak padang merak biasane hang sampi, lakun musim panas ne mekejang pade ngehah” ( red : gamal dan rumput merak biasanya diberikan sapi, namun musim panas ini semua berguguran ).

Bunut dan Behaha sengaja dibudidayakan untuk mengantisipasi pakan ternak pada musim kemarau. Selain tahan dimusim kemarau, behaha dan bunut juga dapat tumbuh subur, terlihat  daunnya lebat.  Padahal ditanam pada tanah berbatu sekalipun, seperti kebanyakan daerah Nusa Penida.

Gambarannya, warga yang mempunyai tiga pohon behaha atau bunut dengan ukuran yang besar, dapat mencukupi kebutuhan pakan ternak hingga 2 bulan untuk 2 ekor ternak dewasa.

Warga yang mempunyai tanaman behaha dan bunut biasanya menggunakan persediaan dimusim kemarau ataupun saat sang peternak sibuk semisal pada waktu upacara adat . Karena dengan behaha dan bunut yang berdaun lebat dan rimbun biasanya peternak dengan mudah dan cepat mengumpulkan daun-daunnya.

 

Reporter : I Kadek Sumawa

Editor      : I Wayan Sukadana