Karnaval Budaya, Membangkitkan Tradisi yang Terpinggirkan

BATUNUNGGUL, NUSA PENIDA POST

Parade budaya yang digelar pada rangkaian Festival Nusa Penida pada Minggu, 8 Juni lalu seolah membukakan mata semua kalangan betapa kaya dan uniknya tradisi yang dimiliki kepulauan ini. Ditengah stigma negatif yang sering menyudutkan, warga Nusa Penida bangkit dan unjuk kebolehan dengan menampilkan ciri khas masing-masing daerah. Ratusan seniman lokal, mulai dari anak-anak sampai orang tua memperagakan atraksi dengan balutan kain lokal diiringi instrumen musik tradisional. Hiasan gebogan yang diusung para wanita dan iringan muda-mudi dengan pakaian asli ‘cepuk dan rangrang’ berbagai motif membuat suasana semakin meriah.

Meski panas cukup terik, warga yang menanti sedari pagi enggan beranjak, petugas keamanan pun dibuat kewalahan dengan membludaknya jumlah warga yang datang menyaksikan parade budaya. Suara dukungan dan teriakan tak henti-hentinya terdengar. Petugas beberapa kali menghalau penonton agar memberi jalan untuk parade, namun begitu lewat, warga kembali merangsek ke dekat pusat parade.

Karnaval budaya menampilkan berbagai atraksi dan karya seni

Karnaval budaya menampilkan berbagai atraksi dan karya seni

Ah ne kadung kebus, tumben ne, hene aengene balese ne to basin. Masih ibe ngelah hang Nuse,” (red; Meskipun panas, ini pertama kali dan luar biasa, sayang kalau ditinggalkan. Lagipula ini milik kami, orang Nusa Penida), ungkap I Wayan Pasek yang rela datang dari Tanjungan, Jungut Batu dengan mimik ceria.

Informasi terperinci dari koordinator karnaval budaya, I Wayan Suarbawa yang dimintai keterangan (8/6) menyebutkan bahwa setiap desa mementaskan satu keunikan seni yang dimiliki.

“Kita tidak membatasi apapun kesenian yang ditampilkan sepanjang itu memang ada di daerah bersangkutan. Rata-rata menampilkan kesenian asli mereka, salut sekali walaupun persiapannya cukup mepet,” terang Suarbawa.

Karnaval yang berlangsung dari pukul 14.00 sampai pukul 19.00 lebih ini berhasil menyedot ribuan warga. Parade diawali dengan penampilan perwakilan dari SMA N 1 Nusa Penida dengan tari kontemporer yang berjudul ‘Tirta Amerta’ garapan dari Ni Komang Mulati. Duta Desa Lembongan hadir dengan pertunjukan tari Sanghyang Gerodog. Tarian sakral yang baru bangkit setelah 29 tahun mati suri ini memiliki rangkaian yang cukup panjang. Setidaknya ada 23 rangkaian sanghyang yang biasanya dipentaskan selama 23 hari penuh. Sanghyang Gerodog memakai gegulak (red; media) dengan roda kayu sehingga memunculkan suara gaduh.

Tidak mau kalah, Desa Pejukutan menampilkan dua tarian klasiknya, Gambuh dari Banjar Karang dan Jangkang dari Pelilit. Gambuh adalah seni drama tari tertua di Bali sementara Jangkang memilki nilai sakral dan magis yang dipercaya sebagai penolak bala. Jangkang menjadi seni asli Nusa Penida dengan gerakan khas koreografer tentara jaman dulu. Di bagian lain, duta Desa Batukandik muncul dengan kesenian ‘Gandrung Bungan Urip’ yang ditarikan dua anak laki-laki yang terpilih. Masyarakat meyakini, tarian ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Desa Jungut waktu pada gilirannya menyuguhkan tarian Sanghyang Jaran lengkap dengan gundukan apinya. Penari yang dalam keadaan trans (red; tidak sadarkan diri) tidak akan terbakar ketika menginjak api. Disusul penampilan apik tari Demang dari Bunga Mekar. Parade lain yang istimewa adalah Joged Bumbung dari Desa Batummadeg. Gerak gemulai penari disambut tepuk tangan para warga. Salah satu permainan lokal yang turut memeriahkan dari duta Desa Kutampi, metulud (red; saling dorong). Permainan ini menggunakan bambu atau kayu besar dan setiap ujungnya didorong oleh grup yang berbeda. Aksi saling dorong antar kedua pihak berlangsung seru dan memunculkan spirit kebersamaan.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: Redaksi