Warning: Use of undefined constant ‘DISALLOW_FILE_EDIT’ - assumed '‘DISALLOW_FILE_EDIT’' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Jeritan Petani, Diserang Ulat Bulu Hingga Mangga yang Tak Laku
 

Jeritan Petani, Diserang Ulat Bulu Hingga Mangga yang Tak Laku

NUSA PENIDA POST

Hujan yang turun belakangan ini membuat para petani sedikit menaruh harapan namun hama ulat bulu yang memakan tanaman cukup mengkhawatirkan sehingga petani was-was. Serangan uled bijal (red; ulat bulu) membuat tanaman labu, kacang merah, jagung termasuk daun umbi-umbian menjadi tanpa daun meski tidak seganas diawal masa tanam. Tingginya curah hujan membuat tanaman ini bisa tetap survive meski diserang hama.

“Makejang amahe, don kacang, kemale, jagung kayang keladi krutung don anake. Jani agak dongan sube, yen pidante mare sajan,” (red; semua dimakan, daun kacang, labu, jagung termasuk umbi-umbian pun tanpa daun,. Sekarang sudah berkurang, kalau dulu memang ganas), tutur I Made Senter warga Senangka Desa Sakti, Nusa Penida (12/1).

Ulat bulu menyerang tanaman pertanian warga di sejumlah lokasi bahkan hingga masuk ke pekarangan rumah

Ulat bulu menyerang tanaman pertanian warga di sejumlah lokasi bahkan masuk ke pekarangan rumah

Selain hama ulat yang meresahkan, warga juga mengeluhkan anjloknya harga buah mangga di musim panen raya. Akhir Desember lalu menjadi awal musim panen mangga, puluhan ton buah mangga dari berbagai jenis siap panen mulai manalagi, poh lantang, poh lembongan, poh gedang, poh ijo, poh dodol, gender rase, poh pelom dan varian lainnya. Lagi-lagi petani hanya bisa gigit jari akibat rendahnya harga jual yang membuat petani enggan memanen mangganya. Buah mangga dibiarkan begitu saja dan jatuh berserakan di dekat pohonnya. Warga bahkan mengaku buah mangga dijadikan makanan tambahan ternak.

“Apah di Abian tiang di Mundung Asah bek sajan laku ajine trade. Anak meli trade, yen adep mudah sajan percume ibe, adenle sisir-sisir hang sampi, celeng jak siap, mani to adep,” (red;  Di kebun saya, Mundung Asah, banyak sekali mangganya tetapi tidak laku. Orang mau beli saja tidak ada, kalaupun dijual harganya murah dan percuma, lebih baik kami kupas untuk makanan ternak seperti sapi, babi dan ayam, ternak itu yang akan kami jual), ujar I Wayan Sadia sambil berkelakar, Minggu kemarin (4/1).

Rendahnya harga jual mangga diduga akibat pasokan yang melimpah sementara distrubusi pengiriman hasil panen ke Bali daratan sangat minim. Bisnis ini pun tidak begitu dilirik oleh para pengepul karena dianggap berisiko. Lambatnya transportasi pengiriman membuat mangga cepat busuk dan dikhawatirkan pengepul merugi. Harga buah mangga justru berbanding terbalik dengan nilai jual di Pasar Badung, Denpasar, per kilogram diharga kisaran Rp 10.000 sementara di Nusa Penida nyaris tak laku.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta