Uji Coba Penanaman Rumput Laut, Harapan Itu Masih Ada

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Rumput sempat berjaya dan menjadi roda penggerak ekonomi utama bagi sebagian masyarakat Kepulauan Nusa Penida. Menjelang akhir tahun 2015, hamparan budidaya rumput laut masih terlihat di sepanjang garis pantai sisi utara pulau termasuk di Pulau Lembongan dan Ceningan bagian utara. Pada tahun berikutnya, rumput laut semakin menghilang dan kini hanya tersisa sedikit yang bertahan di ujung timur, tepatnya di Dusun Semaya, Desa Suana.

Panen perdana hasil ujicoba penanaman rumput laut di Pantai Buanyaran, Lembongan Sabtu, (2/60)

Secara keseluruhan luas areal budidaya rumput di Kecamatan Nusa Penida diperkirakan mencapai 300-an hektar meski tidak angka yang pasti. Wilayah budidaya terpusat di bagian utara pulau yang tersebar dari ujung pantai timur Dusun Semaya Desa Suana, Desa Batununggul, Kutampi Kaler, Ped, Toya Pakeh, Jungut Batu dan Lembongan serta Ceningan di sisi utara dengan garis pantai yang relatif landai.

Teknik budidaya dilakukan secara sederhana dengan metode lepas dasaran. Kontur dasar perairan dengan pasir berkarang sangat memungkinkan penggunaan teknik ini ditambah arus dan gelombang yang cukup kuat. Bibit rumput laut diikat dengan tali rapia pada tali sepanjang 5 meter dengan jarak 20 sentimeter. Selanjutnya tali diikatkan pada tali pokok yang disangkutkan pada patok kayu. Petani juga biasanya mengurung lahan mereka menggunakan jaring nilon untuk menghindari serangan ikan dan mencegah rumput laut hanyut terbawa arus dan gelombang.

Ada dua jenis rumput laut yang paling banyak dibudidayakan yakni eucheuma spinosum sp dan eucheuma cotonii sp. Jenis cotonii memiliki kualitas lebih baik hingga harganya lebih mahal tetapi rentan dengan berbagai hama atau penyakit. Proses awal pembibitan hingga panen berkisar 35 sampai 45 hari. Rumput laut yng sudah dipanen akan dipilah sebagian untuk bibit dan sisanya dijual dengan dikeringkan terlebih dahulu. Tingkat produksinya pun tidak main-main, sesuai catatan yang ada, angkanya sempat menyentuh kisaran 130 sampai 225 ton per bulan. Angka ini menempatkan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung sebagai peringkat pertama produksi rumput dari seluruh kabupaten di Bali. Jika dikalkulasikan dengan angka kasar, produksi 225.000 kilogram dengan harga Rp 10.000/kg, maka dalam sebulan rumput laut menyumbang pendapat sebesar Rp 2.250.000.000.

Banyak pihak berspekulasi dan menuding pariwisata menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas rumput laut meski tanpa kajian. Pariwisata pun kerap dijadikan kambing hitam hilangnya budidaya tumput laut. Padahal ada beragam faktor lain pemicu berkurangnya tingkat produktivitas baik alam, harga jual dan sumber daya manusianya sendiri. Banyak generasi muda yang enggan bertani dan sudah beralih profesi dengan munculnya peluang kerja baru sementara hanya kelompok tua yang bergelut dengan rumput laut. Serangan hama dan parasit termasuk ikan pemakan rumput laut cukup berpengaruh pun termasuk  ice-ice serta bulung kawat dan bulung gamet. Kondisi perairan, perubahan iklim global dan suhu perairan yang tidak menentu turut memberi andil besar. Rumput laut sangat rentan terhadap musim, suhu perairan, pasang surut dan pergerakan arus atau gelombang.

Seorang petani rumput laut asal Lembongan, I Wayan Suwarbawa mencoba kembali membangkitkan budidaya rumput laut dengan membuat demplot penanaman. Hingga pertengahan April 2018, Suwarbawa tercatat melakukan dua kali penanaman dengan menggunakan kantong rumput laut dan hasilnya cukup bagus. Keberhasilan ini pun mendorong Pemkab Klungkung lewat Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan melakukan kajian dengan penanaman bibit pada Minggu, 22 April lalu di kawasan Pantai Buanyaran, Lembongan. Pasca penanaman, Sabtu, (2/6) proses panen perdana dilakukan dengan hasil yang cukup optimal.

“Hasilnya cukup bagus, dari setiap 100 gram bibit per ikat tumbuh menjadi 500 hingga 800 gram, kalau dirata-ratakan hasilnya  kisaran 650 gram. Satu bentang tali isi bibit 2,5 kg dengan jumlah yang diuji coba mencapai 50 bentang dengan berat total awal 125. Hasil tanam selama 42 hari yang mencapai 750 kg memberi harapan rumput laut masih layak untuk dibudidaya,” ujar Suwarbawa, Senin padi (4/6)

“Ini juga menjadi bukti bawah perairan kita masih sangat layak untuk budidaya rumput laut. Asumsi bahwa limbah perairan tercemar karena pariwisata tidak sepenuhnya benar terbukti hasil uji coba hasilnya optimal,” imbunya.

Menurut Suwarbawa, budidaya rumput laut bisa kembali berkembang jika ada sinergitas semua stakeholder. Rumput laut bisa berkembang beriringan dengan parwisata bahkan bisa didorong menjadi objek wisata baru termasukk menjadi komoditas pariwisata unggulan.

“Kalau masih petani rumput laut hanya sekedar jadi penonton dan mengandalkan hasil produksi semata saya rasa cukup sulit. Seharusnya proses budidaya ini dikemas menjadi semacam atraksi wisata sehingga ada nilai tambah secara ekonomi bagi petani rumput laut dari kunjungan pariwisata. Misalnya pelaku wisata membuat paket wisata rumput laut jadi jelas ada kontribusinya bagi petani,” harap Suwarbawa.

Reporter: IGS

Editor: IGS