Jadi Alternatif, Pelabuhan Sampalan Minim Sentuhan

BATUNUNGGUL, NUSA PENIDA POST

Pembangunan Pelabuhan Nusa Penida sebagai dermaga sandar Kapal Ro-ro Nusa Jaya Abadi tidak serta merta menggantikan peran pelabuhan tradisional. Tingginya mobiltas masyarakat membuat pelabuhan tradisional tetap memegang fungsi vital. Sebagian masyarakat masih mengandalkan pelabuhan ini sebagai alternatif penyeberangan dan pengiriman barang akibat minimnya jatah trip kapal.

Pelabuhan tradisional tersebar di beberapa wilayah seperti Toya Pakeh, Banjar Nyuh, Buyuk, Kutampi, Mentigi dan Sampalan. Dibalik perannya dalam mengangkat gerak ekonomi masyarakat kondisi pelabuhan ini berbanding terbalik dengan terbatasnya fasilitas penunjung dan sentuhan infrastruktur. Kondisi dangkalnya Pelabuhan Sampalan pun mendesak untuk segera dilakukan pengerukan. Fasilitas lain seperti MCK juga sangat memprihatinkan, meskipun ada namun minim perawatan, demikian juga area pelabuhan perlu pengaspalan.

Pelabuhan Sampalan menjadi alternatif penyeberangan namun dukungan fasilitas dan kelayakan pelabuhan masih jauh dari standar

Pelabuhan Sampalan menjadi alternatif penyeberangan namun dukungan fasilitas dan kelayakan pelabuhan masih jauh dari standar

Pelabuhan Sampalan berada pada lokasi yang strategis yakni pusat ekonomi bisnis, akses transportasi dan akitivitas perkantoran. Pada acara tertentu seperti Festival Nusa Penida yang dihelat beberapa waktu lalu, pelabuhan ini menjadi pintu masuk menuju venue. Sempitnya area disertai peningkatan rute penyeberangan membuatnya semakin krodit. Berdasarkan pantauan di lokasi (5/10), setidaknya ada dua tempat sandar untuk sampan besar dan satu lokasi sandar di sisi barat untuk speed boat, tetapi ketika kondisi ombak besar, sandar pun dilakukan bergantian. Kondisi bertambah krodit dengan penambahan trayek angkutan menuju Sanur dan Tribuana, Desa Kusamba dengan fast boat. Hampir setiap sandar, penurunan penumpang menggunakan tangga darurat yang dibuat oleh porter pelabuhan dan penumpang pun kembali harus mengeluarkan uang sewa tangga. Warga berharap ada perhatian lebih pada kondisi pelabuhan apalagi ketika air surut hanya satu lokasi yang bisa disandari sehingga seluruh armada yang ada antre terombang-ambing sebelum masuk pelabuhan.

Bendesa Desa Pekraman Dalem Setra Batununggul, I Dewa Nyoman Yusa, mengatakan pelabuhan tradisional Sampalan mempunyai nilai plus dengan lokasinya sehingga perlu pembenahan termasuk rencana revitalisasi yang sempat mucul beberapa waktu lalu.

“Lokasinya sangat dekat dari berbagai sisi akses, dekat pasar yang menjadi pusat ekonomi di Nusa Penida. Pada sejumlah event pelabuhan ini menjadi akses utama. Sekarang lebih krodit dengan berbagai armada baru terutama ketika kondisi laut kurang bersahabat. Setidaknya fasilitas penunjang dibenahi, demikian pula mestinya ada pelebaran area sandar yang hanya 15 meter dengan pengerukan sehingga semua armada tertampung karena pelabuhan ini adalah penyangga bagi pelabuhan Kapal Ro-ro,” terangnya (5/10).

Disisi lain, I Dewa Gede Udiantara  menyampaikan bahwa pelabuhan tradisional yang dibangun secara swadaya dari masyarakat setempat memang terbatas fasilitasnya. Ia menilai kondisi pelabuhan jauh dari standar kelayakan.

“Perlu adanya pelebaran pelabuhan dengan pengerukan di beberapa bagian sehingga pelayanan lebih nyaman. Fasilitas lain, seperti pengaspalan area parkir pelabuhan juga mendesak dilakukan,” ujar Udiantara.

Reporter : Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi