Infrastruktur Buruk, Warga Keluhkan Jalan Bergelombang dan Berukir

senderan

Jalan rusak dan tergenang banjir rob akibat rusaknya tanggul penahan gelombang.

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST
Hampir semua infrastruktur jalan di Nusa Penida berada pada kondisi yang sangat memprihatikan. Jalan protokol sepanjang kurang lebih 7 Km, dari Sampalan menuju Toyapakeh sangat berbahaya dan sempit, bahkan ada istilah jalan lubang buaya. Bisa dibayangkan jalan utama saja kondisi hancur lebur apalagi jalan pedesaan.

Kondisi ini akan sangat berbeda ketika kita menengok jalan di Klungkung daratan. Infrastruktur sudah jauh lebih bagus dengan jalan hotmix. “Ape kaden gaene duang pejabat te, kode sube sok mati, jleme ulung, lung kanti mati. Jalan tileh benyah latig amonean,” (red; Apa saja yang dikerjakan para pejabat, sudah banyak shock breaker yang rusak, korban jatuh, patah tulang bahkan meninggal karena jalan rusak), gerutu warga yang mewanti namanya tidak disebutkan (2/9).

Ubud terkenal akan ukiran kayu tetapi di Nusa Penida hal tersebut justru terbalik, jalannya yang banyak berukir di sana-sini. Keadaan ini sudah sangat sering dikeluhkan masyarakat yang melintasi jalan tersebut, alih-alih mau turun ke lapangan, para pejabat terkait justru berkilah dengan alasan minimnya anggaran. Lagu lama para pejabat ini pun terkesan sumbang dan membuat masyarakat semakin meradang. “Be sai dingeh anggota DPRD kone kal ngusul perbaikan jalan pi kayang jani trade ape” (red; sudah sering anggota DPRD katanya mengusulkan perbaikan jalan, tetapi hasilnya nihil), celoteh I Made Sutama (29) salah satu sopir dari Banjar Adegan Kauwan, Desa Ped (2/9).

Jalan bergelombang dan berlubang

Jalan bergelombang dan berlubang

Kerusakan jalan menjadi fenomena gunung es tanpa ada solusi yang jelas. Tidak hanya proses pengerjaan jalan yang tidak sesuai standar, prilaku masyarakat juga memperburuk fasilitas jalan yang ada. Pengaspalan jalan tak ubahanya seperti membuat jaje wajik, aspal hanya disemprotkan ke badan jalan selanjutnya ditaburi koral dan split. Alhasil, bukan jalan bagus yang dihasilkan tetapi jalan berbahaya dengan kerikil  berserakan. Mirisnya lagi, hasil penulusuran tim Nusa Penida Post, Senin, 2/9/2013, jalan rusak dan berlubang dari pertigaan Telaga sampai Banjar Nyuh hanya ditaburi bubur batu. Tak ayal, di musim kemarau seperti ini, debu pun beterbangan membuat pengguna jalan menutup hidung.

Pengguna jalan kembali dibuat geleng-geleng, jalan yang semula sudah sempit harus kembali dibagi dengan petani yang dengan sengaja menjemur rumput laut di badan jalan. Seolah tanpa dosa, sejumlah petani rumput laut membeberkan rumputl laut di median jalan dengan beralaskan terbal. Prilaku seperti ini tidak hanya membahayakan pengendara tetapi juga nyawa petani tersebut. Jalan lingkar Pasar Mentigi yang berfungsi sebagai alternatif pemecah kemacetan pun memprihatikan, sulit membedakan memang, apakah ini jalan raya atau rawa? Ketika air pasang, terjangan air membuat jalan ini berubah menjadi rawa mendadak. Masuknya air laut diduga karena jebol senderan pantai yang sampai saat berita ini diturunkan, Rabu, 4/9/2013, belum ada tindak lanjut dari instansi terkait.

Dewa Made Suardana (70), mantan Camat Nusa Penida juga menyampaikan, bahwa masyarakat sangat sangat keberatan dengan jalan yang sehari-hari mereka gunakan. “Aktivitas kami terganggu sebab jalan ini rusak. Semua itu disebabkan mobil besar melintasi menuju pelabuhan yang selalu lewat di jalan ini,” ujarnya (29/8). ditambahkan I Wayan Gangsa (38) warga Desa Tanglad, jalan ini juga sering memakan korban. “Hal ini disebabkan jalannya rusak dan sempit. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kepada pemerintah supaya memperbaiki jalan ini, sehingga aktivitas kami tidak terganggu,” harap Gangsa.

Reporter : Santana Ja Dewa