Implementasi “Kecil tapi Nyata” Yayasan Genitri Bali dan FKMNP ajak STT Tanam Pohon Upakara

Nusa Penida Post Vol 16Sebagai pulau kecil, hampir semua sisi kehidupan masyarakat Nusa Penida sangat dipengaruhi dan tergantung dengan Bali daratan. Salah satu ketergantungan yang tanpa kita sadari adalah pemenuhan bunga atau pohon untuk keperluan upakara. Setiap ada upakara baik itu tingkatan nista, madya dan utama, semua pasokan keperluan didatangkan dari seberang.

Seandainya saja, masyarakat punya sedikit kemauan, maka niscaya pemenuhan sarana upakara tidak mesti diimpor. Terlihat sederhana memang bahkan beberapa di antara kita terkesan mengentengkan, “Ah meli babar nah pang enggal.” (red: beli saja biar cepat). Ini adalah potret pola piker konsumtif yang sama sekali tidak menunjukkan kreatifitas. Jika kebiasaan seperti ini terus dininabobokan tanpa ada upaya untuk menguranginya maka praktis masyarakat di Nusa Penida menjadi konsumen sejati. “Ini adalah wujud partisipasi dan implementasi kami sebagai warga Nusa Penida melalui wadah kecil FKMNP, kecil tapi nyata,” paparnya diakhir kegiatan.

Sasaran Kegiatan

Bertolak dari keadaan inilah, Forum Krama Muda Nusa Penida (FKMNP) membuat terobosan dengan penanam bunga dan pohon upakara. Program penanaman diagendakan serangkaian untuk memperingati hari bumi pada 22 April. Penanaman pohon upakara didukung oleh beberapa lembaga, yaitu Yayasan Genitri Bali dan STT di Nusa Penida. “Untuk pengadaan bibit, itu sepenuhnya disediakan oleh Yayasan Genitri Bali,” tegas Agus Koriana selaku Ketua Umum FKMNP. Gus Kori demikian biasa ia dipanggil, mengatakan bahwa program ini melibatkan generasi muda dengan menyasar sejumlah STT sebagai pilot project, antara lain STT Eka Putra di Banjar Batumulapan, STT di Banjar Semaya, STT di Banjar Jurang Batu, STT Banjar Tanglad, STT Banjar Cemulik, dan STT Banjar Sebunibus. STT dinilai memiliki peran dan andil besar untuk mengubah paradigma konsumerisme di masyarakat meskipun pada tataran yang kecil.

Konsep Go Green dan Gumi Banten

Menurut Wiwik selaku koordinator Yayasan Genitri Bali, bibit yang disebar kurang lebih 300 batang. Semua bibit merupakan bahan untuk banten upakara antara lain; cempaka, sandat, majegau, cendana, cemara geseng, nagasari, pangi, kawista dan beberapa jenis kelapa. Wiwik menegaskan bahwa kegiatan ini selain untuk membantu penghijaun juga dimaksudkan agar masyarakat Nusa Penida lebih mudah  mendapat bahan untuk keperluan upakara. “Kasian sekali kalau masyarakat harus mencari bahan upakara sampai ke Bali daratan sementara masyarakat bisa membudidayakannya sendiri. Untuk itulah kami dari Yayasan Genitri Bali berusaha memfasilitasi untuk pengadaan bibitnya,” ungkapnya. Ia pun berharap pihak yang menerima bibit untuk bertanggungjawab dalam artian bibit harus dirawat sehingga bisa tumbuh dan memberi manfaat. Apabila ini berhasil, pihaknya meminta kegiatan seperti ini bisa disebarluaskan di masyarakat dan ia siap mendukung penyediaan bibit. Proses pengiriman bibit dilaksanakan pada Sabtu (13/4), bibit berhasil diangkut berkat bantuan dari fast boat Semaya One. Ditengah hujan rintik yang mengguyur, sejumlah anggota FKMNP dan ABK Semaya One fast cruise, bahu membahu menaikkan bibit yang sebelumnya diangkut dengan mobil dari nursery Yayasan Genitri Bali. Tepat pukul 17.30, boat sudah lego jangkar dan bibit diturunkan. Selanjutnya bibit dikirim ke sejumlah lokasi sesuai tujuan awal. Minggu (14/4), dilakukan Pengambilan bibit di nursery Yayasan Genitri Bali Pengangkutan bibit oleh SemayaOne Fast Cruise Penyerahan bibit secara simbolis oleh Ketua FKMNP penyerahan dan penanaman secara simbolis di wantilan Banjar Batumulapan dan diikuti STT lain yang ditunjuk. Tahapan awal, tanaman upakara ditanam di areal pura dan pekarangan rumah untuk memudahkan pengawasan. Disela-sela kegiatan, Ketua STT Eka Putra, I Kadek Sugiarta yang lebih dikenal “Kokot”, sangat apresiasif terhadap kegiatan ini. “Kegiatan seperti ini mampu mengarahkan kaum muda untuk peduli lingkungan dan mengurangi dominansi tindakan remaja yang cenderung negatif, ungkap tokoh muda yang juga seorang guru dengan mimik serius. Pada kesempatan yang sama, Gus Kori menandaskan keinginannya agar program seperti ini tetap berlanjut dan menyampaikan terimakasih pada Yayasan Genitri Bali yang sudah menyediakan bibit serta Semaya One fast cruise yang mengakomodasi pengangkutan secara penuh yang diamini oleh Koordinator Kesenian dan Budaya FKMNP, I Gede Purwa Adnyana. “Ini adalah wujud partisipasi dan implementasi kami sebagai warga Nusa Penida melalui wadah kecil FKMNP, kecil tapi nyata,” paparnya diakhir kegiatan. (Sum)