Illegal Fishing Kembali Mengancam Kawasan Manta Point

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Praktek penangkapan ikan secara ilegal di kawasan konservasi perairan bagian selatan Nusa Penida seakan tidak pernah berhenti. Sudah sekian kali nelayan luar yang mencoba masuk dan menangkap ikan ditangkap, namun aksi pencurian ikan justru semakin sering terjadi. Jumat lalu (10/4) sekitar pukul 16.00 wita tim patroli kembali menangkap kapal nelayan di perairan Manta Point I, wilayah Banjar Guyangan, Desa Batu Kandik.

Hasil introgasi awal diketahui kapal nelayan yang tanpa nama berasal dari wilayah Tanjung Benoa. Meski tidak ada nomor dan nama kapal, penyelidikan juga mengungangkap bahwa kapal tersebut terdaftar dengan nama Putri Andini. Dalam keterangannya, Danposal TNI AL Pos Nusa Penida, Letda Laut Hari Susanto mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Pol Air sesuai dengan jenis pelanggaran mulai dari beroperasi di wilayah konservasi, penangkapan dengan kompresor hingga kelengkapan dokumen kapal.

Petugas patroli menangkap kapal nelayan yang melakukan illegal fishing di area konservasi

Petugas patroli menangkap kapal nelayan yang melakukan illegal fishing di area konservasi

“Parahnya nama kapal tidak tercantum di lumbung kapal, sedangkan lisensinya bernama Putri Andini,” terang Danposal.

“Proses penyelidikan masih berlanjut kami berkoordiansi dengan Pol-Air, pelanggaran yang dilakukan nelayan ini banyak. Mulai dari pelanggran UU Perikanan (penangkapan ikan menggunakan kompresor), pelayaran, serta dokumen kapal tidak lengkap,” tambah Hari.

Sejumlah barang bukti termasuk kapal dan alat kompresor masih diamankan petugas sebagai barang bukti. Sementara, hasil tangkapan yang masih hidup baik ikan dan lobster kembali dilepas. Hingga kini pihak otoritas setempat juga masih menahan kapten dan ABK kapal.

Kepala UPT. Kawasan konservasi, I Nyoman Karyawan yang dikonfirmasi Sabtu (11/4) mengatakan nelayan yang diamankan berasal dari Tanjung Benoa. Menurutnya, nelayan terbukti menangkap lobster dan ikan menggunakan kompresor di kawasan koservasi.

“Sesuai dengan Undang-Undang Perikanan tidak diperbolehkan menangkap lobster dan ikan menggunakan kompresor apalagi dilakukan di wilayah konservasi. tidak hanya itu, membawa saja saat melaut walaupun tidak melakukan aktifitas penangkapan juga tidak diperbolehkan,” ujar Karyawan

Sekitar pukul 20.00 malam, kapten kapal yang bernama Mulamin serta 5 ABK yakni Ruslan, Rubianto, Bidin, Japar serta Taufik Hidayat digiring menuju Pelabuhan Tradisional Sampalan. Dari dalam kapal, petugas menemukan hasil tangkapan berupa lobster sebanyak 30 kilogram dengan ukuran yang bervariasi sedangkan berbagai spesies ikan sebanyak 50 kilogram.

Informasi penangkapan nelayan yang beroperasi di kawasan konservasi sampai ke telinga bupati dan Ketua DPRD Klungkung yang kebetulan berada di Nusa Penida. Bupati, I Nyoman Suwirta dan Ketua DPRD, I Wayan Baru bahkan langsung mengintrogasi nelayan yang tertangkap. Suwirta bahkan meminta aparat bertindak tegas agar pelanggaran serupa tidak terulang.

“Sanksi terhadap pelanggran harus tegas sesuai dengan aturan yang ada agar memberikan rasa efek jera bagi nelayan lainya untuk tidak memasuki kawasan koservasi,” tegasnya.

Reporter : Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi