I Wayan Regeh, Saksi Hidup Pejuang Melawan Penjajah

PED, NUSA PENIDA POST

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri,” Ir. Soekarno.

Salah besar jika ada satu kelompok di negeri ini yang menyebut hanya satu daerah atau satu agama tertentu saja yang berjuang melawan penjajah. Perang berkepanjangan untuk kemerdekaan dengan taruhan jutaan nyawa terjadi hampir di seluruh pelosok nusantara, tidak terkecuali di Pulau Nusa Penida, Klungkung – Bali. Berdasarkan literatur sejarah dan penuturan para tetua, Jepang sempat bercokol dan berkuasa hingga membuat markas di bagian timur Nusa Penida yang peninggalannya masih ada hingga kini. Pulau ini dianggap strategis untuk memantau pergerakan kapal sekutu dari perairan Australia yang kini dikenal dengan sebutan ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) II yang meliputi perairan Selat Lombok yang berada dekat dengan wilayah Kepulauan Nusa Penida.

I Wayan Regeh menjadi salah satu saksi hidup pejuang dari Pulau Nusa Penida

Rekam Jejak dan Bukti Sejarah Pendudukan Penjajah

Ada banyak rekam jejak pendudukan penjajah baik Belanda maupun Jepang yang tersebar di seluruh bagian pulau masih tersisa hingga kini dan menjadi bukti sejarah yang tidak terbantahkan. Bukti pertama ada Goa Jepang di Banjar Angkal, Dusun Celagilandan, Desa Suana. Goa ini menjadi markas utama tentara Jepang yang dibangun dengan kontruksi baja yang berada di atas bukit menghadap ke Selat Lombok. Peninggalan yang paling fenomenal berupa meriam yang bisa dilihat sampai kini. Tak jauh dari goa pemantau, Jepang juga membangun pelabuhan di Teluk Celagilandan untuk mendukung operasi. Kontruksi pelabuhan dari tumpukan batu masih ada dan bisa dibuktikan oleh para penyelam.

Berikutnya bekas kapal perang Jepang yang tenggelam akibat serangan sekutu juga bisa ditemukan di Malibu Point, wilayah perairan Dusun Semaya, Desa Suana. Bergeser agak ke barat di wilayah Desa Batununggul masih berdiri flares (red; senjata anti serangan udara). Tidak hanya membangun pertahanan dan pelabuhan, penjajah juga membangun gumbleng (red; dam air) di beberapa titik yakni di Desa Tanglad, satu lagi di wilayah Batu Megong, Tulad – Desa Batukandik untuk mensuplai air.

Saksi Hidup dan Pelaku Sejarah

Selain berbagai peninggalan yang masih tersisa, ternyata ada legenda hidup pejuang yang ikut andil dalam perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia.Dia adalah I Wayan Regeh, pejuang dan pelaku sejarah ketika zaman kemerdekaan di Nusa Penida tahun 1938 hingga 1948. I Wayan Regeh lahir pada 31 Desember 1921 di Desa Ped, Nusa Penida. Regeh bersama 22 orang rekan sejawatnya ikut dikirim untuk membantu perjuangan.

“Kami di Nusa Penida ada 22 orang yang ikut pergerakan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Di timur Nusa Penida ada Nyoman Mokoh dan di Toya Pakeh ada We Midra yang merupakan saudara muslim Toya Pakeh,” tuturnya yang ditemui Jumat kemarin (16/2) di rumahnya.

Tugas kami adalah untuk penyediaan logistik, penggalangan dana, sebagai mata-mata dan melakukan perlawanan melawan penjajah di Nusa Penida,” imbuh Wayan.

“Kalau kita berani, penjajah sebenarnya juga takut. Hanya zaman itu yang berani tidak banyak. Pernah tentara Jepang hendak memperkosa gadis di sini dan merampas sapi. Saya usir, ambilkan panyong (red; alat mencongkel batu). Dengan terluka tentara Jepang itu kabur,”cerita I Wayan Regeh.

Berkat usahan dan jasanya sebagai pejuang melawan penjajah, I Wayan Regeh diangkat menjadi pejuang veteran berdasarkan Surat keputusan nomor 17/0/Kpts/MUV/1962 Menteri urusan Veteran dan Mobilisasi Brigjend TNI Sambas Atmadinata tertanggal 22 September 1962. Nama I Wayan Regeh pun terpahat di Monumen Tanah Ampo, Karangasem sebagai pejuang kemerdekaan.

I Wayan Regeh yang kini sudah berusia lanjut ternyata tidak hanya seorang pejuang, ia juga menjadi tokoh yang disegani dan pernah menjabat selama 10 tahun menjadi perbekel. Wayan juga dianggap memiliki kelebihan lain secara spiritual. Ketika ditanya pesan kepada generasi muda, khususnya dari Nusa Penida, I Wayan Regeh walau dengan terbata-bata mengatakan tetap semangat dan pantang menyerah.

“Sekarang anak muda mendapatkan sesuatu semua serba mudah. Itu tidak baik, harus tetap semangat dan berjuang meraih cita-cita, jangan terlena dengan semua serba ada sekarang ini,”pesannya.

Sementara itu anak I Wayan Regeh yang merupakan dosen di Politeknik Negeri Bali, I Nengah Wijaya berharap agar generasi muda tidak begitu saja melupakan sejarah.

“Memang pelajaran sejarah tidak menghasil apa-apa seperti pelajaran Bahasa Inggris yang bisa dipakai mengantar wisatawan dan dapat uang, tetapi sejarah membuat kita ada seperti sekarang ini,” ucap Wijaya.

“Untuk itu jangan sesekali melupakan sejarah, termasuk sejarah pejuang merebut kemerdekaan yang juga dengan gigih oleh para orang-orang tua kita di Nusa Penida. Kita orang Nusa Penida juga ikut mendirikan negara ini,” tambah Wijaya.

Reporter: Sukadana & Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi