I Wayan Djanthen, SE, CHT Pariwisata Eksklusif menjadi Blue Print Pariwisata Ideal

djanten

I Wayan Djanthen, SE, CHT

DENPASAR, NUSA PENIDA POST
Ada dua kawasan khusus yang diprioritas menjadi sentra pariwisata terpadu, yaitu di bagian barat berpusat di Pasih Huug termasuk area Crystal Bay, sementara di bagian timur berpusat di Karang Gede yang terkoneksi dengan area Pantai Atuh dan Suehan. Pariwisata yang dibentuk pun dengan model pariwisata eksklusif, sehingga wisatawan yang datang akan terseleksi secara otomatis dan memudahkan pengawasan.

Anak Nusa lakar ngelamar PNS di Klungkung, konden tuun uling jukung sube tare lulus” (red; Orang Nusa yang mau melamar PNS ke Klungkung, belum turun dari perahu sudah tidak lulus). Begitulah sepenggal kata yang terucap dari salah satu tokoh inspirator Nusa Penida yang berkecimpung di dunia pendidikan sekaligus praktisi pariwisata, I Wayan Djanthen, SE, CHT (72) saat diwawancarai oleh tim NusaPenidaTV (TV Streaming Youtube), Sabtu, 1/6/2013.

Kehidupan yang susah pada masa kecilnya, menumbuhkan tekad yang kuat untuk menjadi sukses dari diri Djanthen kecil. Kehidupannya yang begitu susah, dimana sekolah dulunya tanpa sandal jepit, jalan kaki dengan menempuh jarak 7,5 km dari Banjar Ambengan ke SD N 1 Suana di Banjar Suana. Tidak ada bekal sama sekali, hanya tekad untuk mendapatkan segores pengetahuan di bangku SD mengibarkan semangat untuk terus melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Djanthen pun mulai merintis karier sebagai praktisi pariwisata, selanjutnya merambah ke dunia pendidikan sebagai dosen hingga sampai pada puncak kariernya sebagai Wakil Direktur Kampus STP Bali di Nusa Dua.

Djanthen yang juga salah satu owner Sekolah Perhotelan Bali (SPB) dan STPBI, meyakini bahwa Nusa Penida banyak melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan intelektual dan prestasi yang tinggi baik di bidang ekonomi, birokrasi, pendidikan maupun bidang lainnya. Banyak mahasiswa lulusan yang memperoleh predikat lulusan terbaik di kampus-kampus ternama seperti Universitas Udayana, Undiksha, UGM, ITB, ITS dan bahkan menyelesaikan pendidikannya di luar negeri. Anehnya dari beberapa putra-putri yang lulus dengan predikat terbaik, tetapi ketika melamar PNS di Kabupaten Klungkung, tidak bisa lulus. Setelah mereka melamar di Kabupaten lain seperti Denpasar, Badung, Buleleng mereka lulus, apanya yang salah? Ada apa dengan perekrutan PNS di Kabupaten Klungkung? Nah dari situlah keluar ungkapan “Yen nak nusa ngelamar PNS ke Klungkung, konden tuun uli jukung sobe tare lulus” (red; kalau orang Nusa mau melamar jadi PNS di Kabupaten Klungkung, belum turun dari sampan sudah tidak lulus), ungkap praktisi yang pernah menjadi manager di Jayapura Hotel di Irian Jaya. Fenomena ini memang bukan rahasia lagi, setiap kali ada perekrutan Pegawai Negeri Sipil di gumi serombotan, hampir tidak pernah lepas dari yang namanya tombokan dan tentengan.

Di sisi lain, Djanthen juga banyak mengamati dan mengkaji dinamika perkembangan ekonomi di Nusa Penida. Menurutnya, kondisi geografis yang terpisah dari Bali daratan menjadi kendala utama untuk menggerakkan ekonomi secara massive. Ia pun menegaskan Nusa Penida termarjinalkan dan dikebiri hak-haknya secara sistematis hampir sepanjang masa. Ketersediaan prasarana dasar sebagai penggerak ekonomi dinilainya masih setengah hati, sehingga masyarakat harus berjibaku sendiri untuk tetap survive. “Liat saja masyarakat Lembongan harus memperbaiki sendiri jembatan yang rusak dengan bambu,  belum lagi Dermaga Gunaksa yang saru gremeng padahal puluhan miliar uang rakyat disedot habis. Jalan aspal di Nusa Penida pun beda jauh dengan jalan yang status sama di Klungkung daratan, apanya yang salah ini? Pemerintah daerah pun cuci tangan dengan berbagai dalih yang tidak rasional, cuek bebek tanpa ada perhatian sedikit pun” papar Djanthen dengan nada tinggi.

Ketika diminta pendapat tentang pola pengembangan pariwisata yang ideal, Djanthen yang seorang praktisi pariwisata menyampaikan bahwa ia telah membuat blue print pembangunan pariwisata bersama Prof. Kinog (Alm). Konsep ini bisa menjadi dasar dan arah pengelolaan potensi wisata dengan tetap mengedepankan kearifan lokal, keberpihakan terhadap lingkungan serta pemerataan manfaat. “Pola pembangun pariwisata harus terencana dan tidak boleh terjadi by accident, karena dampaknya akan sangat fatal dan tanpa arah pengembangan yang jelas” ujarnya. Ada dua kawasan khusus yang diprioritas menjadi sentra pariwisata terpadu, yaitu di bagian barat berpusat di Pasih Huug termasuk area CryIstal Bay, sementara di bagian timur berpusat di Karang Gede yang terkoneksi dengan area Pantai Atuh dan Suehan. Pariwisata yang dibentuk pun dengan model pariwisata eksklusif, sehingga wisatawan yang datang akan terseleksi secara otomatis dan memudahkan pengawasan. Area di luar kawasan khusus menjadi hak masyarakat dengan berbagai aktivitas penunjang lainnya, sehingga kawasan wisata jelas dan tidak campur aduk.

Nusa Penida Post Vol 28

Untuk Download Nusa Penida Post Vol 28 klik gambar di atas!

Dengan lugas Djanthen kembali menggarisbawahi, harus ada keseimbangan dan pemerataan manfaat ekonomi dari pengembangan pariwasata terhadap masyarakat setempat. Mereka tidak boleh hanya dijadikan objek penderita tetapi lebih diarahkan sebagai subjek atau pelaku pariwisata. “Saya tidak ingin kasus di Nusa Dua terjadi di Nusa Penida, yang di dalam pagar makan steak yang di luar pagar makan ketela steak” harap mantan Ketua Asosiasi Koperasi Bali ini.

Namun sebelum semua itu terealisisasi, infrastruktur dasar harus terpenuhi sebagai sarana penunjang dan upaya untuk meminimalisasi dampak yang ditimbulkan. Transportasi laut sebagai moda utama harus dioptimalisasikan, diikuti dengan perbaikan jalan, ketersediaan air bersih, fasilitas kesehatan dan aspek lainnya. Semua perencanaan itu sudah sempat diusulkan ke instansi terkait tetapi cuma diminta menunggu tanpa ada tindak lanjut dari Pemerintah Klungkung. (Oka SanjayaVideo Wawancara