I Wayan Bagiayasa: Perkembangan Pariwisata Lembongan Ngeri-ngeri Sedap

LEMBONGAN, NUSA PENIDA POST

Pulau Lembongan kini menjadi destinasi wisata favorit bahkan mampu menyaingi sejumlah daerah tujuan wisata top di Bali daratan. Ada ribuan wisatawan yang berkunjung setiap harinya dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat meski rumput laut yang dulu jadi andalan warga secara perlahan tinggal cerita. Berbagai pembangunan akomodasi wisata membuka peluang usaha sekaligus lapangan kerja. Denyut nadi perekonomian cukup bergairah dan menjadi sumber utama pendapatan bagi daerah dari retribusi dan pajak. Secara kasat mata, tatanan ekonomi masyarakat masuk kategori sejahtera. Dibalik gemerlap perkembangan pariwisata ada berbagai isu internal yang masih menghantui dan perlu dicarikan solusi. Industri pariwisata pun sangat rentan dengan terpaan isu sosial, politik dan keamanan dalam skala regional maupun internasional.

Pariwisata di Lembongan memerlukan sentuhan dan penataan agar menjadi destinasi wisata terbaik

“Jadinya pariwisata di Lembongan sedap dinikmati sekarang, tapi ngeri juga kalau perkembangan ini membuat tamu tidak mau lagi kembali ke Lembongan. Apa yang bisa dikerjakan lagi kalau tidak ada pariwisata, rumput laut juga sudah mati,” ungkap Bagiayasa yang juga pelaku wisata pada Sabtu (24/12) dalam sebuah diskusi.

Bagiayasa mengungkapkan ada sejumlah persoalan pelik yang bisa merusak dan melemahkan perkembangan pariwisata di Lembongan. Berdirinya berbagai sarana wisata, hotel, villa atau restoran yang semakin banyak dan tak sedikit juga melabrak aturan justru akan menurunkan daya tarik wisata itu sendiri. Pulau kecil ini bertambah sesak dengan bertambahnya volume kendaaran yang berimbas pada kurangnya kenyamanan wisatawan. Kondisi kesiapan infrastruktur air, listrik dan jalan dinilai cukup baik meski terkadang ada kemacetan di sejumlah titik ketika day trip sedang berlangsung sehingga perlu penataan.

“Hotel, villa atau restaurant semakin banyak, daya tarik wisata alam menurun karena depan pantai, bukit, tebing dipenuhi bangunan. Kendaraan terutama mobil semakin hari terus bertambah, kenyamanan tamu berkurang apalagi pengendara yang kurang menghormati pejalan kaki atau pengendara lain,” imbuhnya.

Diakuinya pariwisata melaju sangat pesat namun sampai kapan pariwisata bisa bertahan menjadi pertanyaan besar dan tentu tugas kita bersama. Isu lingkungan sebagai imbas dari pariwisata juga menjadi sorotan termasuk hilangnya rumput laut. Dibeberapa belahan dunia pertanian rumput laut dan pariwisata dikelola beriringan bahkan menjadi ikon wisata.

“Secara umum perkembangan perekonomian juga pesat, tapi pertanyaannya sampai kapan pariwisata bisa bertahan seperti ini? Disamping itu dari segi alam dan lingkungan bisa dipertanyakan dampak pariwisata yang terlalu pesat. Rumput laut sudah hilang. Pertanyaannya mengapa bisa hilang? Adakah efek atau pengaruh dari aktivitas pariwisata terutama limbah kolam?,” ujarnya dengan nada lugas.

Selain menurunnya kualitas destinasi wisata, kemacetan, kesiapan infrastruktur dan limbah pariwisata, isu price war ternyata menjadi ancaman nyata di depan mata dan pelakunya justru pelaku wisata itu sendiri. Perang tarif kerap terjadi ketika musim sepi dan mayoritas dilakukan pemilik lokal yang biasanya diikuti menurunnya pelayanan. Pihaknya mendorong pemerintah memfasilitasi untuk membentuk asosiasi guna menghindari perang tarif, fasilitas infrastruktur lebih ditingkatkan termasuk peran masyarakat sehingga laju perkembangan pariwisata lebih terjaga secara kualitas dan kuantitas.

“Perang tarif dan perang pelayanan menjadi fenomena saat musim sepi. Mayoritas yg melakukan perang tarif adalah pemilik lokal yang diikuti pelayan yang kurang juga. Ini salah satu yg menentukan kenyamanan tamu juga, kalau tarif murah, pastinya pendapatnya sedikit, tidak bisa bayar karyawan profesional, semua karyawannya junior yang tidak mengerti melayani tamu dan bahasa Inggris. Jadinya kenyamanan tamu berkurang dan rentan tamu mendapat masalah di hotel,” urai Bagiayasa.

“Kami meminta difasilitasi agar dibentuk asosiasi tetapi yang paling penting semua sadar dengan pariwisata yang berkelanjutan dan bisa mengikuti poin-poin yang disepakati dalam suatu asosiasi yang dibentuk,” tambahnya.

Reporter: NPM

Editor: NPM