Hutan Mangrove Dibabat dan Dikeruk Secara Ilegal

LEMBONGAN, NUSA PENIDA POST

Kawasan hutan mangrove di Nusa Lembongan kembali dirusak oleh tangan-tangan jahil, kali ini hampir 25 are bakau dibabat untuk pembuatan dermaga speed boat. Hutan mangrove seluas 230 hektar yang masuk area kawasan konservasi perairan semestinya dilindungi namun nyatanya dikeruk secara ilegal. Tak tanggung-tanggung, beberapa alat berat seperti eskavator tampak di lokasi pengerukan, bahkan satu eskavator terlihat tenggelam. Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta yang melintas di dekat lokasi pengerukan pada Minggu (3/8) langsung melakukan sidak dan meminta kegiatan ilegal tersebut dihentikan.

“Pengerukandi hutan mangrove harus dihentikan sebelum mendapat ijin. Tindakan tegas harus diambil, saya sangat kawatir bila satu masyarakat melakukan hal yang sama dan dibiarkan, ini justru akan membahayakan lingkungan,” terang Suwirta.

Salah satu eskavator yang digunakan untuk melakukan pengerukan di area hutan mangrove, Nusa Lembongan

Salah satu eskavator yang digunakan untuk melakukan pengerukan di area hutan mangrove, Nusa Lembongan

Hutan mangrove di sebelah selatan pulau ini masuk kategori zona inti yang diperuntukkan sebagai tempat pemijahan ikan. Selain itu, masyarakat setempat memanfaatkan sebagai destinasi wisata. Dibalik pesatnya perkembangan industri pariwisata, aksi perambahan lahan sebagai akomodasi semakin tidak terkendali.  Keseriusan semua pihak untuk melindungi kawasan ini harus tetap dikawal. Jika aksi perusakan dan pengerukan ilegal ini tidak ditangani dengan baik, dikhawatirkan abrasi akan mengikis Pulau Lembongan. Ribuan biota laut dan species burung pun terancam kehilangan habitat.

Lokasi pengerukan tepatnya berada di Nusa Lembongan yang bersebelahan dengan perahu nelayan yang kasusnya di SP3kan oleh Kejari Klungkung beberapa tahun yang lalu. Sidak di tempat langsung dilakukan rombongan bupati yang didampingi Kabab Humas dan Protokol, I Wayan Parna.

I Wayan Parna menyayangkan kawasan hutan mangrove yang merupakan kawasan yang dilndungi justru malah dikeruk. “Jika warga yang ingin melakukan usaha seharusnya mengajukan ijin terlebih dahulu,” jelasnya.

Informasi di lapangan menyebutkan, pengerukan hutan mangrove akan difungsikan sebagai dermaga sandar Rocky fast cruise. Pemilik yang diketahui bernama Made Senaya diminta untuk menghentikan pengerukan. Masyarakat pun masih menanti tindakan nyata dan tegas dari instansi terkait.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi