Warning: Use of undefined constant DISALLOW_FILE_EDIT - assumed 'DISALLOW_FILE_EDIT' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Gema Perdamaian, Memeluk Damai dalam Keberagaman
 

Gema Perdamaian, Memeluk Damai dalam Keberagaman

DENPASAR, NUSA PENIDA POST
“Damai itu upaya, damai itu indah.” Damai bukanlah monopoli keinginan individu atau kelompok saja. Kedamaian adalah keinginan mendasar dan paling hakiki semua insan tetapi saat ini damai menjadi barang langka dan sulit dicari. Parahnya lagi, kehidupan sosial justru lebih sering diwarnai pertentangan dan konflik sesama umat manusia dengan berbagai dalih pembenaran. Berbagai peristiwa besar yang melukai kedamaian terjadi silih berganti, mulai dari serangan Gedung World Trade Center di Amerika Serikat, Bom Bali I dan II, konflik berkepanjangan di beberapa Negara Timur-Tengah dan merebaknya primordial suku, agama, ras, dan antar golongan (Sara) semakin menambah daftar kelam kekisruhan. Aksi demonstrasi atas nama demokrasi pun jauh melenceng dari tujuan awal bahkan memperparah situasi.

Beranjak dari kondisi tersebut, sejumlah komponen anak bangsa yang terpanggil hatinya menggelar ritual tahunan yang dikenal ‘Gema Perdamaian’ (GP). Ide ini muncul dari diskusi sebagai upaya menyadarkan masyarakat untuk lebih mengedepankan rasionalitas dan menghargai perbedaan. Sabtu, 5 Oktober 2013 dan bertempat di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, komunitas Gema Perdamaian kembali meretas acara tahun ke-XI yang bertajuk echo of peace. Rangkaian acara sudah dimulai dengan sarasehan untuk pemuda yang dilaksanakan di Ksirarnawa, Art Center pada 2 Okotber 2013, bertepatan dengan hari lahir tokoh perdamaian dunia, Mahatma Gandhi.

Pertunjukan seni kontemporer turut meriahkan Gema Perdamaian 'Echo of Peace' 2013

Pertunjukan seni kontemporer turut memeriahkan Gema Perdamaian ‘Echo of Peace’ 2013

“Kita menggaungkan doa dan menyatukan perbedaan. Perbedaan memang fakta dan ada di kehidupan kita tetapi dibalik semua itu, kita semua sama, merah putih,” tegas I Made Suryawan (51) yang juga Ketua Panitia Gema Perdamaian, Sabtu, 5 Oktober 2013.

Made juga menambahkan kegiatan ini dihadiri oleh ribuan peserta dari berbagai unsur lintas agama, kepercayaan, adat dan budaya. “Kita mengundang masyarakat yang sadar akan arti damai. Pesertanya berasal dari lintas agama, lintas kepercayaan, budaya dan adat. Kita berkumpul bersama untuk saling memahami keberagaman yang seharusnya melahirkan keindahan bukan untuk dipertentangkan,” tandasnya.

Puncak acara diisi dengan doa bersama dan pertunjukan dari berbagai agama, suku dan lapisan masyarakat. Selesai berdoa, peserta diajak mengelilingi Lapangan Bajra Sandi dengan membawa bendera merah putih. Kesenian Barong Sai, musik rebana, tari kontemporer, dan kesenian etnik turut menyemarakan acara termasuk atraksi Gong Kebyar. Komunitas Puri Djoyo Negoro yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah juga mempersembahkan Tari Kuda Lumping.

“Kami ingin mempersatukan budaya yang ada di Nusantara karena itu warisan leluhur yang wajib kita lestarikan,” tutur Selamet Tjerio (60) yang ikut rombongan Kanjeng Pangeran Aryo Adiputro Negoro selaku Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara. Selamet juga menyayangkan masih banyak penggunaan kekerasan dalam menjawab perbedaan kehidupan.

Reporter: Agus Koriana, Budiarta & Meta

Editor: I Gede Sumadi