Warning: Use of undefined constant ‘DISALLOW_FILE_EDIT’ - assumed '‘DISALLOW_FILE_EDIT’' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Gadung, Panganan di Musim Paceklik
 

Gadung, Panganan di Musim Paceklik

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Gadung (Dioscorea hispida) adalah tumbuhan berbatang merambat yang menghasilkan umbi. Tumbuhan ini biasanya tumbuh liar di semak-semak dengan media tanah yang gembur. Masyarakat Nusa Penida tempo dulu begitu familiar dengan tanaman ini terutama pada musim kering. Ngadung adalah istilah yang dipakai sebagian warga Nusa Penida dalam mengolah umbi gadung menjadi panganan yang siap dikonsumsi dengan teknik khusus. Namun, sekitar tahun 1980-an, kegiatan pengolahan umbi gadung yang terkenal beracun itu sudah hampir menghilang dan tergantikan dengan panganan jenis lain.

“Pengolahan umbi gadung ini dulunya pada sasih ketiga (red; musim kemarau) dimana biasanya pada sasih itu kebanyakan warga belum begitu sibuk mengolah lahan pertanian,” ungkap I Wayan Tasyana warga Banjar Cemulik, Desa Sakti (6/10). Pria yang punya tiga cucu ini pun menambahkan bahwa ketika masih duduk di bangku SD, olahan umbi gadung ini dimanfaatkan sebagai tambahan makanan pokok.

Umbi gadung yang siap diolah menjadi panganan sederhana

Umbi gadung yang siap diolah menjadi panganan sederhana

Sebelum gadung siap dikonsumsi, ada proses khusus yang harus dilalui untuk menghilangkan kadar racunnya. Umbi gadung yang sudah terkumpul tentunya dikupas terlebih dahulu kemudian dijemur. Untuk menghilangkan kandungan racun pada getahnya, umbi harus direndam ke dalam air laut. “Biasane pidan di Prasi tongos mersihang gadung,” (red: Dulu kami membersihkan umbi gadung di tepi Pantai Prasi), kenang Ketut Sudantri yang tak lain adalah istri dari Wayan Tasyana. Umbi yang telah direndam itu kemudian dijemur sampai benar-benar kering. Setelah dirasa cukup, gadung kering dikukus dan dihidangkan dengan parutan kelapa dengan sedikit gula sebagai penambah cita rasa.

“Tradisi ini sudah tergerus jaman, dulu ketika sarana transportasi yang minim warga berjalan kaki menuju pantai untuk merendam umbi ini. Namun sekarang sudah sangat jarang bahkan hampir tidak ada warga yang ngadung,” seloroh Wayan Tasyana. Dibalik citra umbi yang beracun, gadung dapat diolah menjadi snack (red; makanan ringan) berupa keripik. Tak hanya keripik, umbi gadung juga bisa diolah menjadi tepung dan difermentasi untuk menghasilkan alkohol.

Reporter: I Komang Budiarta
Editor: I Gede Sumadi