FKMNP: Preservasi Alam dan Diskusi Pengelolaam Pariwisata Berkelanjutan

KLUMPU, NUSA PENIDA POST

Sejak berdiri 2009 lalu, FKMNP terus berkiprah secara nyata dengan motto ‘Kecil tapi Nyata,’. Jika dirunut, ada puluhan kegiatan dan partisipasi aktif yang telah digelar mulai pelatihan pengamatan pantai, penanaman mangrove, aksi sosial, pembagian buku, pembuatan pupuk kompos, bersih pantai, advokasi hingga penanaman kembang kertas di Puncak Mundi 2014 lalu yang. Kini setahun berlalu, hasil evaluasi menunjukkan banyak bunga yang mati akibat kermarau panjang. Tidak hanya menanam bunga, FKMNP dan STT yang hadir juga menggela diskusi bersama terkait pengelolaan pariwisata Nusa Penida secara berkelanjutan.

Usai penanaman bungan dan diskusi bersama, FKMNP dan peserta melakukan sesi foto bersama

Usai penanaman bungan dan diskusi bersama, FKMNP dan peserta melakukan sesi foto bersama

“Penanaman kali ini untuk mengganti bunga yang mati ketika penanaman bersama bupati dan para siswa tahun lalu. Kita juga mengadakan diskusi dengan mendatangkan nara sumber dari berbagai latar belakang untuk membedah pengelolaan pariwisata berkelanjutan, baik pihak pemerintah yang dalam hal ini diwakili pihak kecamatan dan pengelola kawasan KKP Nusa Penida, ada LSM dan pemerhati masalah sosial,” terang Ketua FKMNP, I Komang Budiartha (25/12)

“Kita sengaja memilih bukan dari pakar pariwisata padahal temanya pariwisata berkelanjutan. Ada Pak Made Iwan Dewantama yang seorang aktivis lingkungan dari lembaga Konservasi Internasional dan Putu Bonuz yang seorang seniman lukis lebih obyektif menilai pariwisata terhadap dampak lingkungan dan sosial yang mungkin akan terjadi ke depan. Istilahnya kita mencari sudut pandang lain. Karena kalau masalah dampak pariwisata terhadap ekonomi itu sudah jelas, yang manisnya biasanya mudah orang tahu, kita bicara pahit sehingga bisa dilakukan pencegahan sedini mungkin. Saya yakin semua warga tidak ingin Nusa Penida amblas akibat ganasnya industri pariwisata,” imbuh Budiartha.

Sekretaris FKMNP, Komang Oka Sanjaya mengatakan dalam acara diskusi ada pemutaran video bagaimana perbedaan Bali tempo dulu dan Bali Sekarang.

“Video yang diputar memberi sekilas gambaran perjalanan wisata Bali yang kini sudah memasuki masa jenuh dengan berbagai permasalah yang mulai timbul. Kita bisa saksikan macet, sampah, kriminal dan tergerusnya budaya dari pariwisata massal itu. Demikian pula Nusa Penida kini dan yang akan datang baik sosial, lingkungan dan budaya jelas akan terdampak,” jelas Oka yang biasa dipangil Jarot.

Sementara dalam pemaparanny, Made Iwan Dewantama dari CI mengingatkan agar pemuda Nusa Penida melihat ke belakang agar cerdas ke depan.

“Kita semua sudah lihat bagaimana perjalanan wisata Bali daratan dan itu menjadi contoh nyata untuk mengelola pariwisata yang ada di sini agar jangan sampai kebablasan. Lihatlah ke belakangan agar lebih cerdas dalam mengelola ke depan. Tidak bisa dimungkiri, ribuan mata kini memandang Nusa Penida, lalu apa yang bisa kita perbuat untuk tetap menjaga pulau ini,” papar Iwan.

Perupa I Putu Bonuz yang turut memberi pandangan tanpa tedeng aling-aling langsung menyebut dirinya tidak setuju ada penggantian nama tempat atau objek wisata. Menurutnya manusia terlalu sombong dengan seenaknya mengganti nama.

“Biarkan alam maju karena itu riil dan tidak bisa ditolak, cuma saya tidak setuju dengan adanya penggantian nama tempat. Itu bisa menyinggung leluhur. Manusia memang ajum tetapi jangan ajumajuman (red ; sombong). Biarkan papan nama sesuai dengan nama tempat aslinya, ingat itu,” ucap Bonuz

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: Redaksi