Empat Daerah Ngaben Massal di Lampung Selatan

BALINURAGA, NUSA PENIDA POST

Lampung bisa dikatakan sebagai rumah kedua bagi warga Bali. Sejak kedatangan transmigran pertama tahun 1952 dan pasca meletusnya Gunung Agung, hingga jumlah warga Bali yang tinggal di Lampung mencapai ratusan ribu jiwa. Mayoritas berprofesi sebagai petani dan mengelola kebun jagung, singkong hingga karet. Meski berada jauh dari daerah asal, semangat untuk melestarikan tradisi, adat, dan budaya tak pernah pudar. Hari ini, Kamis (10/8) sebanyak empat daerah di Kabupaten Lampung Selatan menggelar ngaben massal. Prosesi upacara pitra yadnya atau ngaben sama halnya seperti yang digelar pada umumnya dan menyesuaikan dengan desa, kala dan patra.

Sejumlah petulangan pada prosesi ngaben massal di sejumlah daerah di Lampung Selatan

Tak kurang dari 60-an sawa (red; jazad) mengikuti prosesi pengabenan di Banjar Sidorahayu, Desa Balinuraga. Berikutnya di Dusun Kediri, Desa Sidoraharjo, Kecamatan Way Panji ada 60-an sawa serta ngelungah 60 bayi. Uniknya upacara di Dusun Kediri digelar khusus untuk kali pertama oleh umat Hindu dari Pulau Jawa. Daerah yang juga menggelar ngaben massal yakni Desa Yogaloka, Kecamatan Bakauheni yang diikuti 30 sawa dari warga setempat. Sementara di Dusun Napal, Desa Sidowaluyo ada 66 sawa serta 30 jazad bayi yang ngelungah.

Informasi dari warga Dusun Napal, Wayan Sumaja yang dihubungi Kamis siang (10/8) menyebut persiapan umum dilakukan 12 hari menjelang hari H, sementara bagi warga yang memiliki sawa dipastikan persiapan banten dan segala bahan dimulai jauh hari sebelumnya.

“Hari ini ada empat daerah di Lampung Selatan yang menggelar ngaben massal termasuk satu daerah khusus dari saudara Hindu yang berasal dari Jawa. Persiapannya cukup lama dari masing-masing warga termasuk banten, diluar yang umum. Kita memang ada wadah atau petulangan umum tetapi warga yang mampu secara ekonomi ada juga yang membuat sendiri,” papar Sumaja.

Wayan Sumaja yang asal Banjar Soyor, Desa Tanglad, Nusa Penida memaparkan eksistensi budaya daerah asal masih tetap ajeg meski diakui dirinya lahir dan besar di Lampung. Orang tuanya datang ke Lampung tahun 1966 dan kini sudah masuk ke generasi ketiga.

“Meski kami jauh tetapi urusan budaya masih tetap kami jaga, sama seperti yang di Bali dan disesuaikan dengan desa kala dan patra. Pemerintah daerah pun dalam hal ini sangat memperhatikan kami, beberapa waktu lalu Bupati lampung Selatan juga mengunjungi Desa Balinuraga,” tambah Sumaja.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi & I Komang Budiarta