Ekstrim dan Adu Nyali, Upacara Bendera di Dasar Tebing Pasih Huug

SOMPANG, NUSA PENIDA POST

Histeria perayaan kemerdekaan terjadi hampir di seluruh pelosok Nusantara. Berbagai aksi mulai yang aneh, rada nyeleneh, konyol hingga ekstrim pun dilakoni sebagai bentuk ungkapan rasa nasionalisme. Tak terkecuali di Nusa Penida, sekelompok pencinta alam, yakni I Wayan Hery Gusmayana, Koming dan I Putu Agus Seta Sumardika yang biasa dipanggil Goes Seta nekat menuruni tebing curam dan terjal di objek wisat Pasih Uug yang berada di Banjar Sompang. Sementara rekan lainnya, I Wayan Sudiartana bertugas menarik tali dari bibir tebing.

Sekelompok warga menggelar upacara bendera di dasar tebing Pasih Huug

Sekelompok warga menggelar upacara bendera di dasar tebing Pasih Huug

Tim mulai turun sekitar pukul 08.00 Wita setelah sebelumnya berkemah di kawasan Pasih Andus. Butuh waktu yang cukup lama untuk naik turun dan pengibran bendera di bawah tebing hingga pukul 10.30 Wita. Seperti diketahui, kawasan Pasih Huug yang berdekatan dengan The Angle’s Billabong dan Pasih Andus menjadi top destinasi baik wisatawan lokal maupun asing. Usut punya usut, aksi adu nyali ini didasari rasa jengah sekaligus memperingati momentum kemerdekaan. Goes Seta yang dikonfirmasi Rabu (18/8) kemarin, terkait aksinya mengakui bahwa memang mereka pencinta kegiatan ekstrim dan jengah karena hanya wisatawan asing yang bisa ke bawah dengan sampan.

“Motivasi karena hobby saja kegiatan ekstrim dan kebetulan bertepatan dengan hari kemerdekaan. Sebenarnya cita – cita dari lama ingin turun ke sana cuma baru kesampaian bawa peralatannya ke Nusa. Jengah juga karena hanya bule yang bisa menikmati alam bawah pasih Huug karena lewat sampan dari laut,” terang Goes Seta yang juga guru di SMA Satu Atap Klumpu.

Pasih Huug merupakan wisata alam berupa kaldera laut yang terjadi karena runtuhnya bebatuan hingga membentuk laguna besar. Menariknya, laguna terhubung langsung ke laut lewat terowongan besar dengan masih menyisakan sisi atas sehingga membentuk jembatan alami. Bagian pinggir laguna, tepatnya di sisi tebing bawah menyisakan sedikit pijakan pasir dan bebatuan. Diperkirakan ketinggian tebing di atas 40 meter dengan kemiringan lebih dari 90 derajat.

Untuk turun hingga ke dasar jurang, tidak hanya butuh nyali dan keberanian tetapi juga keahlian panjat tebing, salah sedikit saja nyawa pasti jadi taruhan apalagi ketika air sedang pasang dipastikan hilang ditelan gelombang. Goes Seta mengakui bahwa sebelum memutuskan turun ke bawah, tim memang sudah menyiapkan peralatan lengkap dengan bantuan dari Federasi Panjat Tebing Indonesia Cabang Klungkung.

“Untuk turun ke bawah dengan teknik rapling menggunakan tali khusus yang dibantu oleh rekan-rekan dari FPTI Klungkung, Federasi Panjat Tebing Indonesia Cabang Klungkung,” ujarnya.

Lewat aksi ekstrimnya, Goes Seta dan rekan juga ingin menyampaikan sebuah pesan moral mengenai kondisi sampah yang dinilai bisa merusak objek wisata itu sendiri. Banyak pengunjung yang tidak bertanggungjawab justru membuang sampah seenaknya. Mirisnya lagi, area di sekitar kawasan sudah menjadi milik perusahaan luar.

“Walaupun Pasih Huug sekarang sudah jadi millik perusahaan property luar, semoga saja kita masyarakat lokal masih diijinkan bebas masuk ke sana nantinya. Pesan saya kepada masyarakat yang berkunjung ke sana atau yang membawa wisatawan ke sana tolong jaga kebersihannya, jangan sampahnya ditinggal di sana,” imbuh Goes Seta dengan penuh harap.

Sementara untuk fasilitas, sejumlah pengunjung mengeluhkan minimnya papan penunjuk arah dan kondisi jalan yang masih semi off road. “Kita kan baru ke sini jadi bingung juga, papan penunjuk arahnya mini,” ungkap Sandy, pengunjung dari Denpasar yang datang bersama rombongan dari Surabaya, (16/)

“Kalau kita yang notabena dari sini untuk fasilitas sementara cukup tong sampah aja. Cuma yang jadi masalah siapa yang akan mengelola sampahnya karena Pasih Huug ini sudah jadi milik pribadi. Jadi saran saya yang berkunjung ke sini sampahnya di bawa pulang aja. Biarpun ada tong sampah kalau ga ada yang angkut percuma juga,” imbuhnya.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta