Warning: Use of undefined constant ‘DISALLOW_FILE_EDIT’ - assumed '‘DISALLOW_FILE_EDIT’' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | EDITORIAL PILGUB BALI Merebut Hati Rakyat Bali Melalui Dunia Maya
 

EDITORIAL PILGUB BALI Merebut Hati Rakyat Bali Melalui Dunia Maya

Nusa Penida Post Vol 16Pemilihan Gubernur Bali tahun 2013 diadakan tanggal 15 Mei 2013 mendatang. Dua pasang calon berlomba merebut hati rakyat Bali. Pasangan urut 1 Anak Agung Puspayoga – Dewa Sukrawan yang lebih sering disebut PAS dan Pasangan urut 2 Made Mangku Pastika – I Ketut Sudikerta yang dipanggil PASTI KERTA.

Kata PAS dan PASTI akrab ditelinga kita, masuk keruangruang publik. Kita bisa saksikan di sepanjang jalan banyak sekali baliho yang berjejer memajang jago masing-masing calon. Tidak hanya di jalan-jalan kota, tetapi juga merambah kepelosok-pelosok desa. Perbincangan di warung-warung kopi, pos-pos kamling sampai di auditorium universitas yang juga menampilkan debat calon Gubernur Bali menjadi pemandangan lazim dan hangat dipergunjingkan. Berbagai kemasan tema dibicarakan, bermacam-macam alibi diutarakan, demikian pula segudang teori pendekatan mencoba direferensi menguatkan pernyataan untuk meraih simpati. Demikian juga media-media baik koran, radio, televise dan internet telah merambah ke ruang dan waktu untuk menjamah hati rakyat Bali. Menariknya  semacam kekuatan dua kutub magnet, ternyata media juga terbelah menjagokan calon gubernur masing-masing secara massive maupun aktif. Ada yang masih malu-malu, ada bahkan yang secara terang-terangan menjagokan satu dari pasangan calon. Setidaknya dua pasang calon yang bertarung akan memperebutkan 2.918.824 hak  suara. Sebaran daerah pemilihan meliputi 8 kabupaten dan 1 kota madya, dengan pemilih terbanyak di Kabupaten Buleleng dengan total 538.564 orang dan terendah di Kabupaten Klungkung sebanyak 156.897 orang. Dari total jumlah pemilih, 264.627 hak suara adalah pemilih pemula yang rata-rata melek teknologi, terutama jejaring sosial.

 Dimensi dan Edukasi Dunia Maya

Dewasa ini tidak bisa dipungkiri peranan internet dalam  penggalangan massa dan  pembentukan opini publik. Hal ini bisa kita ambil contoh bahwa sebuah Negara-negara Timur-Tengah dikatalisasi runtuhnya sebuah rezim disebabkan kecanggihan

internet. Mesir, Libya, Tunisia dan sekarang masih berlangsung Suriah seolah mengungkapkan bahwa dunia maya pengaruhnya sangat besar pada dunia nyata. Demikian pula pada saat Pilkada DKI, kemenangan Jokowi-Ahok tidak terlepas dari peranan dunia maya ini. Bahkan saat ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga ikut berkicau di media twitter yang katanya untuk menjaring aspirasi. Hal serupa juga dalam pemilihan Gubernur Bali, tim  sukses pasangan calon juga menggunakan media dunia maya ini secara efektif dan murah. Jejaring sosial baik facebook, twitter, istagram menjadi media dialog dua arah tim sukses atau bahkan pasangan calon dengan masyarakat Bali khususnya pengguna aktif jejaring sosial tersebut. Website, blog, youtube dan streaming video diunggah sedemikian rupa menonjolkan kehebatan masing-masing calon gubernur yang diusung. Kedua pasang calon membuka posko di masing-masing dimensi dunia maya ini, pasangan urut 1, PAS membuka koneksi dengan website: www.semetonmudapas.com, dan di-link-kan http://www.facebook.com/sameton.puspayogasukrawan, dan twitter, https://twitter.com/muda_pas. Tak mau kalah, pasangan nomor urut 2 juga gencar dengan meluncurkan website http://www.pastikerta.com/, yang terintegrasi langsung dengan laman facebook; http://www.facebook.com/pastikerta, dan twitter;  https://twitter.com/PastiKerta_Bali. Dimensi dunia maya memiliki peran istimewa untuk menggaet pemilih cerdas dengan memainkan berbagai opsi pendekatan.

Damai Tema Demokrasi

Jangkauan yang luas, murah dan mudah diunggah dan diunduh menjadi alasan mengapa internet menjadi media yang efektif dalam penyebaran visi, misi, program dan tentunya tidak lupa janji-janji. Satu hal yang perlu dicetak tebal dari penggunaan internet adalah seberapa jauh inovasi, kreatifitas dan kecerdasan dalam mengelola isu-isu Bali yang akan dijadikan “jualan” kampanye. Kampanye negatif dengan menjelek-jelekan calon lawan dan mengagung-agung calonnya sendiri yang tentunya merujuk sebuah data-data sangat kentara disini, tidak seperti

koran, televisi dan radio yang masih samar kita lihat dan dengar. Bahkan black campaign atau kampanye hitam yang tidak didukung data dan sumber yang jelas juga tersaji diberbagai diskusi dunia maya ini. Transparansi atau keterbukaan tentunya lebih jujur di sini, walaupun potensi konflik dunia maya ke dunia nyata bisa terjadi. Kedewasaan pengguna internet dengan mengedepankan kepentingan Bali yang lebih luas dan tidak terjebak dalam sebuah kesempitan mendukung salah satu calon secara membabi buta dan kasar bisa mencederai pesta demokrasi ini. Pendidikan demokrasi melalui Pilgub Bali yang disebarluaskan melalui internet harusnya menjadi sebuah momentum untuk membawa Bali menjadi lebih baik. Semua harus menjunjung tinggi demokrasi dan mengesampingkan embel-embel fanatisme yang kadang keblinger. Pilgub Bali kali ini menjadi waktu yang tepat memilih pemimpin Bali dan menentukan arah kebijakan Bali selanjutnya. Masyarakat Bali semestinya menempatkan diri seperti bos sebuah perusahaan dimana kedua pasang calon ini “ngalih gae” membawa curiculum vitae. Di sana ada data yang jelas, sekolah, prestasi yang pernah dicapai, apa yang telah diperbuat dan ini biasanya disebut dengan track record. Dari hal ini kita bisa mendapatkan gambaran sejauh mana kecerdasan, leadership, kekuatan dan kelemahan masing-masing pasangan cagub cawagub ini. Visi, misi, program kerja dan rencana kerja yang konkret pun harus menjadi pertimbangan masyarakat Bali sebagai owner pulau ini. Langkah selanjutnya tentu akan ada debat calon yang disiarkan secara langsung oleh 2 stasiun TV nasional dan 3 TV lokal, selanjutnya di-upload di youtube sebagai suatu bentuk pre-test kepada masing-masing calon. Media internet menjadi media yang efektif untuk mengakses informasi seluas-luasnya dari kedua pasang calon ini dan tentunya situs yang dirujuk pun harus situs-situs yang kredibel. Pilihan kita kepada calon Gubernur Bali periode 2013 – 2018 akan berdampak kuat menentukan nasib Bali selama lima tahun kedepan. Kita sebagai owner Bali harus memilih pekerja atau pegawai kita yaitu gubernur dan wakil gubernur yang kompeten sehingga pulau ini baik pengelolaannya secara politik, sosial, ekonomi dan budaya. Sebagai akhir dari editorial, kami sebagai media yang dibuat oleh warga Nusa Penida dalam kemasan jurnalisme warga menitip aspirasi dengan mengingatkan pasangan calon yang nanti terpilih. Siapapun itu bahwa Nusa Penida adalah masih bagian dari Provinsi Bali sehingga keberadaannya harus menjadi perhatian serius pemimpin daerah, sehingga tidak muncul kata-kata disaat kampanye saja akan memperhatikan Nusa Penida tetapi setelah itu lupa, pura-pura lupa atau bahkan tidak menganggap ada Pulau Nusa Penida ini. Satu hal lain yang mungkin menjadi pengingat cagub dan cawagub Bali, Nusa Penida adalah the last frontier atau benteng pertahanan terakhir Pulau Bali baik dari skala (pemecah gelombang Samudra Hindia) maupun niskala (Ratu Gede Mas Mecaling) sehingga menjaga Nusa Penida adalah mutlak dan harus kalau Bali mau tetap terjaga. (Dana)