E-Learning, Peluang di Tengah Tantangan Persaingan Global

SINGARAJA, NUSA PENIDA POST

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja (Undiksha) kini terus menggeliat menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di tanah air. Sejak dirintis tahun 1955 lalu, Undiksha mengalami transformasi sejarah cukup panjang hingga perubahan status dari IKIP menjadi Universitas Pendidikan Ganesha (2006). Keberadaannya pun menjadikan Singaraja sebagai kota pendidikan namun tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Pesatnya perkembangan pengetahuan dan teknologi informasi seolah memaksa penyelenggaranya untuk berpacu lebih cepat. Penemuan teknologi baru yang dulunya sebatas mimpi, saat ini sudah bisa kita nikmati melalui lompatan yang tak biasa. Lalu, bagaimana Undiksha memandang hal tersebut sebagai perguruan tinggi pencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing?

E-learning (red; pembelajaran elektronik) menjadi salah satu terobosan dalam dunia pendidikan di tengah ketat persaingan global. Konsep pembelajaran inilah yang sedang coba diinisiasi melalui orasi ilmiah serangkaian Dies Natalis ke-XXII Undiksha yang dibawakan oleh Made Hery Santosa, S.Pd.,M.Pd.,Ph.d. Dalam paparannya, pembangunan kapasitas tidak saja meliputi penyiapan lulusan dengan cara memperoleh informasi, namun juga cara mereka merefleksi informasi di berbagai konteks baru. Perguruan tinggi secara terus menerus harus melakukan penyesuaian terhadap perubahan global. Pemanfaatan teknologi, termasuk e-learning untuk membantu siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi telah dimulai dengan integrasi ICT.

Made Hery Santosa, Ph.D ketika memaparkan orasi ilmiah di hadapan Senat pada Dies Natalis ke-22 Undiksha

Made Hery Santosa, Ph.D ketika memaparkan orasi ilmiah di hadapan Senat pada Dies Natalis ke-22 Undiksha

“Sungguh merupakan kehormatan dan penghargaan yang teramat tinggi dalam perjalanan karier akademis saya, karena pada saat Undiksha merayakan Dies Natalis ke-22 ini, saya berdiri di depan para hadirin untuk menyampaikan orasi ilmiah yang saya beri judul ‘E-Learning dan Undiksha: Peluang untuk Berdaya Saing Tinggi dan Berwawasan ‘Glocal’ dalam Pendidikan Abad 21,” ungkapnya pada sidang terbuka Senat, Jumat (16/1) lalu.

Sidang dihadiri langsung oleh pihak rektor dan jajaran, anggota Senat Undiksha, pejabat struktural, dosen serta pegawai berlangsung lancar. Hadir pula Pengurus Dharma Wanita Undiksha, Fungsionaris Lembaga Mahasiswa, Panitia Dies Natalis, undangan dan mahasiswa. Sidang berlangsung di Auditorium Kampus Tengah, Jalan Udayana, Singaraja..

Lulusan doktoral dari La Trobe University (2013) ini juga menambahkan, pendidikan tinggi kini dihadapkan pada pusaran kompetisi global yang menginginkan lulusannya siap mengisi kepentingan pasar, termasuk pasar global. Sebagai gambaran sederhana, lulusan universitas luar negeri jauh lebih siap untuk mengambil berbagai kesempatan kerja di Indonesia. Ketidaksiapan ini bisa menjadi bumerang yang otomatis menempatkan lulusan Indonesia di level bawah.

Namun, Bali secara tidak langsung memiliki keunggulan, masyarakatnya lebih dekat dengan perspektif dan konteks global. Pemahaman akan kearifan lokal yang sudah dimiliki ditambah perspektif global, sinergi ‘glocal’ ini akan membantu sumber dayanya berdaya saing lebih tinggi. Meski di satu sisi, sosial budaya, seperti rasa hormat, hirarki, pandangan akan pengalaman dan intuisi mampu membentuk karakter atau paling tidak mempengaruhi cara pandang seseorang. Namun jika dilakukan secara berlebihan, terutama di konteks pendidikan kekinian yang mengedepankan pemikiran kritis dan aktif, perspektif tersebut sangat mungkin mempengaruhi kualitas belajar individu.

Bagaimana menyiasati pandangan-pandangan yang sepertinya bertolak belakang tersebut? Jawabannya adalah teknologi. Dalam pendidikan abad 21, teknologi yang dimaksud yang bisa membantu peningkatan daya saing dan pemahaman global namun tetap mengakomodasi perspektif lokal adalah pemanfaatan secara efektif e-learning. E-Learning bisa mengakomodasi pembelajaran terus menerus tanpa batas ruang dan waktu,” imbuh Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini.

Pihaknya pun tidak menampik akan muncul pandangan berbeda, salah satunya kekhawatiran mahasiswa masuk pada konten terlarang, namun sebisanya hal tersebut disaring dengan sistem yang ada. Inisiatif dirasa efektif untuk membantu belajar interaktif dengan memanfaatkan teknologi. Mahasiswa bisa belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan beragam sumber informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik.

Pembelajaran dengan pemanfaatan e-learning sebagai penerapan teknologi mutakhir akan memberi lulusan Undiksha kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja dalam tim, membuat keputusan dan merefleksi diri. Mereka akan siap berkompetisi di level tertinggi, di segala bidang,” tegasnya lagi.

Berdasarkan wawancara dan informasi dari pihak Puskom, LP3, tim elearning dan pelaku e-learning di Undiksha, diketahui bahwa lembaga ini sudah siap melaksanakan. Fasilitas dan infrastruktur mencakup server, bandwith, dan platform sudah tersedia dan siap. Satu server khusus saat ini dinilai siap dan jika diperlukan bisa ditambah menjadi 2 server.

Ayah dari Putu Rachela Avenia Santosa ini  kembali menegaskan hal mendasar saat ini adalah sustainibilitas atau usaha mensosialisasikan, mengisi konten, melaksanakan, evaluasi dan refleksi yang terus menerus. Berkaca dari otonomi yang dimiliki oleh Undiksha sebagai sebuah universitas, peluang untuk menegosiasikan berbagai tantangan menjadi kesempatan sangat terbuka lebar. Kebijakan strategis yang memfasilitasi kepentingan universitas harus lebih bisa dikembangkan. Besarnya jumlah mahasiswa menjadi dorongan dan memberi potensi besar akan terwujudnya pemanfaatan e-learning.

Tidak mudah memang menciptakan tatanan baru, berbagai tantangan bermunculan. Berbagai isu perlu mendapat perhatian serius seperti konektivitas, infrastruktur, fasilitas penunjang, maupun manajemen masih kerap muncul. Peluang besar menanti mengingat hanya sedikit perguruan tinggi di Bali yang benar-benar memanfaatkan e-learning dan teknologi mutakhir secara masif, berdampak dan terintegrasi.

“Sinergi harmonis ‘glocal’ ini harus terus dijaga agar kita semua bisa berdaya saing tinggi. Undiksha sudah memiliki keunggulan status PT Negeri yang akan lebih dilirik oleh calon mahasiswa. Namun, jika keunggulan ini ditambah dengan fitur unggulan baru dan menarik seperti e-learning, niscaya Undiksha akan melejit lebih jauh lagi tidak saja dari segi kuantitas, namun juga kualitas,” tutupnya diakhir orasi.

Penulis: I Wayan Sumerta W. A & I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi