Dwi Noer Kumalasari: ‘Price War’ Menciptakan Persaingan Tidak Sehat

SAKTI, NUSA PENIDA POST

Camp Inspirasi Wirausaha Muda yang digelar serangkaian ulang tahun ke-4 Nusa Penida Media, Sabtu (24/12) lalu memunculkan berbagai isu sensitif terkait perkembangan pariwisata di kawasan Nusa Penida termasuk Lembonga dan Jungutbatu, tidak hanya masalah infrastruktur dasar yang kerap dianggap menyandera pembangunan, isu price war atau perang tarif juga dinilai menjadi ancaman internal. Hal ini terungkap dari paparan Dwi Noer Kumalasari selaku praktisi pariwisata yang juga mantan Business Development Manager di sales dan marketing department, InterContinental Bali Resort. Menurut Dwi, price war memicu persaingan tidak sehat dan saling menjatuhkan. Citra destinasi wisata pun akan rusak dan posisi tawarnya rendah.

Deretan akomodasi wisata di Pulau Lembongan

Price war itu menciptakan persaingan tidak sehat dan terkesan jadi wisata murahan. Ini juga akan memicu penurunan nilai-nilai barang, jasa, bahkan value dari perusahaan itu sendiri. Price integrity atas products and services dari sebuah perusahaan akomodasi juga akan hilang,” jelasnya dengan lugas.

Dwi menawarkan solusi jitu untuk menghindari perang tarif antar pengelola dengan membuat kesepakatan bersama dalam sebuah wadah organisasi. Pemberian nilai tambah ‘value adds’ dianggap lebih rasional dibanding menawarkan harga terendah yang hanya bertujuan memaksimal  pendapatan tetapi berpotensi merusak persaingan.

“Untuk menghindari perang tarif bisa dengan tidak menjual dengan harga dibawah cost price demi mendapatkan customer. Pelaku wisata juga bisa membuat kesepakatan bersama dengan para pelaku bisnis akomodasi untuk tidak menjual harga kamar di bawah ‘bottom price‘ yang disepakati. Cara lain lebih menawarkan ‘value adds‘ dari sebuah harga yang ditawarkan daripada menawarkan harga terendah hanya untuk maximising revenue tetapi killing the competition,” ungkap Dwi.

Selain perang tarif, peran pemasaran dan promosi juga dinilai berperan besar dalam meningkatkan jumlah wisatawan. Dwi menambahkan pemasaran dan promosi via internet memberi pengaruh signifikan dalam mendongkrak kunjungan wisatawan. Hasil review menunjukkan hampir 80% wisatawan mendapatkan informasi dari jaringan media sosial di internet. Saat ini wisatawan dunia didominasi generasi millennial yang lahir antara tahun 1980-an hingga 2000 dengan kecenderungan suka menjelajah. Kelompok ini memiliki karakteristik aktif di media sosial sehingga menjadi target pasar yang sangat potensial.

“Wisatawan sekarang lebih banyak didominasi generasi millennial, generasi 90-an, jumlahnya 75%. Generasi millennial itu mereka mendapat informasi 80%-nya dari internet. Untuk itu pemasaran berbasis internet menjadi sangat penting,” papar Dwi.

“Generasi millenial yang mendapat informasi melalui internet cenderung suka menjelajah. Nusa Penida cocok target pasar millennial karena daerahnya banyak terdapat obyek wisata untuk dijelajahi,” tambahnya.

Perang tarif ditengarai sering terjadi di sejumlah kawasan pariwisata dan tidak menutup kemungkinan di kawasan wisata Nusa Penida. Ada beragam penyebab pelaku wisata menawarkan tarif murah, selain menjamurnya akomodasi seperti hotel, villa,home stay ataupun guest house, rendahnya tingkat kunjungan wisatawan pada musim tertentu terutama low season juga menjadi pemicu. Ketidakseimbangan penawaran dengan permintaan membuat pengelola jor-joran menurunkan harga untuk menutupi biaya operasional. Jika tidak disikapi dengan baik bukan tidak mungkin akan menciptakan citra wisata kelas rendah.

Sejumlah pelaku wisata pun mendorong dibentuk asosiasi sebagai wadah bernaung sehingga ada standar dan kendali dalam pengelolaan secara bersama. Berdirinya berbagai akomodasi memang memunculkan wirausaha baru dan terbukanya lapangan kerja namun edukasi entrepreneurship dalam bisnis wisata harus tetap diberikan. Lembaga terkait pun seharusnya mengambil peran dalam menentukan arah perkembangan pariwisata, setidaknya menjadi fasilitator bukan membiarkan masyarakat membangun sendiri pariwisatanya.

Pemilik The Akah Cottage, Komang Suakarya menyebut perang tarif harus dihindari terutama pada musim sepi. Meski selama ini belum terjadi perang tarif terlalu terbuka, ia tetap mewanti-wanti pemilik akomodasi tidak berspekulasi dengan obral harga.

“Di Lembongan kami bersyukur tidak terjadi perang harga saat tamu sepi. Malah kami menaikkan harga secara bersama-sama saat tamu sepi sehingga bisa menutup biaya operasional. Untuk members yang telah menginap beberapa kali di tempat kami diberikan harga khusus,”  jelas Komang.

“Bentuk wadah organisasi dimana semua anggotanya harus tunduk pada aturan minimum harga per kelas. Itu yang paling efektif untuk menghindari perang tarif. Saat sebuah hotel menurunkan harga, saat itu martabat hotelnya sudah jatuh. Pengaruhnya akan besar ke review. Akan jadi pertanyaan buat tamu, apa yang terjadi dengan hotel ini? Apakah mereka colapse? Karena sebagian besar tamu akan terus mengikuti harga dari hotel favorit mereka,”tambahnya.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Gede Sumadi & I Komang Budiarta