Dua Desa Jadi Demplot Penanaman Padi Gogo

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Banyak pihak yang tidak percaya bahwa wilayah tandus Nusa Penida bisa ditanami padi mengingat tidak adanya sistem irigasi secara permanen. Meski kini padi tidak lagi dibudidayakan secara massal namun jejak sejarah menunjukkan bahwa hingga akhir 1970-an masyarakat masih menanam padi. Bukti itu terlihat dari keberadaan ‘jineng’ (red; lumbung) yang diperuntukkan untuk menyimpan hasil panen padi. Beberapa warga di Banjar Kelemahan, Desa Suana juga masih menanam padi hingga tahun 1990-an di tanah ‘asah’ (red; bidang tanah yang berada di lembah) bahkan hasil penelusuran Tim Nusa Penida Post tahun 2013 dan 2014 lalu, salah satu warga di Banjar Dlundungan, Desa Sekartaji tetap aktif menanam padi jenis gogo.

Warga di sejumlah wilayah masih menanam padi gogo meski dalam skala kecil

Warga di sejumlah wilayah masih menanam padi gogo meski dalam skala kecil

Pada masa jayanya, padi gogo atau yang lebih dikenal padi gage menjadi andalan pangan warga namun seiring perubahan iklim dan curah hujan, warga pun beralih menanam jagung. Tahun ini, Pemkab Klungkung lewat Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan memulai pilot project penanaman padi gogo. Tidak hanya merangkai kembali nostalgia lama tetapi untuk menjawab kerawanan pangan yang kerap melanda. Menurut Kadistanhutbun Klungkung, Wayan Durma, Desa Batumadeg dan Batukandik yang menjadi pusat percontohan dengan luas area tanam 1,5 hektar yang sudah ditanam pada Rabu (9/12) lalu. Seluruh bibit hingga penyuluhan difasilitasi oleh Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Klungkung termasuk pendampingan.

“Kita sudah lakukan penanaman di dua desa, kita lakukan penanaman di awal musim hujan. Percobaan penanaman padi gogo varietas unggul Situ Bagendil ditanam di lahan milik petani setempat,” kata Durma, Rabu (16/12).

Durma menjelask bila percobaan kali ini berhasil, maka proyek ini akan dilanjutkan dengan skala yang lebih besar. Sedangkan bila gagal, akan dicoba diulang sekali lagi pada musim hujan tahun mendatang. Pihaknya dipastikan akan terus memantau dan mengevaluasi kendala penanaman dan pemeliharaan. Jika berhasil, padi gogo akan dikembangkan setidaknya di 6 desa yakni Batukandik, Batumadeg, Bungamekar, Klumpu dan Sekartaji. Cuaca dan curah hujan yang tidak menentu dinilai berpengaruh besar terhadap keberhasilan penanaman hingga panen.

“Curah hujan tidak merata pada musim ini, peluang gagal menghantui. Tapi, tentu kita berharap berhasil. Hasil maksimal yang bisa dicapai per hektarnya mencapai 4 ton gabah, sedangkan bila ditanam di persawahan bisa menghasilkan 6 ton gabah,” paparnya.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi