Warning: Use of undefined constant ‘DISALLOW_FILE_EDIT’ - assumed '‘DISALLOW_FILE_EDIT’' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Dua Bade Iringi Ngaben Massal di Sebunibus
 

Dua Bade Iringi Ngaben Massal di Sebunibus

SEBUNIBUS, NUSA PENIDA POST
Warga Desa Pekraman Sebunibus, Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali menggelar upacara kremasi (ngaben) massal, Jumat, 30 Agustus 2013. Bertempat di kuburan setempat, upacara pitra yadnya atau yang lebih dikenal ngaben diikuti oleh 152 sawa (red; kerangka jenazah). Belasan di antaranya adalah korban tenggelamnya Kapal Motor Sri Murah Rezeki di perairan Jungut Batu pada 21 September 2011 lalu. Keseluruhan sawa yang di-aben tidak hanya berasal dari Sebunibus sendiri tetapi juga dari beberapa daerah seperti Banjar Cemulik, Banjar Bucang bahkan beberapa dari warga Nusa Penida yang tinggal di Kalimantan Timur, Palembang dan Lampung. “Saya ikut ngaben untuk keluarga saya yang meninggal di Palembang” terang Ni Gede Eka Indrayani (24) sambil memangku sesajen (30/8).

Ngaben massal di Sebunibus diiringi dua 'bade', Jumat, 30 Agustus 2013t

Ngaben massal di Sebunibus diiringi dua ‘bade’, Jumat, 30 Agustus 2013

“Persiapan dilakukan sejak sebulan yang lalu dan upacara pengabenan massal itu dipusatkan di kuburan Desa Pekraman Sebunibus,” tutur Ketua Panitia Ngaben missal, I Nengah Karat (55) yang juga Bendesa Desa Pekraman Sebunibus di sela-sela kesibukannya (30/8). Nengah juga menambahkan bahwa warga yang memiliki sawa terdiri atas dua kelompok seperti kelompok Kelod (red; barat) meliputi Banjar Kelod, Banjar Kauh, Banjar Anyar dan Ambengan Linggah menggunakan satu bade (red; pagoda besar) melibatkan 73 sawa sedangkan kelompok kaje terdiri dari Banjar Kaje dan Banjar Kangin menggunakan satu bade dengan 79 sawa. Selain  dua bade, ratusan perlambang lembu dan singa juga turut digunakan pada ngaben massal kali ini.

Semua warga terlibat secara penuh dalam persiapan ngaben massal tersebut dan setiap sawa yang dikremasi dikenakan biaya Rp 4.000.000. “Semua banjar bergabung menjadi satu di Desa Pekraman Sebunibus. Masyarakat sangat kompak untuk menggelar upacara ngaben secara bersama-sama seperti ini,” lanjut I Nengah Karat. Ngaben massal di Desa Pekraman Sebunibus merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap lima tahun sekali. Sementara Ketut Pesta (49) tokoh masyarakat Nusa Penida mengungkapkan ngaben massal bukan hanya soal ritual tetapi ada nilai tersendiri yang bisa dipetik.

“Ngaben menjadi lambang persaudaraan agung yang tumbuh dari rasa kebersamaan dalam ‘menyama beraya‘ (red; persaudaraan) antar sesama umat manusia sekaligus landasan kehidupan sehari-hari yang dijalani dan juga dijadikan sebagai sarana pengenalan budaya Indonesia, khususnya budaya Bali,” ungkap Ketut (30/8).

Reporter: Santana Ja Dewa