‘Dolar Nusa’ Legitnya Dodol Rumput Laut Sehat dan Kaya Manfaat

PED, NUSA PENIDA POST

Wilayah pesisir Nusa Penida dikenal sebagai salah satu penghasil rumput laut terbesar di Provinsi Bali. Rumput laut merupakan tumbuhan laut jenis alga. Tanaman ini adalah gangang multiseluler golongan divisi thallophyta. Luas wilayah budidaya yang mencapai 308 hektar mampu menghasilkan 500 ton rumput laut kering siap olah setiap tahunnya terutama jenis Eucheuma spinosum. Besarnya hasil produksi justru sering membuat petani digigit jari akibat ulah para spekulan nakal yang mengutak-atik harga. Petani pun dibuat tak berdaya mengingat tidak ada pilihan pengolahan lain, kecuali dijual meski harus rela dilepas dengan harga murah.

Rumput laut kini diolah menjadi panganan khas, dodol rumput laut, sehat dan kaya manfaat

Rumput laut kini diolah menjadi panganan khas, dodol rumput laut, sehat dan kaya manfaat

Kondisi ini ternyata memantik perhatian I Kadek Widada Asmara, pemuda asal Banjar Biaung,Desa Ped ini membuat inovasi kreatif dengan mengolah rumput laut menjadi dodol. Pengolahan ini ternyata mampu menambah nilai ekonomis ditengah merosotnya harga rumput laut. Ide kreatif ini mulai dirintis sejak 2013 lalu berkat bantuan dari Kementrian Pendidikan Tinggi lewat program wirausaha muda bagi mahasiswa. Diakuinya, dorongan membuat terobosan pengolahan rumput laut menjadi dodol adalah besarnya jumlah produksi namun hanya dijual begitu saja, nyaris tidak ada nilai tambah.

“Alasan utamanya ingin mengembangkan hasil alam lokal, karena selama ini rumput laut di Nusa Penida memiliki kualitas yang sangat baik tapi hanya dijual saja cuma kan harganya selalu tidak stabil dan dibawah rata-rata,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran Hewan tahun 2014 dari Universitas Udayana ini.

“Istilahnya mau open mind atau stimulus kepada masyarakat bahwa apa yang mereka hasilkan bisa bernilai ekonomis lebih. Banyak sekali lulusan sarjana justru tidak mau mengambil kegiatan yang tampak menengah ke bawah dan hanya mau di kantoran saja,” imbuh Kadek, Kamis (3/9).

Kadek Widada Asmara yang kini berprofesi sebagai dokter hewan mandiri di Puskeswan Nusa Penida mengakui bahwa pemasaran menjadi salah satu kendala selain minimnya peralatan terutama alat pengering dan packing. Lewat perjuangan panjang, Kadek mendapatkan bantuan dana dari Kementrian Koperasi dan UMKM setelah lolos pada lomba wirausaha yang diadakan salah satu stasiun televisi swasta. Kini wirausaha muda ini mulai mengembangkan jaringan bisnisnya dan ia pun mengaku tidak keberatan jika jejakny diikuti oleh warga lain.

Sebagian dari kita pasti pernah mencicipi dodol yang berbahan dasar tepung beras, namun patut dicoba juga legitnya dodol yang dibuat dari rumput laut. Cara pembuatan dodol rumput laut terbilang sangat sederhana dan tanpa bahan pengawet sehingga kandungan serat dan nutrisinya tetap terjaga. Rumput laut kering dibersihkan kemudian di-blender hingga halus dan berbentuk adonan. Selanjutnya, adonan dimasak dan diberi gula dan perasa makanan. Adonan yang telah matang dicetak sesuai dengan keinginan. Rasanya pun tak kalah dengan dodol pada umumnya bahkan justru memiliki keunggulan dari sisi kandungan nutrisi dan gizi serta kaya serat. Teksturnya mirip agar-agar dengan cita rasa khas rumput laut, legit lembut dan tentunya sehat tanpa bahan pengawet.

Mengkonsumsi rumput laut merupakan salah satu rahasia hidup sehat dan umur panjang bagi masyarakat Jepang. Rumput laut yang biasa disebut nori oleh orang Jepang, kaya akan vitamin, mineral, serat, omega 3 dan 6, kalsium, protein serta antioksidan. Kandungan vitaminnya pun hampir 500 kali lebih kuat daripada vitamin C bahkan 1 ons rumput laut, kandungan kollagennya setara dengan 2 keping sarang burung walet.

Penelitian juga menunjukkan rumput laut bisa membantu proses penyembuhan kanker dan luka dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Unsur seratnya juga diyakini mampu melancarkan pencernaan sehingga tepat untuk mengurangi kadar lemak dalam tubuh. Besarnya nutrisi kalsium mencegah osteporosis dan pengapuran serta meningkatkan metabolisme tubuh.

Reporter: I Gede Sumadi

Editor: I Komang Budiarta