Distribusi Air Seret, Tarif Justru Naik

NUSA PENIDA, NUSA PENIDA POST

Sulitnya mendapatkan air bersih sebenarnya masalah usang namun tak kunjung terselesaikan. Bisa dipastikan setiap musim kemarau warga menjerit kekurangan air bersih. Jika dikalkulasikan, sudah ribuan protes dan cibiran disampaikan warga meski minim tindak lanjut dari pihak terkait. Kondisi ini terus terulang setiap tahun ibarat penyakit musiman. PDAM sebagai instansi yang bertanggungjawab justru menganggapnya angin lalu, tak pelak kehidupan warga semakin terbebani. Warga di daerah pegunungan yang belum mendapat distribusi air pun harus membeli untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ternak.

Proyek pipanisasi mata air Peguyangan juga belum optimal bahkan ada isu santer beberapa titik pipa terjadi pencurian air. Jika dilihat dari sumber airnya, sejumlah mata air besar diyakini bisa memenuhui kebutuhan air seluruh masyarakat, sebut saja mata air Peguyangan, Penida, Temeling dan lainnnya. Kurangnya pemanfaatan membuat air ini terbuang ke laut. PDAM sepertinya tanpa daya dan membiarkan limpahan air terbuang sia-sia, di lain pihak teriakan warga akan kebutuhan air semakin nyaring. Dalam sebulan belakangan, keluhan warga semakin meningkat terkait seretnya distribusi air.

Mata Air Guyangan dengan debit air 120 liter per detik belum bisa dimanfaatkan optimal sehingga terbuang sia-sia

Mata Air Guyangan dengan debit air 120 liter per detik belum bisa dimanfaatkan optimal sehingga terbuang sia-sia

Sebehne he ibe ngelah yeh, coba to di Guyangan, Penida, Seganing, Temeling kelola, ajege kuangan yeh, kaluk bales. PDAM matol duang, coba hat pidante rencanang, masak 5 tahun tare nyidang, yen terus depin kadung kayang kemangkin pragat kuangan duang, jae ade unduk yeh te melahib bane mai,” (red; sebenarnya kita punya banyak sumber air, jika saja sumber air di Guyangan, Penida, Seganing dan Temeling dikelola, pasti tidak kekurangan air. PDAM hanya diam, seandaninya dari dulu ada perencanaan, pasti airnya sudah bisa mengalir, kalau terus dibiarkan, sampai kapan pun tetap kekurangan air, tidak mungkin air mengalir ke sini (rumah warga) dengan sendirinya),” celetuk warga dengan nada tinggi dalam obrolan di Poskamling Banjar Jurang Batu, Desa Suana (28/9).

Protes terhadap distribusi air juga muncul dari I Dewa Gede Sucarma yang menganggap PDAM tidak menjual air tetapi angin. Anehnya lagi, tagihan untuk pembayaran justru semakin naik ditengah layanan yang kecrat-kencrit. Sucarma mengaku sangat kecewa dengan layanan PDAM.

“Sudah sebulan terakhir aliran air tersendat-sendat meski sering terjadi tetapi tidak separah ini. Jangankan memenuhi kebutuhan secara penuh, untuk mandi saja susah. Tetapi gini, pembayaran air meningkat. Kami tidak masalah dalam membayar, setidaknya mesti imbangi dengan pelayanan dari pihak PDAM,” tuturnya (29/9).

“Selama ini PDAM juga memungut biaya pemeliharaan dan yang menjadi pertanyaan kami selaku masyarakat, kok bisa? Padahal kami sudah membayar retribusi bulanan. Setahu saya sudah ada subsidi dari Pemprov Bali, seharusnya PDAM meraup keuntungan dan bisa dipakai untuk penambahan alat atau apalah bukan malah merugi. Kalau memang tidak becus mengelola PDAM sebaiknya pengurusnya mundur saja,” keluh Sucarma.

Reporter : Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi