Dihantam Gelombang, Jukung Nelayan Terbalik

SUANA, NUSA PENIDA POST

Hembusan angin kencang yang sudah berlangsung selama sasih karo sejak awal Agustus membuat aktivitas nelayan terganggu bahkan aktivitas penyeberangan pun beberapa kali menerapkan sistem buka tutup. Dalam kalender Bali, sasih karo (red; musim dingin dengan angin kencang) identik dengan cuaca ekstrim terutama di perairan. Nelayan yang memaksa melaut harus berhadapan dengan gelombang tinggi dan arus kuat.

Nasib kurang beruntung dialami oleh nelayan, I Made Darma asal Karangsari, Desa Suana. Nelayan yang melaut beberapa mil dari garis Pantai Suana dihantam gelombang tinggi (7/8). Darma biasanya menangkap ikan dengan jukung (red; sampan yang dilengkapi penyeimbang) yang digerakkan mesin tempel dan layar. Kuatnya terjangan ombak membuat perahu yang digunakan patah pada kantih (red; penyeimbang dari bambu) dan perahu pun terbalik.

Warga mengevakuasi jukung nelayan yang terbalik akibat dihantam gelombang tinggi

Warga mengevakuasi jukung nelayan yang terbalik akibat dihantam gelombang tinggi

Menurut penuturan keluarga, setelah perahu terbalik, Darma berusaha berenang dengan meraih serpihan penyeimbang dari bambu. Beruntung, nelayan yang sudah berpengalaman ini tetap tenang dan berenang ke arah pantai selama hampir tiga jam. Ia akhirnya selamat dan mendarat di Pantai Karangsari sementara perahu terseret arus ke arah barat, tepatnya di dekat Pelabuhan Tradisional Mentigi.

I Ketut Suweca, warga yang melihat perahu terbalik dan terbawa arus mengaku terkejut dan langsung meminta warga lain untuk melakukan evakuasi. “Terkejut tiang liat jukung terbalik, langsung tiang informasikan ke warga lain agar membantu membawa jukung ke darat,” tutur Suweca, Kamis (7/8).

Informasi terbaliknya perahu nelayan tersebar dengan cepat, Darma yang mengetahui perahunya terdampar langsung ke lokasi namun enggan diwawancarai karena kondisinya masih mengggigil dan kedinginan. Informasi yang diperoleh, kerugian diperkiran sekitar Rp 25.000.000. Hampir semua peralatan memancing tumpah termasuk satu unit  mesin tempel yang belum ditemukan.

Reporter: Santana Ja Dewa

Editor: I Gede Sumadi