Warning: Use of undefined constant ‘DISALLOW_FILE_EDIT’ - assumed '‘DISALLOW_FILE_EDIT’' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/npm2017/public_html/wp-config.php on line 36
Nusa Penida Media | Dermaga Gunaksa Mangkrak, Harga Barang Menanjak
 

Dermaga Gunaksa Mangkrak, Harga Barang Menanjak

KORAN NPP 27

Untuk download Nusa Penida Post Vol 27 klik gambar di atas!

GUNAKSA, NUSA PENIDA POST
Dermaga Gunaksa yang digadang menjadi dermaga penyanding terancam mangkrak dan gagal. Alhasil distribusi barang yang hanya mengandalkan Pelabuhan Padang Bai tidak berjalan optimal. Antrian kendaraan yang memuat barang dari dan menuju Nusa Penida hanya bisa menyeberang dua kali dalam sebulan. Kondisi ini memicu harga barang di Nusa Penida menanjak.

Dermaga Gunaksa mulai dibangun pada tahun 2008. Dermaga ini terletak 5 kilometer ke arah timur Kota Semarapura, tepatnya di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung. Dermaga Gunaksa direncanakan selesai 2012. Dermaga ini digadang-gadang menjadi penyanding Dermaga Nusa Penida yang sampai saat berita ini diturunkan masih belum selesai. Kini Dermaga Gunaksa mangkrak dan malah dibeberapa bagiannya rusak, termasuk hancurnya break water yang dipasang. Ketidakpastian penyelesaian dermaga Gunaksa menyebabkan penyeberangan dari dan menuju Nusa Penida masih melalui Dermaga Padang Bai. Penyeberangan Kapal Roro dari Dermaga Padang Bai ke Nusa Penida hanya sekali dalam sehari. Ini dikarenakan padatnya jadwal berlabuh kapal-kapal dari Pelabuhan Lembar, Lombok Barat ke Bali atau sebaliknya. Sementara Dermaga Gunaksa yang diharapkan rampung tahun 2012 tak kunjung selesai bahkan tanpa kejelasan sampai saat ini.

Pelabuhan Gunaksa yang sampai saat ini realisasinya belum jelas padahal menelan anggaran puluhan miliar

Pelabuhan Gunaksa yang sampai saat ini realisasinya belum jelas padahal menelan anggaran puluhan miliar

PETA darmaga gunaksa

Peta lokasi Darmaga Gunaksa ke Darmaga Nusa Penida

Minimnya jumlah trip penyeberangan menyebabkan arus barang dan jasa menuju Nusa Penida menjadi mahal. “Kami bisa menyeberang membawa barang 15 hari sekali atau satu bulan hanya dua kali,” tutur I Nyoman Dana (30) yang dihubungi via telpon (3/6). Lebih lanjut sopir truk asal Desa Glagah, Nusa Penida ini mengungkapkan harus meninggalkan truknya di areal parkir Goa Lawah. Area ini dijadikan tempat mangkal bagi truk-truk yang akan menuju Nusa Penida. Diakuinya, ketika mendapat giliran menyeberang ia akan dibantu temannya yang masih ada di Goa Lawah untuk menaikkan truknya ke Kapal Roro. Ini dilakukan untuk menghemat biaya  operasional ketimbang menunggu giliran dan tinggal di Goa Lawah. Biaya tambahan untuk parkir dan tarif menitipkan barang menjadi sangat tinggi selama menunggu giliran  penyeberangan belum lagi biaya konsumsi. Secara tidak langsung ini akan berimbas pada mahalnya biaya angkut dan operasional yang ujung-ujungnya berpengaruh pada naiknya harga barang sekitar 20% dari harga normal.

Senada dengan hal itu, sopir truk dari Banjar Bodong, Ped, Komang Rai Agus (34 tahun) menceritakan banyaknya jumlah armada truk yang mencapai 130 buah menyebabkan antrian panjang menumpuk di Nusa Penida maupun di area Goa Lawah. “Organda Nusa Penida sudah berungkali mengusulkan penambahan jumlah Kapal Ro-ro tetapi hasilnya nihil,” ujarnya lirih (3/6). Rai Agus juga mengungkapkan Dermaga Gunaksa yang mangkrak sebagai biang keladi antrian panjang truk dan penyeberangan lainnya sehingga hal ini yang menyebabkan biaya penyeberangan bertambah. Terlebih adanya kenaikan bahan bakar minyak, harga barang-barang di Nusa Penida menanjak drastis.

Pria 34 tahun ini berharap agar pemerintah cepat merealisasikan Dermaga Gunaksa yang selama ini masih terkatung-katung pengerjaannya. Gagalnya realisasi Dermaga Gunaksa akan memupus harapan warga Nusa Penida yang menginginkan lancarnya jalur transportasi menuju pulau mereka. Padahal mahalnya harga barang yang didatangkan dari Pulau Bali khususnya sembako dan barang bangunan telah dilakoni berpuluh-puluh tahun oleh warga Nusa Penida. Demikian pula menjual barang-barang yang dihasilkan dari Nusa Penida lebih murah harganya, karena harus dipotong biaya transportasi yang tinggi dan cuaca yang juga kerap tidak bersahabat. (Sukadana)